View Full Version
Jum'at, 11 Sep 2026

Bolehkah Berdoa dan Berdzikir Setelah Iqamah Sebelum Takbir?

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam.  Shalawat dan salam atas Rasulillah, keluarga dan para sahabatnya.

Sebagian kaum Muslimin memiliki kebiasaan membaca dzikir tertentu setelah iqamah dan sebelum imam melakukan takbiratul ihram. Di antaranya ucapan:

دَائِمًا وَأَبَدًا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ، عَلَيْهَا نَحْيَا، وَعَلَيْهَا نَمُوتُ، وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Selamanya dan untuk selama-lamanya, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, Muhammad adalah Rasulullah. Di atas kalimat ini kami hidup, di atasnya kami mati, dan di atasnya pula kami dibangkitkan, insya Allah.

Lantas, apakah bacaan tersebut merupakan sunnah Nabi ﷺ? Apakah ada tuntunan khusus untuk berdoa setelah iqamah sebelum takbiratul ihram?

Menjawab Iqamah Sebagaimana Menjawab Adzan

Pada dasarnya, ketika mendengar iqamah, seorang Muslim dianjurkan menjawab dan mengikuti ucapan muqim (orang yang mengumandangkan iqamah) sebagaimana menjawab adzan.

Ketika muqim mengucapkan:

حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ

maka orang yang mendengarnya mengucapkan:

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Adapun ketika muqim mengucapkan:

قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ

maka pendengar mengucapkan hal yang sama.

Tidak disyariatkan menambahkan bacaan-bacaan tertentu yang tidak memiliki dasar dari Nabi ﷺ.

Termasuk ucapan أَقَامَهَا اللَّهُ وَأَدَامَهَا (“Semoga Allah menegakkannya dan melanggengkannya”) ketika mendengar qad qamatis-shalah. Para ulama menjelaskan bahwa hadits yang menjadi dasar ucapan tersebut lemah.

Bershalawat dan Membaca Doa Setelah Iqamah

Sebagian ulama berpendapat bahwa setelah iqamah, seseorang juga disyariatkan bershalawat kepada Nabi ﷺ dan membaca doa sebagaimana setelah adzan.Di antara doanya:

. . . اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ

Hal ini karena iqamah termasuk bentuk adzan.

Namun, tidak terdapat dalil sahih yang menunjukkan adanya doa khusus antara selesainya iqamah dan takbiratul ihram selain bacaan yang telah disebutkan.

Bolehkah Berdoa Sebelum Takbir?

Jika seseorang ingin berdoa secara umum antara iqamah dan takbiratul ihram, pada dasarnya tidak mengapa. Para ulama Hanabilah menjelaskan bahwa berdoa pada waktu tersebut hukumnya boleh, tetapi tidak dikatakan sebagai sunnah yang dianjurkan secara khusus.

Karena itu, seseorang tidak semestinya menetapkan bacaan tertentu sebagai amalan rutin setiap kali selesai iqamah.

Al-Buhuti رحمه الله berkata dalam Kasyaf Al-Qina' (1/327):

وليس بين الإقامة والتكبير دعاء مسنون، نصاً. قيل لأحمد: قبل التكبير تقول شيئا؟ قال: لا؛ إذ لم ينقل عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن أصحابه، ولأن الدعاء يكون بعد العبادةلقوله تعالى: فإذا فرغت فانصب. وإلى ربك فارغب [الشرح: 7، 8].

“Tidak ada doa yang disunnahkan secara khusus antara iqamah dan takbir. Imam Ahmad pernah ditanya: ‘Apakah sebelum takbir kita membaca sesuatu?’ Beliau menjawab: ‘Tidak.’ Sebab, hal itu tidak dinukil dari Nabi ﷺ maupun para sahabatnya.

Selain itu, doa dilakukan setelah suatu ibadah, berdasarkan firman Allah Ta'ala:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ ۝ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ

‘Apabila engkau telah selesai, maka bersungguh-sungguhlah (dalam beribadah). Dan hanya kepada Rabb-mulah hendaknya engkau berharap.’ (QS. Asy-Syarh: 7–8).”

Masih dari penjelasan al-Bahuti, “Dari sini dapat diketahui bahwa perkataan para ulama dalam pembahasan adzan, ‘berdoa ketika iqamah’, maksudnya adalah sebelum iqamah atau mendekati waktu iqamah, bukan setelah iqamah, sehingga kedua pernyataan tersebut dapat dipadukan.

Namun, apabila seseorang berdoa antara iqamah dan takbir, maka tidak mengapa. Hal itu pernah dilakukan oleh Imam Ahmad, bahkan beliau mengangkat kedua tangannya.” Selesai kutipan.

Termasuk bacaan yang tidak disyariatkan secara khusus adalah

دَائِمًا وَأَبَدًا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ، عَلَيْهَا نَحْيَا، وَعَلَيْهَا نَمُوتُ، وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Artinya: Selamanya dan untuk selama-lamanya, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, Muhammad adalah Rasulullah. Di atasnya kami hidup, di atasnya kami mati, dan di atasnya kami dibangkitkan...”

Jika seseorang mengucapkannya sesekali sebagai doa, tanpa meyakininya sebagai sunnah khusus setelah iqamah, maka tidak mengapa.

Namun, apabila bacaan tersebut dibiasakan dan diyakini sebagai amalan khusus setelah iqamah, padahal tidak ada tuntunan dari Nabi ﷺ, maka hal itu tidak dibenarkan.

Sebab, menetapkan suatu dzikir atau doa pada waktu tertentu secara rutin membutuhkan dalil dari syariat.

Ikutilah Sunnah, Jangan Menambah-nambah

Ibadah tidak dibangun berdasarkan perasaan baik semata. Sebuah bacaan mungkin mengandung makna yang benar dan baik, tetapi ketika ditetapkan sebagai dzikir khusus pada waktu tertentu, harus ada tuntunannya dari Rasulullah ﷺ.

Maka, setelah iqamah, hendaknya kita mencukupkan diri dengan tuntunan yang telah ada: menjawab iqamah, bershalawat kepada Nabi dan membaca doa yang disyariatkan, kemudian mempersiapkan diri untuk melaksanakan shalat.

Jangan sampai keinginan memperbanyak dzikir justru membuat kita menetapkan amalan yang tidak pernah diajarkan Rasulullah ﷺ.Wallahu a'lam bish-shawab. [PurWD/voa-islam.com] 


latestnews

View Full Version