View Full Version
Rabu, 19 Jul 2017

Pentingnya Doa Agar Amal Diterima

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)

_______________________________________________________________

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Doa ini adalah salah satu doa-doa Nabi Ibrahim yang diabadikan di Al-Qur'an. Doa penuh berkah yang mencakup permintaan agung yang sangat dibutuhkan hamba untuk keselamatan dan kebahagiaan hidupnya; dunia dan akhirat. Yaitu minta kepada Allah agar menerima amal-amalnya.

Ketika Khalilur Rahman dan puteranya membangun kembali Ka’bah, keduannya berdoa kepada Allah agar menerima amal ibadah yang agung ini.  keduanya berdoa,

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)

Disebutkan kisah keduanya di Shahih al-Bukhari,

ثُمَّ إِنَّهُ بَدَا لِإِبْرَاهِيمَ فَقَالَ لِأَهْلِهِ إِنِّي مُطَّلِعٌ تَرِكَتِي فَجَاءَ فَوَافَقَ إِسْمَاعِيلَ مِنْ وَرَاءِ زَمْزَمَ يُصْلِحُ نَبْلًا لَهُ فَقَالَ يَا إِسْمَاعِيلُ إِنَّ رَبَّكَ أَمَرَنِي أَنْ أَبْنِيَ لَهُ بَيْتًا قَالَ أَطِعْ رَبَّكَ قَالَ إِنَّهُ قَدْ أَمَرَنِي أَنْ تُعِينَنِي عَلَيْهِ قَالَ إِذَنْ أَفْعَلَ أَوْ كَمَا قَالَ قَالَ فَقَامَا فَجَعَلَ إِبْرَاهِيمُ يَبْنِي وَإِسْمَاعِيلُ يُنَاوِلُهُ الْحِجَارَةَ وَيَقُولَانِ  رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“...Kemudian timbul lagi keinginan pada diri Ibrahim, maka dia berkata kepada keluarganya ingin mengunjungi Ismail. Kemudian Ibrahim datang dan bertemu Isma'il dari balik (sumur) Zamzam sedang memperbaiki panahnya. Lalu ia berkata, "Wahai Isma'il, sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan aku agar membangun rumah". Isma'il berkata; "Taatilah Rabbmu". Ibrahim berkata lagi; "Sesungguhnya Dia telah memerintahkan aku agar kamu membantu aku dalam pembangunan rumah yang dimaksud". Isma'il berkata; "Kalau begitu aku akan lakukan", atau seperti yang dikatakannya.

Perawi berkata; Maka keduanya mulai membangun. Ibrahim yang membangun sedangkan Isma'il membawa bebatuan seraya keduanya membaca do'a;

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)

Keduanya terus saja membangun hingga mengelilingi Baitullah dan keduanya terus saja membaca do'a tersebut. (HR. Al-Bukhari, no. 3365)

Perhatikan! Keduanya membangun kembali rumah Allah Ta’ala yang paling mulia dengan izin Rabbnya. Dalam mengerjakan amal yang sangat agung ini keduanya senantiasa meminta agar amal mereka diterima oleh Allah. Rasa takut sekaligus roja’ (pengharapan) memenuhi jiwa mereka. Takut kalau amal tersebut rusak sehingga tidak diterima. Roja’, senantiasa berharap kepada Allah agar membantu mereka untuk ikhlas dalam amal sehingga amal tersebut Allah terima.

Wuhaib Ibnul  Warad, setelah ia membaca ayat,

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".” (QS. Al-Baqarah: 127) maka ia menangis. Lalu berkata, “Wahai Khalilur Rahman, engkau meninggikan pondasi-pondasi Baitur Rahman sementara engkau sangat merasa khawatir kalau tidak diterima amal itu darimu? (Tafsir Ibnu Katsir: I/254)

Kondisi ini sama persis dengan yang Allah kisahkan tentang kondisi orang-orang beriman yang ikhlas dalam firman-Nya,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mukminun: 60)

Maksudnya: mereka senantiasa mengeluarkan sedekah, infak, nafkah, dan bantuan-bantuan. Kondisi hati mereka dengan banyaknya amal-amal terebut dipenuhi rasa takut. Yaitu takut kalau Allah tidak menerima amal-amal mereka.

