View Full Version
Senin, 26 Nov 2012

Antara Agresi Militer Israel ke Gaza dan Revolusi Suriah

JAKARTA (voa-islam.com) - Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), ustadz Hafidz Abdurrahman mengungkapkan bahwa motif agresi militer ke Gaza adalah sebagai bentuk ketakutan Israel terhadap revolusi Suriah, dimana mujahidin semakin kuat dan semakin dekat dengan tegaknya khilafah yang mengancam Israel.

Hal itu disampaikan ustadz Hafidz Abdurrahman sebagai salah satu pembicara dalam Halaqoh Islam dan Peradaban bertema "Mengungkap Motif Serangan Israel Terhadap Gaza" yang diselenggarakan HTI di Wisma Antara, Jakarta Pusat.

“Bahwa ketakutan Israel bukan semata-mata karena Arab Spring yang sebenarnya saat ini sudah bisa dijinakkan, tetapi sesungguhnya yang menjadi ketakutan potensial yang sampai saat ini belum berhasil mereka jinakkan adalah revolusi Syam,” ujarnya dihadapan ratusan hadirin, Kamis (22/11/2012).

Memang, segala kemungkinan bisa saja mendasari motif serangan Israel ke Gaza, diantaranya adalah test case, terkait pemilu yang akan diselenggarakan di Israel, uji coba senjata dan lain-lain.

...sesungguhnya yang menjadi ketakutan potensial yang sampai saat ini belum berhasil mereka jinakkan adalah revolusi Syam

Namun, revolusi Syam menjadi hal yang menakutkan bagi Israel karena dilakukan oleh mujahidin yang menuntut tegaknya Syariah dan Khilafah. Hal inilah yang membedakan dengan revolusi Arab lainnya seperti di Tunisia, Mesir, Yaman bahkan Libya.

“Setelah mereka ini gagal untuk dikendalikan, maka Amerikan kemudian mengeluarkan tuduhan bahwa mereka adalah kelompok teroris,” ucapnya.

Saat ini, kata ustadz Hafidz Abdurrahman, ada gerakan untuk menggalang dukungan terhadap terbentuknya faksi oposisi. Semua ini bertujuan untuk mematangkan siapa pengganti Bashar Al-Assad nantinya, karena Amerika sudah tidak melihat kemungkinan Bashar untuk dipertahankan.

...Sejak kapan Bashar Al-Assad bisa mengatakan qul qitalin fiihi kabir padahal selama ini tangannya, semua kursi kekuasaannya berlumuran darah umat Islam

Namun, hal itu dengan tegas ditolak oleh mujahidin. Di sisi lain, pemerintah Suriah berusaha melunak untuk melakukan gencatan senjata dengan alasan larangan berperang di bulan haram.

“Pada saat bashar mengumumkan gencatan senjata juga ditolak, alasan gencatan senjata itu katanya bahwa ini adalah syahrul haram (bulan diharamkan berperang)

قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ

Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar”… (Q.S. Al-Baqarah: 217)

Sejak kapan Bashar Al-Assad bisa mengatakan qul qitalin fiihi kabir padahal selama ini tangannya, semua kursi kekuasaannya berlumuran darah umat Islam,” jelasnya.

Ustadz Hafidz Abdurrahman menambahkan bahwa alasan itu hanyalah dibuat-buat. Sebab seperti diketahui, Bashar Al-Assad adalah penganut sekte Syiah Nushairiyah yang keluar dari Islam

“Ingat! Nushairiyah atau Alawiyah yang dianut oleh Bashar Al-Assad itu sudah bukan merupakan kelompok Islam, karena memang dia menjadikan Sayidina Ali sebagai tuhan dan kemudian dia menghalalkan zina termasuk darah umat Islam lalu bagaimana dia mengatakan qul qitalin fiihi kabir?” imbuhnya.

...Jadi kalau tiba-tiba Israel melakukan itu (agresi, red), ada kemungkinan juga karena ini. Ada dua hal menurut saya; pertama, ketakutan karena khilafah. Kedua, untuk merusak konsentrasi mujahidin

Dengan demikian, agresi militer Israel ke Gaza tak terlepas dari konspirasi Amerika dan berkaitan dengan pengalihan isu revolusi Suriah.

“Jadi ini adalah rekayasa, sebenarnya tujuannya adalah supaya Amerika punya waktu yang cukup, siapa sebenarnya nanti yang bisa menggantikan Bashar Al-Assad. Nah, semua upaya itu ternyata gagal menghadapi jalan buntu. Karena sampai hari ini pasukan mujahidin itu sampai hari ini tidak mau negosiasi, mereka tidak mau gencatan senjata, yang mereka inginkan adalah khilafah,” paparnya.

Bahkan selain karena ketakutan Amerika dan Israel atas revolusi Suriah, agresi ke Gaza juga bertujuan untuk memecah konsentrasi mujahidin.

“Jadi kalau tiba-tiba Israel melakukan itu (agresi, red), ada kemungkinan juga karena ini. Ada dua hal menurut saya; pertama, ketakutan karena khilafah. Kedua, untuk merusak konsentrasi mujahidin. Kalau di Gaza itu aman-aman saja, mereka (mujahidin, red.) bisa fokus menjatuhkan Bashar,” tandasnya. [Ahmed Widad]    


latestnews

View Full Version