View Full Version
Kamis, 10 Dec 2009

Melongok ''Kampung Janda'' Rawagede yang Gugat Pemerintah Belanda

NISAN-NISAN makam dari bahan marmer putih itu tampak teduh di bawah pohon asem jawa, serut, dan kosambi. Rindang daun pepohonan itu membuat makam tersebut terhindar dari terik matahari. Di pintu masuk tertera tulisan Sampurna Raga. Burung-burung bergerak lincah dari satu dahan ke dahan lain sambil sesekali berkicau.

"Bulan-bulan ini sepi. Tidak ada yang berkunjung," ujar Djunaedi, 65, penjaga makam. Sehari-hari dia merawat dan membersihkan makam korban peristiwa Rawagede yang terletak di Desa Balongsari, Kecamatan Rawamerta, itu.

"Biasanya, pejabat atau orang-orang gede dari Jakarta datang bulan Desember," sambung Djunaedi. Kompleks makam itu menjadi satu dengan monumen peringatan peristiwa Rawagede yang Desember mendatang genap 61 tahun berlalu.

Untuk menggambarkan kepiluan warga Rawagede saat itu, di dalam bangunan monumen berbentuk kuncup melati ada sebuah patung ibu sedang memeluk dua anaknya. Ada juga diorama tiga tentara NICA (Nederlands Indies Civil Administration) yang sedang menembaki lima orang lelaki.

"Saat itu kejam sekali. Tidak ada yang diberi ampun. Ditembak sekali, jatuh, lalu ditembak lagi," ujar Saih, seorang saksi mata...

"Saat itu kejam sekali. Tidak ada yang diberi ampun. Ditembak sekali, jatuh, lalu ditembak lagi," ujar Saih, seorang saksi mata yang rumahnya tepat di sisi barat makam.

Kakek lima cucu berusia 85 tahun itu satu-satunya lelaki yang berhasil lolos dari peristiwa tersebut. Saat kejadian Saih berusia 24 tahun, ingatannya masih tajam. Karena itu, setiap peringatan ulang tahun kemerdekaan RI pada Agustus, dia selalu didaulat warga bercerita tentang kejadian yang membuat banyak wanita di kampungnya menjadi janda itu. "Saya ingat, waktu tanggal 9 Desember 1947 hari Senin. Hujan turun sejak habis Magrib," tuturnya.

Sungai Rawagede yang terletak di selatan desa meluap. Akibatnya, sejak Subuh, warga desa yang hampir seluruhnya petani turun ke sawah masing-masing untuk memeriksa tanaman padi. Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras. "Ada lima kali, lalu tembakan berkali-kali," katanya.

Rupanya, Belanda telah mengepung desa. Mereka melokalisasi Rawagede karena menduga desa ini digunakan sebagai tempat persembunyian gerilyawan TKR (Tentara Keamanan Rakyat). "Mereka menangkap semua laki-laki yang tingginya di atas ini," kata Saih sambil tangannya menempel dada.

Rawagede yang sejak dulu menjadi lumbung padi di Karawang saat itu memang dijadikan markas gabungan para pejuang kemerdekaan. Laskar-laskar seperti Barisan Banteng, Macan Citarum, Hisbullah, dan SP 88 mempunyai markas di sini.

Rawagede dipilih karena strategis. Lokasinya dekat stasiun kereta api yang menghubungkan Karawang dengan Rengasdengklok. Selain itu, penduduk di Rawagede akrab dengan pejuang. Mereka banyak memberikan bantuan logistik. Panen padi di Rawagede terkenal selalu sukses menghasilkan gabah berton-ton. Hingga sekarang, daerah ini tetap terkenal subur.

Para Penduduk lokal sedang menunggu giliran dieksekusi oleh Para KNIL

Menurut Saih, Belanda saat itu mencari seorang kapten TKR, Lukas Kustario. Dia adalah komandan Resimen Cikampek atau yang dikenal juga sebagai Resimen 6. Lukas sudah sangat dikenal sebagai orang yang melakukan perlawanan sengit terhadap Belanda di sekitar Karawang sampai Cikampek. "Saya lari dan sembunyi di pinggir kali. Tapi, Belanda membawa anjing pelacak. Semuanya ditangkap," ujarnya.

Puluhan orang dibariskan di jalan. Bersama sang ayah, Saih juga ditodong dengan senjata sambil ditanya. "Mana Lukas? Mana Lukas?" tutur Saih, menirukan tentara Belanda itu.

Semua bungkam. Ayah Saih dipukul tentara Belanda dengan popor senjata, lalu disuruh jongkok. Setelah itu ditembak dari belakang. "Kami semua ditembak, saya juga kena di sini," kata Saih sambil tangannya meraba punggung sebelah kiri.

"Saya jatuh. Tapi, saya masih sadar, berlindung di bawah mayat-mayat lainnya. Belanda masih belum puas dan menembaki mayat-mayat," ujarnya. Pada tembakan yang kedua, Saih terserempet di lengan kiri.

