View Full Version
Ahad, 12 May 2013

Mengganti Dua Rakaat Fajar Sesudah Shalat Shubuh atau di Waktu Dhuha

Pertanyaan:

Assalamu ‘Alaikum Warahmatullah Wabarakatuhu

Pak Ustadz, apa benar jika kita telah jamaah Shubuh sehingga tidak sempat shalat (sunnah) fajar, maka ia bisa diganti setelah shalat Shubuh atau pada saat masuk waktu Dhuha?

085735615***

Jawaban

Oleh: Badrul Tamam

Wa’alaikum Salam Warahmatullah Wabarakutuh. . .

Setelah memuji Allah dan bershalawat atas Rasulullah, shalat sunnah Fajar merupakan shalat sunnah rawatib yang paling ditekankan dibandingkan dengan selainnya. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak pernah meninggalkannya; baik dalam keadaan safar maupun muqim. Hal ini didasarkan kepada hadits ‘Aisyah Radhiyallahu 'Anhu, beliau berkata:

لَمْ يَكُنْ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَلَى شَيْءٍ مِنْ اَلنَّوَافِلِ أَشَدَّ تَعَاهُدًا مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيْ اَلْفَجْرِ

“Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak pernah memperhatikan shalat-shalat sunat melebihi perhatiannya terhadap dua rakaat fajar.” (Muttafaq ‘Alaih)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah kesiangan melaksanakan shalat Shubuh dalam satu perjalanan. Beliau bangun saat matahari sudah terbit. Kemudian beliau menyuruh Bilal untuk mengumandangkan adzan. Lalu beliau wudhu dan shalat fajar dua rakaat yang diikuti oleh para sahabat. Kemudian beliau menyuruh Bilal mengumandangkan iqamah dan beliau shalat Shubuh bersama mereka.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Syaikh Al-Albani)

Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam lakukan ini untuk tidak terlewat dari mendapatkan keutamaannya yang telah beliau terangkan, “Dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. Muslim)

Ibnul Qayyim berkata, “Oleh karenanya, beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak pernah meninggalkannya, yakni shalat sunnah Fajar dan shalat Witir, baik pada saat safar maupun saat bermukim. Pada saat bepergian beliau lebih rutin mengerjakan shalat sunnah Fajar dan Witir dibandingkan semua shalat sunnah lainnya. Tidak pernah dinukil dari beliau bahwa beliau shalat sunnah rawatib selain kedua rakaat shalat tersebut.” (Zaadul Ma’ad: 1/315)

Lalu bagaimana saat seseorang tidak punya kesempatan menjalankan dua rakaat Fajar sebelum shalat Shubuh?

Jika seseorang tidak berkesempatan menjalankan dua rakaat fajar sebelum shalat Shubuh maka boleh baginya mengadha’nya (mengganti dengan menjalankannya) setelah shalat shubuh atau pada waktu matahari sudah terbit di waktu Dhuha. Sunnah telah menerangkan keduanya. Tetapi –menurut Syaikh Ibnu Bazz- mengakhirkannya sampai matahari meninggi lebih utama, karena Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan hal ini. Adapun mengerjakannya sesudah shalat Shubuh terdapat taqrir (pengakuan) dari beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam akan pembolehannya.

Inilah pendapat yang dipilih Imam Ahmad, beliau berkata: “Jika ia mengerjakannya sesudah fajar (shalat Shubuh) maka itu sudah cukup. Adapun saya memilih hal itu (memilih mengadha’nya di waktu Dhuha).”

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ لَمْ يُصَلِّ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ فَلْيُصَلِّهِمَا بَعْدَ مَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ

Siapa yang belum shalat dua rakaat Fajar maka hendaknya mengerjakannya setelah terbit matahari.” (HR. Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah-Tirmidzi, Ibnul Huziamah, al-Hakim, Ibnu HIbban. Dan selainnya. Hadits ini dishahihkan Syaikh Al-Albani)

Hadits dari Qais bin’ Amr menuturkan, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah melihatnya shalat dua rakaat Fajar setelah shalat Shubuh. Lalu beliau bertanya, “Dua rakaat apa ini wahai Qais?” Qais menjawab, “Ya Rasulullah, aku belum menunaikan dua rakaat Fajar, maka dua rakaat ini adalah dua rakaat fajar.” Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam membiarkannya. (HR> Ahmad, Abu Dawud, dan al-Tirmidzi) dan diamnya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menunjukkan pengakuannya akan kebolehan. Wallahu Ta’ala A’lam. [PurWD/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version