Diriwayatkan dari 'Aisyah Radliyallaahu 'Anha berkata, “Aku telah bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam tentang ayat ini, apakah mereka orang-orang yang minum khamer, pezina, dan pencuri? Beliau  menjawab, “Tidak, wahai putri al-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, menunaikan shalat dan shadaqah namun mereka takut kalau amalnya tidak diterima.” (HR. Al-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad. Dishahihkan Syaikh al-Albani)

Kata “Taqabbal Minnaa” meminta agar Allah menerima amal dari kami. Qabul (menerima) adalah mengambil sesuatu dan meridhainya. Allah Subahanahu wa Ta'ala mau mengambil (menerima) amal dan meridhainya. Kemudian Allah meridhai pelakunya. Apabila Allah meridhai pelaku amal maka Allah akan memberikan pahala yang telah Dia janjikan kepadanya.

Doa ini ditutup dengan dua nama Allah yang Maha Indah, السَّمِيعُ الْعَلِيمُ(Maha mendengar dan maha mengetahui). Maksudnya: Ya Allah, Engkau mendengar semua ucapan kami; di antaranya doa kami ini.

Al-‘Alim; Engkau mengetahui semua yang ada dalam diri kami berupa ketundukan dan ketaatan dalam perkataan dan perbuatan. Tidak ada yang tersembunyi bagi-Mu apa saja yang ada dalam hati kami.

Disebutkannya dua sifat “mendengar dan mengetahui” ini menunjukkan bahwa doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail –‘Alaihimash Sholatu Wassalam- hanya ditujukan kepada Allah semata dan memutus harap dari selain-Nya.

. . . Apabila Allah meridhai pelaku amal maka Allah akan memberikan pahala yang telah Dia janjikan kepadanya. . .

Penutup

Diterimanya amal shalih yang kita kerjakan adalah sesuatu yang sangan penting. Setiap kita wajib merasa butuh kepadanya. Karena amal yang mendatangkan manfaat bagi pelakunya adalah yang diterima oleh Allah Subahanahu wa Ta'ala.

Diterimanya amal seorang hamba berkisar kepada keikhlasan dan kesuaian amal tersebut dengan syariat suci yang dibawa utusan Allah.

Seorang hamba wajib menghadirkan rasa khouf (takut) dan roja’ (harap) saat melaksanakan ibadah kepada Allah. Laksana dua sayap burung; salah satunya tidak boleh lebih dominan dari selainnya.

Rasa takut tidak boleh lebih dominan sehingga menyebabkan dirinya berputus asa. Rasa roja’ juga tidak boleh mengungguli dari rasa takut sehingga ia menjadi tertipu dan merasa amal dari makar Allah Ta’ala (rencana tersembunyi Allah).

. . . amal yang mendatangkan manfaat bagi pelakunya adalah yang diterima oleh Allah Subahanahu wa Ta'ala. . .

Seorang hamba wajib selalu meminta kepada Allah agar menerima amal-amalnya setelah selesai mengerjakan ibadahnya. Di antaranya dengan membaca doa ini. Bisa juga dengan doa lain yang bersumber dari sunnah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.  Beliau membaca setelah shalat Shubuh,

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

Ya Allah, Sungguhakumintakepada-Mu ilmu yang manfaat, rizki yang baik, danamal yang diterima.” (HR. Ahmad, IbnuMajah)

Bisa juga dengan doa-doa lain dengan bahasa Arab atau non Arab di doa-doa mutlak. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Share this post..

latestnews

View Full Version