

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah dan keluarganya.
Zikir dan doa sering disebut beriringan. Baik dalam bentuk mufrad (tunggal) maupun Jama’ (plural). Karenanya keduanya memiliki keterkaitan makna yang sangat erat. Doa mengandung makna zikir. Demikian pula sebaliknya, zikir juga mengandung makna doa (permintaan).
Kitab "Al-Du'a" karya Imam Al-Thabarani pun mencakup berbagai macam zikir. Para ahli fikih (fuqaha) juga menyebut zikir-zikir di dalam shalat sebagai "doa-doa". Mereka berkata—seperti Ibnu Bathah—: "Ada doa yang bentuknya berupa pujian (tsana') kepada Allah, dan ada doa yang bentuknya berupa permintaan (mas'alah) bagi hamba..."
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah memberikan penjelasan yang sangat mendalam dan filosofis (dikutip dari kitabnya, Jami' al-Masa'il):
كُلُّ وَاحِدٍ مِنْ اِسْمَيِ (الذِّكْرِ) وَ(الدُّعَاءِ) يَتَنَاوَلُ الْآخَرَ، فَالدَّاعِي لِلهِ ذَاكِرٌ لَهُ، وَهَذَا ظَاهِرٌ، وَالذَّاكِرُ لِلهِ دَاعٍ لَهُ أَيْضًا
"Masing-masing dari kedua istilah, yaitu (Al-Dzikr/Zikir) dan (Al-Du'a/Doa), saling mencakup satu sama lain. Maka, orang yang berdoa kepada Allah adalah orang yang sedang berzikir (mengingat) kepada-Nya—dan ini sudah jelas. Sebaliknya, orang yang berzikir kepada Allah juga merupakan orang yang sedang berdoa kepada-Nya."
Beliau memberikan contoh lafadz zikir (pujian dan sanjungan) yang hakikatnya juga mengandung permohonan kepada Allah.
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya: Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yang disebutkan dalam hadits sebagai doa terbaik pada hari Arafah, padahal bentuknya adalah pujian dan pengagungan kepada Allah.
Contoh kedua, doa saat tertimpa kesulitan (al-karb) adalah:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
Artinya: Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan Arsy yang agung. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan langit, Tuhan bumi, dan Tuhan Arsy yang mulia.
Menurut beliau, ketika seseorang memuji Allah dan menyebut sifat-sifat-Nya, ia sebenarnya sedang menunjukkan kebutuhan dan ketergantungannya kepada Allah. Karena itu, pujian tersebut sekaligus mengandung makna permintaan.
Sebagaimana seorang miskin berkata kepada orang kaya: “Engkau orang yang dermawan, sedangkan aku orang yang membutuhkan.”
Secara bahasa itu adalah kalimat berita, tetapi semua orang memahami bahwa maksudnya adalah meminta bantuan.
Ketiga, Dan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam : Doa Dzun Nuun (Nabi Yunus):
لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”Tidak ada seorang mukmin yang mengucapkannya kecuali Allah akan menghilangkan kesusahan yang menimpanya.
Penggunaan istilah Doa untuk makna Pujian dan Zikir kepada Allah, didasari oleh beberapa alasan, di antaranya:
Bahwa orang yang memuji (Allah) sebenarnya sedang mengharapkan rahmat Allah berupa datangnya manfaat dan tertolaknya mudarat. Maka, secara kondisi/sikapnya (hal) ia adalah orang yang meminta, meskipun secara ucapan/lisan (qaul) ia adalah orang yang memuji. Ini adalah jawaban dari Sufyan bin Uyainah...
Hakikat dari hal tersebut adalah: Bahwa pujian yang dilandasi oleh makrifat (pengenalan) tentang sifat-sifat Allah yang diminta, keberadaan-Nya, dan rahmat-Nya, akan melahirkan rasa bersandar, rasa butuh, dan rasa berharap yang sangat besar kepada-Nya. Hal ini jauh lebih agung (efeknya) daripada sekadar meminta (berdoa biasa) yang kosong dari makrifat dan kondisi hati seperti itu.
Begitu pula dari sisi Allah (Sang Pemberi). Pengetahuan Allah tentang kondisi hamba yang diberi, serta sifat-sifat kelayakannya (untuk dibantu), menjadi sebab Allah memberinya anugerah yang lebih agung daripada sekadar meminta dengan lisan.
Oleh karena itu, sekadar menampakkan kefakiran, kemiskinan, kebutuhan, dan keadaan darurat di hadapan Allah, itu jauh lebih mendalam (baligh) daripada meminta sesuatu yang spesifik.
Maka, tindakan hamba mengabarkan tentang kondisi dirinya (yang lemah), mengakui, dan berserah diri; nilainya setara dengan tindakannya mengabarkan sifat-sifat Tuhannya, memuji, dan menyanjung-Nya.
Pujian dan pengabaran (tentang sifat Allah); seluruh redaksinya berbentuk kalimat berita (khabar), namun maknanya adalah permohonan dan permintaan (thalab wa su'al). Ini secara adat kebiasaan bahasa (hakikat urfiyyah).
Contohnya seperti seorang anak yang berkata kepada ayahnya: "Aku lapar" (artinya dia minta makan, tanpa perlu mengucapkan kata "minta").
Bahwa Orang yang memuji Allah, dengan modal pujiannya itu, secara otomatis sudah menjadi peminta lewat kondisinya (sa'ilun bi halihi). Ia menggabungkan antara Pujian secara Ucapan (Tsana' Qauli) dan Permintaan secara Kondisi (Su'al Haaliy). Dia memang sengaja memaksudkan "pujian" sekaligus "permintaan". Wallahu a’lam. [PurWD/voa-islam.com]