

MOGADISHU, SOMALIA (voa-islam.com) - Seorang pekerja bantuan Barat asal Indonesia yang terluka parah saat pria bersenjata memberondongkan senjata ke sebuah bangunan kelompok bantuan Dokter Tanpa Perbatasan (MSF) di Mogadishu hari Kamis (29/12/2011) tewas menyusul rekannya yang langsung meninggal saat kejadian, situs MSF menjelaskan.
Andrias Karel Keiluhu, 44, yang merupakan seorang dokter pekerja bantuan asal Indonesia, tewas setelah menjalani operasi di rumah sakit setelah penembakan terjadi, sementara Philippe Havet, 53, asal Belgia meninggal saat kejadian penembakan berlangsung.
Andrias Karel Keiluhu dan Philippe Havet bekerja dengan tim MSF untuk memberikan bantuan medis darurat bagi para pengungsi dan penduduk di kota Mogadishu.
Organisasi Dokter Tanpa Perbatasan (MSF - Medecins Sans Frontieres) memastikan bahwa peristiwa penembakan itu terjadi di dalam bangunannya di Mogadishu namun belum bisa bisa berkomentar mengenai korban.
Sementara itu staf lokal MSF mengatakan bahwa pria bersenjata tersebut, seorang staf logistik, berselisih dengan perusahaannya Rabu dan kembali dengan membawa senjata ke bangunan itu pada Kamis.
Ia menembak pekerja bantuan yang tewas hingga tiga kali dan menembak Andrias sekali, sebelum tembak-menembak dengan aparat-aparat keamanan di bangunan itu yang berusaha menangkapnya.
Penembakan itu merupakan serangan terakhir terhadap petugas kemanusiaan di negara Tanduk Afrika tersebut, yang merupakan salah satu tempat paling berbahaya di dunia bagi pekerja bantuan.
Pekan lalu, seorang pria bersenjata membunuh tiga pekerja bantuan Somalia, termasuk dua staf Badan Pangan Dunia PBB, di Hiran, Somalia tengah.
Somalia kini dilanda kelaparan parah akibat kekeringan terburuk yang terjadi negara itu, dan PBB telah mengumumkan Mogadishu dan empat wilayah Somalia selatan sebagai zona kelaparan serta memperingatkan bahwa kelaparan bisa meluas ke seluruh penjuru negara itu.
Kondisi itu diperumit oleh bentrokan-bentrokan yang terus terjadi antara pasukan Somalia serta Uni Afrika sekutunya dan pejuang Islam Al-Shabaab.
Bentrokan-bentrokan itu berlangsung ketika badan-badan bantuan internasional berusaha mencari cara untuk menyerahkan bantuan makanan kepada penduduk yang tinggal di kawasan yang dilanda kelaparan, khususnya daerah-daerah Somalia selatan yang dikuasai kelompok Al-Shabaab yang terkait dengan Al-Qaeda.
Badan-badan bantuan menarik diri dari Somalia selatan pada awal 2010 setelah ancaman keamanan terhadap staf mereka dan aturan semakin keras yang diberlakukan terhadap aktivitas mereka oleh Al-Shabaab, yang dimasukkan ke dalam daftar kelompok teror oleh Washington.
Pejuang Islam Somalia pada Juli mengatakan, kelompok bantuan asing bisa kembali lagi ke wilayah itu, namun seorang juru bicara Al-Shabaab mengatakan kemudian bahwa larangan operasi terhadap mereka masih tetap diberlakukan, demikian AFP melaporkan. (by/afp.msf)