View Full Version
Senin, 14 Mar 2016

Muhammadiyah Anggap Densus 88 Berbohong Terkait Kematian Siyono

JAKARTA (voa-islam.com)—Wafatnya Siyono (39 tahun), terduga teroris di tangan Densus 88 sangat disesalkan dan menjadi pertanyaan besar banyak pihak.

Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti mendesak kepada Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM) dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) atas kasus wafatnya Siyono. ( Baca juga: Siyono, Terduga Teroris Wafat Saat Diperiksa Densus 88 ).

Mu’ti mengatakan, proses penggerebekan Siyono di kediamannya di Klaten yang juga digunakan untuk ‎TK Roudatul Athfal Terpatu (RAT) Amanah Ummah, kabarnya dilakukan di tengah kerumunan anak-anak yang sedang mengaji.

Bila benar hal itu terjadi, kata dia, maka tentu terjadi pelanggaran hukum, pelanggaran HAM, dan terutama terkait perlindungan anak. ( Baca juga: Siyono Wafat Saat Diperiksa Densus 88, KH Arifin Ilham: Ingat, Ada Hari Pembalasan di Akhirat ).

Seperti dikutip Republika Online, Mu’ti menjelaskan bahwa Muhammadiyah sangat mendukung pemberantasan dan pencegahan terorisme. Namun langkahnya harus tetap mengedepankan prinsip-prinsip kemanusiaan dan hukum.

Terkait dengan peristiwa Klaten, banyak pihak menyayangkan cara penangkapan yang cenderung brutal oleh Densus. ( Baca juga: Sering Ceroboh Tangani Terorisme, Gerindra: Sistem Internal Densus 88 Perlu Diperbaiki ).

"Kami melihat ada kemungkinan Densus berbohong terkait penyebab kematian tersangka S karena kelelahan berkelahi," kata Mu'ti.

Seperti diberitakan banyak media, Polri mengatakan bahwa penyebab wafatnya Siyono karena kelelahan setelah melakukan perlawanan kepada sejumlah personil Densus 88 di dalam mobil.* [Syaf/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version