View Full Version
Rabu, 05 Sep 2012

Adakan Seminar Tentang Thoghut, Son Hadi: Ini Pencerahan bagi HMI

SURABAYA (voa-islam.com) - Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Muslim Jawa Timur (BADKO HMI JATIM) mengadakan seminar nasional “Meyingkap Misteri Thoghut di Indonesia : Sebuah Dialektika Kebenaran Antara Realita dan Fakta”. Acara ini bertempat di Hall A Asrama Haji Surabaya pada hari Senin, 3 September 2012.

Seminar yang berlangsung mulai jam 10.00 hingga jam 13.00 ini dihadiri  sekitar 50 peserta undangan dari berbagai organisasi dan Ormas juga tampak perwakilan dari KODIM juga pegawai pemerintahan.

Seminar ini menghadirkan 3 (tiga) pembicara sebagai narasumber yaitu Ustad Son Hadi yang merupakan Juru Bicara Jamaah Ansharut Tauhid (JAT),  Ustadz Ahmad Muhibbin dari Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya, serta Ustadz Roem Rowi, namun beliau meninggalkan acara sebelum dimulai karena ada keperluan medical check up seperti yang dijelaskan oleh moderator acara.

Latar belakang diadakan seminar ini, sebagaimana yang dijelaskan oleh ketua panitia, Khoirul Anam, karena adanya perbedaan  diantara umat dalam memaknai masalah thoghut.

“ada permasalahan tentang konsep thoghut, dalam bukunya Ustadz Aman Abdurrohman ‘Ya Mereka Memang Thoghut’ dan ada juga yang menjawab dalam bukunya Khoirul Ghozali “Mereka Bukan Thoghut’” jelasnya.
Panitia sebenarnya ingin mendatangkan langsung penulisnya untuk berdiskusi secara intelektual, namun karena sulit, karena kedua penulis sama-sama di penjara  kasus terorisme, maka panitia mendatangkan pihak pihak yang dianggap mewakili masing masing pemikiran.

Ustadz Son Hadi, sebagai pembicara pertama menyampaikan materi  berjudul “Makna dan Bentuk bentuk Thoghut dalam Islam serta realitas Thoghut di Indonesia”. Namun sebelum memaparkan materi tersebut, beliau memberikan sebuah peringatan agar tidak menuduh orang yang ingin menerapkan syariat Islam dalam kehidupan bernegara sebagai orang-orang yang tidak cinta Indonesia.

“Ada hal yang menarik di negeri ini, ketika setiap kita berbicara mengenai konsep hidup bernegara menurut syariat Islam, lantas muncul pemikiran atau muncul tuduhan bahwa orang tersebut tidak cinta tanah air, tidak cinta Indonesia. Bahwa pemikiran semacam itu merupakan impor dari luar negeri.

Saya sekedar mengingatkan sebuah fakta sejarah yang tidak bisa kita lupakan, bahwa ide ide kenegaraan, ide ide berbangsa,  itu jauh terkonsepkan sebelum Indonesia menyatakan diri kemerdekaannya. Mulai dari Syarikat Dagang Islam yang dipelopori oleh Haji Samanhudi,  kemudian diteruskan dengan Syarikat Islam oleh Haji Oemar Said Cokroaminoto,” Jelasnya.

Beliau juga menyatakan agar perdebatan masalah pemikiran bagaimana membangun negeri ini sebagai sesuatu yang wajar.

“Di Surabaya memiliki sebuah tempat yang luar biasa, ada sebuah rumah di Peneleh Surabaya di situ tempat kostnya anak anak muda yang merupakan kader dari HOS Cokroaminoto. Dari rumah itulah ada Soekarno, ada Kartosoewirjo, ada Semaun, yang kemudian hasil dari rumah itu melahirkan pemikiran pemikiran yang masing masing memiliki perbedaan yang cukup tajam.

Kartosoewirjo yang kemudian kita kenal dengan ide bagaimana membangun negeri ini dengan Darul Islamnya. Kemudian Soekarno dengan nasionalismenya, kemudian Semaun dengan sosialis dan  kemudian dengan PKInya. Artinya Apa? tiga besar pemikiran yang sempat menjadi  sejarah jatuh bangun negeri ini berasal dari rumah yang sama, berasal dari guru yang sama, yakni HOS Cokroaminoto yang mengajarkan Islam pada masa itu. Kalau sampai saat ini masih terjadi sisa sisa perdebatan pemikiran, hendaklah kita sikapi sebagai sebuah kewajaran, sebuah kedewasaan  tidak menuduh satu sama yang lainnya,” paparnya.

Pembicara kedua, Ustad Muhibbin menyampaikan materi  berjudul “Koreksi Paham Keagamaan Yang Dapat Mendorong Terjadinya Deradikalisasi Di Indonesia”. Beliau menyampaikan problem gerakan Islam di negara plural, keadaan islam nonmainstream di Indonesia pasca reformasi, serta radikalisme agama dan faktor munculnya serta fenomena gerakan islam radikal pada era transisi demokrasi.

Beliau juga menjelaskan pemaknaan Islam Kaffah,  Islam kaffah  dalam pandangan kelompok Islam Radikal, merupakan salah satu tafsir. Tidak sepakat terhadap tafsir itu bukan berarti menolak Islam (kafir). 

Dalam masalah jihad beliau memaparkan jihad dalam nash-nash agama tidak semua bermakna perang. Dia membagi jihad menjadi dua, yaitu jihad kecil  yaitu perang pembelaan umat melawan serangan yang dilancarkan pihak lain. Serta Jihad Besar yaitu jihad yang diarahkan untuk pembebasan iman dan menegakkan struktur pembangunan umat, disebut juga Jihad al-Nafs. Bertujuan merancang bangun peradaban Islam dan mencegah gangguan hawa nafsu pada diri muslim

Namun karena terbatasnya waktu diskusi tidak bisa berjalan secara maksimal, sehingga hanya ada 2 peserta saja yang mendapat kesempatan untuk bertanya dan mengutarakan pendapatnya.


Ustad Son Hadi yang ditemui setelah selesai acara, saat dimintai pendapat tentang latar belakang diadakan acara ini menyatakan bahwa hal ini merupakan suatu hal yang luar biasa.

“Ini sebuah pencerahan bagi HMI yang kita tahu HMI itu organisasi moderat sekuler hari ini dia merujuk kembali kepada tertarik kepada pembahasan masalah thoghut.  ini suatu hal yang luar biasa artinya selama ini kajian kajian tentang thoghut itu difahami sebagai kajian kajian kelompok radikal kelompok kelompok puritan hari ini menjadi konsumsi kajian sebuah organisasi HMI walaupun dalam lingkup jawa timur,” tuturnya.

Beliau juga menyatakan kita harus menjelaskan makna thoghut yang sebenarnya karena sekarang berusaha dikaburkan dengan bukunya Khoirul Ghozali.

"Saya pikir teman teman juga perlu memberikan masukan, memberikn penjelasan penjelasan yang memadai, karena ini kewajiban bagi kita  menjelaskan kepada umat tentang hakekat thoghut yang hari ini mulai dikaburkan, yang jelas-jelas dikaburkan dalam bukunya Khoirul Ghozali sehingga tidak memiliki pemahaman yang utuh dalam memahami hal thoghut,” imbuhnya. [Fuji]


latestnews

View Full Version