View Full Version
Sabtu, 25 Sep 2010

Alih-alih Cegah Seks Bebas, Anggota Dewan Usul Tes Keperawanan Calon Siswa SMA

Jakarta (voa-islam.com) - Resah terhadap maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja memunculkan wacana tes keperawanan dan keperjakaan bagi siswa-siswi yang akan masuk Sekolah Menengah Atas (SMA), usulan ini sendiri diajukan oleh salah satu anggota DPRD Jambi, Bambang Bayu Suseno, kontan wacana ini menuai kritikan setidaknya dari anggota DPR RI Komisi X M Hanif Dhakiri.

Sebab, hal itu dikhawatirkan akan membunuh karakter para pelajar. “Usul tes keperawanan itu menurut saya tidak jelas apa maksudnya. Jadi saya mempertanyakan ini. Jika niatnya adalah untuk melindungi siswa kita dari kecenderungan bergaul bebas, apa bisa dengan cara begitu,” kata Hanif, Sabtu (25/9/2010).

...“Saya engga bisa bayangkan apa yang akan terjadi pada masa depan anak yang sudah tidak perawan dan lalu tidak bisa melanjutkan pendidikannya karena itu...

Menurut politisi muda PKB itu wacana tes keperawanan dikhawatirkan akan membunuh karakter para siswa dan siswi yang akan masuk ke Sekolah Menengah Umum. Selain itu hal ini juga bisa melanggar HAM dari calon murid itu sendiri, sehingga hendaknya wacana tersebut dipikirkan kembali.

“Saya khawatir hal ini justru membunuh karakter anak dan berpotensi melanggar hak dasar individu atas tubuhnya sendiri. Itu berpotensi melanggar HAM dan sama sekali tidak mendidik karena hanya menangkap fenomena post factumnya. Saya khawatir itu engga bermakna apa-apa buat peningkatan moral remaja kita,” ungkapnya.

Lebih lanjut Hanif menjelaskan bahwa usulan itu nantinya hanya akan bersifat dikriminatif sebab hanya diterapkan untuk pelajar perempuan. Padahal dalam banyak kasus, anak perempuan sering menjadi korban dalam pergaulan bebas remaja.

Selain itu dirinya juga tidak bisa membayangkan jika hal itu nantinya benar-benar diterapkan dan ditemukan ada beberapa siswa dan siswi yang tidak perawan dan perjaka, maka imbasnya mereka akan tidak bisa melanjutkan pendidikannya ketingkat selanjutnya.

“Saya engga bisa bayangkan apa yang akan terjadi pada masa depan anak yang sudah tidak perawan dan lalu tidak bisa melanjutkan pendidikannya karena itu. Negara justru perlu memastikan perlindungan terhadap mereka dengan tanpa melanggar hak-hak dasar mereka sebagai manusia merdeka,” pungkasnya.

Kendati demikian dirinya setuju jika pemerintah ingin benar-benar memberantas pergaulan bebas dikalangan remaja. Namun cara yang digunakan haruslah mementingkan dan mengedepankan HAM sehingga tidak membunuh karakter masing-masing individu.

“Saya setuju ekses pergaulan bebas harus diantisipasi, dikendalikan dan ditekan serendah mungkin. Tetapi caranya harus benar-benar tepat, tidak melanggar HAM, tidak berpotensi membunuh karakter dan masa depan anak, serta efektif untuk mencapai tujuan pemeliharaan moral anak,” tandasnya.

Itu Urusan Kedokteran bukan Pendidikan

Protes keras juga datang dari kalangan akademisi, Guru Besar Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta Soedijarto menilai jika hal ini dilakukan maka sangat bertentangan dengan UUD 1945.

Disebutkan, hal itu bertentangan dengan semangat konstitusi untuk memberikan akses pendidikan seluas-luasnya kepada anak bangsa.“Itu bertentangan dengan undang-undang karena setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan,” ujar Guru Besar Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta Soedijarto di Jakarta, Sabtu (25/9/2010).

...“Menurut saya itu kurang layak, itu urusan kedokteran bukan urusan pendidikan. Memang benar kita harus melindungi anak-anak agar jangan dengan cara seperti itu,” ungkapnya...

Soedijarto sepakat dengan tujuan wacana pemberlakuan tes keperawanan untuk menekan pergaulan bebas di antara para remaja. Namun metode tes keperawanan dinilai kurang tepat. “Menurut saya itu kurang layak, itu urusan kedokteran bukan urusan pendidikan. Memang benar kita harus melindungi anak-anak agar jangan dengan cara seperti itu,” ungkapnya.

Menyibukkan pelajar dengan kegiatan-kegiatan positif, menurut Soedijarto, akan lebih efektif untuk mengeliminir pergaulan bebas di antara remaja.
 Dengan banyaknya kegiatan pembelajaran, waktu siswa akan habis untuk mengurusi studinya. “Bisa dengan kegiatan ekstra kurikuler juga. Jadi anak tidak sempat melamun,” usulnya. Aya'-aya' wae atuh kang!!(Ibnudzar/dbs)


latestnews

View Full Version