Sembari pura-pura terus mati, Saih mendengar jelas rentetan tembakan berulang-ulang dari semua sudut desa. Karena masih gerimis dan jalanan becek sisa hujan lebat semalam penuh, darah mengalir ke mana-mana. "Saya tidak berani bergerak sampai sebelum Magrib," katanya.

Dalam kondisi terluka parah, Saih mengungsi ke Mekar Jaya, desa sekitar lima kilometer di utara desanya. "Tidak semua (laki-laki dewasa) tewas. Masih ada beberapa anak laki-laki yang berhasil keluar," ujarnya.

Kengerian suasana di desa saat itu juga masih diingat Cawi, 84. Wanita yang kehilangan suaminya karena kejadian tersebut menuturkan, saat itu wanita dan anak-anak tidak berani keluar rumah hingga tengah hari berikutnya (10 Desember 1947). "Semuanya nangis. Mencari suami atau anak-anaknya di tumpukan mayat-mayat," kata Cawi.

Mayat-mayat itu, tutur  Cawi, tergeletak di hampir semua sudut desa. Bahkan, ada yang tertelungkup di bawah pohon kelapa. "Dari cerita orang-orang, dia ditembak setelah disuruh memetikkan kelapa untuk minum tentara Belanda," ujar Cawi.

...Sepuluh (sembilan di antaranya janda) korban pembantaian tentara Belanda pada 1947 yang menewaskan 431 orang warga Rawagede, Karawang, Jawa Barat, menggugat pemerintah Belanda. Kini mereka menunggu jawaban PM Jan Peter Balkenende...

Suaminya yang bernama Bitol juga tewas lantaran ditembak. Karena tidak ada laki-laki dewasa yang tersisa, wanita-wanita itu lalu bergotong-royong memakamkan anggota keluarganya. "Satu mayat digotong empat orang wanita. Lubangnya hanya kuat menggali sedalam ini," ujar Cawi sambil memegang pinggangnya.

Kain kafan yang digunakan untuk memakamkan jenazah juga ala kadarnya. "Kain apa saja. Untuk (kayu) penutup kanan kiri lubang, pakai bekas kusen pintu atau jendela," kata Cawi.

Karena banyaknya korban (431 orang tewas versi pemerintah RI dan 150 orang versi pemerintah Belanda), seluruh proses pemakaman memakan waktu hingga tiga hari.

"Burung gaok (gagak yang suka bangkai, Red) terbang banyak sekali," katanya mengenang. Bala bantuan dari lelaki desa lain juga baru datang dua hari setelah kejadian.

Saih kini tinggal di rumah sederhananya di pojok desa. Setahun setelah kejadian, dia menikah dengan wanita bernama Nunung. Putra tunggalnya, Tasmin, kini bekerja di Cakung, Jakarta Timur. "Saya meminta Belanda bertanggung jawab," kata Saih.

Hingga kini, Belanda belum pernah minta maaf, apalagi memberikan kompensasi kepada keluarga korban. Padahal, akibat kejadian itu, ekonomi desa benar-benar ambruk...

Hingga kini, Belanda memang belum pernah minta maaf, apalagi memberikan kompensasi kepada keluarga korban. Padahal, akibat kejadian itu, ekonomi desa -setelah kehilangan banyak pekerja laki-laki- benar-benar ambruk.

Seperti Saih, Cawi juga menikah lagi dengan Sukardi, seorang anggota TKR Purwakarta yang membantu penduduk memulihkan kondisi desa. Dari suami kedua ini, Cawi dikaruniai tiga putra, semuanya lelaki. "Bapak meninggal empat tahun lalu," katanya.

Selain Cawi, ada sembilan janda lain yang menggugat pemerintah Belanda (gugatan itu masuk ke kantor PM Belanda Jan Peter Balkenende pada 8 September 2008, Red). Mereka adalah Laksmi, Wisah, Wanti, Layem, Wanti, Bitijeng, Taswi, Kesa, dan Imi. "Bulan lalu Imi baru saja meninggal," tutur Cawi.

Imi adalah janda yang paling muda. Saat kejadian itu, Imi baru tiga hari menikah. Suaminya yang bernama Ridam sempat lolos dari sweeping karena berpakaian seperti perempuan. "Tapi, saat mau lari, ketahuan Belanda dan didor di tengah sawah," katanya.

Dalam operasi sadis itu, Belanda memang tidak mau menyentuh wanita dan anak-anak. "Rumah didatangi, kami sembunyi di kolong-kolong. Kalau melihat lelaki, Belanda menyeretnya keluar," ceritanya.

Sesudah kejadian itu, banyak janda yang meninggalkan desa. Yang lain menikah lagi dan membangun rumah tangga mulai dari awal. Ada juga yang merantau ke Jakarta seperti Saih yang sempat bekerja di sebuah perusahaan tegel di Jakarta Barat. "Kalau ingat itu mah, sering nangis sendiri," kata Cawi. [taz/jpol]

Baca berita terkait:

Kasus Pembantaian Rawagede: Belanda Digugat Warga Bekasi


latestnews

View Full Version