View Full Version
Rabu, 18 May 2016

Pasang Surut Organisasi Islam, Belajarlah dari Tjokroaminoto

SOLO (voa-islam.com)--Sejarah Indonesia tidak lepas dari kiprah juang tokoh-tokoh Islam. Haji Oemar Said Tjokroaminoto merupakan salah satu tokoh meleganda dalam perjuangan Syarekat Islam di Indonesia.

Kukuh Subekti, Ketua Bidang Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan (PTK) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Surakarta mengatakan Tjokroaminoto adalah sosok pemuda di zamannya yang memilih jalan revolusioner. Semangat revolusioner itu tampak sejak Tjokroaminoto bergabung dengan Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan Haji. Samanhoedi.

Menurut Kukuh, hampir seluruh hidupnya dia curahkan untuk membangun organisasi modern Islam yang pertama di Indonesia itu. Tjokroaminoto mampu mengubah organisasi dagang itu menjadi organisasi sosial politik, mulai dari Sarekat Islam (SI) yang getol berjuang melawan kolonialisme. Tak berhenti di situ, Tjokroaminoto juga membidani lahirnya Partai Sarekat Islam (PSI).

“Ini menjadi salah satu bukti bahwa sejarah Indonesia ialah sejarah umat Islam. Negeri ini dibangkitkan oleh semangat kaum muslim untuk melawan kolonialisme,” ujar Kukuh dalam diskusi Tokoh Pergerakan Islam di Indonesia, di Gedung Insan Cita Solo, Jawa Tengah, Senin (16/5/2016).

Kukuh menambahkan, kebangkitan pergerakan umat Islam di indoensia seharusnya dikenang sebagai hari kebangkitan nasional.

Ironisnya, simbol kebangkitan bukanlah perjuangan kaum muslim, melainkan organisasi Boedi Oetomo yang sebenarnya sangat sektarian karena hanya beranggotakan pelajar-pelajar keturunan priyayi Jawa.

“Ini kondisi yang sangat ironis, kiprah kaum muslim seolah hilang dari sejarah perjuangan bangsa,” tandas Kukuh.

Sementara itu, Ketua HMI Cabang Surakarta Komisariat M. Iqbal Adhytiawan Soeharto, mengungkapkan kemunduran SI juga tidak lepas dari sikap Tjokroaminoto yang terlalu terbuka.

Keterbukaan pemikiran di tubuh SI membuat organisasi Islam itu di susupi paham komunis. Padahal Tjokrominoto menghendaki semangat Islam menjadi misi SI untuk melawan pemerintah kolonial saat itu. Akibatnya SI pecah menjadi SI Merah dan SI Putih.

“Terpecahnya SI ini menjadi tanda kemunuduran,” ujar Iqbal.

Lanjut Iqbal, sejarah kemunduran SI ini juga bisa terjadi di HMI jika pemikiran kita terlalu terbuka dan tidak menjaga independensi etik dan organisasi HMI.

“HMI semestinya mampu mengambil hikmah apa yang pernah terjadi dalam SI dan mampu belajar dari Muhammadiyah yang mampu bertahan hingga kini yang berpegang pada khittah perjuangan yang telah dirumuskan,” pungkasnya.* [Arief/Syaf/voa-islam.com]

 


latestnews

View Full Version