View Full Version
Selasa, 19 Mar 2013

Komnas HAM: Aparat Jangan Asal Tuding Terorisme pada Satu Kelompok!

JAKARTA (voa-islam.com) - Komnas HAM mengimbau agar Polri berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan terkait tuduhan mutilasi dan terorisme terhadap korban penyiksaan dalam video penyiksaan yang beredar di dunia maya.

Hal itu disampaikan Siane Indriani, selaku Ketua tim pemantauan dan penyelidikan penanganan tindak pidana terorisme, Komnas HAM.

“Kalau kita melihat alasan dari polisi, ini kan Wiwin pelaku mutilasi. Menurut saya, mohon kita mengimbau supaya hati-hati mengatakan kata-kata dan tuduhan itu, karena kita tidak bisa memisahkan kejadian ini dengan konflik masa lalu yang bernuansa SARA. Mohon pihak aparat menyampaikan hal-hal yang seperti ini dengan bijaksana. Karena mereka juga bagian dari korban konflik masa lalu yang sama-sama mengalami dan merasakan ketidakadilan, ketika mereka merasa diperlakukan tidak adil maka mereka membalas dendam,” kata Sine Indriani kepada wartawan dalam konferensi pers di kantor Komnas HAM, Jl. Latuharhary No. 4B Menteng Jakarta Pusat, Senin (18/3/2013).

Menurut Siane, di masa lalu konflik antar agama telah memakan banyak korban jiwa. Termasuk orang tua dan sanak keluarga dekat dari para korban seperti Wiwin, Tugiran dan yang lainnya. mereka mengalami trauma dan dendam masa lalu yang belum selesai sampai sekarang.

Oleh sebab itu, Siane menilai untuk melihat ini sebagai kasus terorisme aparat kepolisian harus melihat sisi yang lebih luas.

“Jadi untuk melihat ini terorisme atau tidak tentunya harus dilihat dari sisi yang lebih luas. Jangan terlalu cepat melakukan stigmatisasi terhadap orang-orang tersebut karena memang di masa lalu mereka terbiasa dengan tindakan-tindakan itu,” ucapnya.

Kedua belah pihak baik Islam maupun Kristen masing-masing memiliki senjata dan mampu membuat bom, sehingga Komnas HAM menyayangkan jika hanya satu pihak yang mendapat stigmatisasi terorisme.

“Karena masing-masing mempunyai perlengkapan senjata antara kelompok Islam dan Kristen. Itu mereka semua bersenjata dan mereka semua bisa membuat bom. Sehingga kalau melakukan stigmatisasi pada kelompok tertentu itu yang kita sesalkan,” tegasnya. [Ahmed Widad]


latestnews

View Full Version