View Full Version
Jum'at, 15 May 2015

Hikmah Perjuangan Mujahid Toriq Bin Ziyad Yang Wajib Dicontoh

Voa-Islam.Com- Beberapa hari yang lalu saya meminjam beberapa buku dari perpustakaan kampus. Sesampainya di rumah saya mulai membuka dan membaca satu buku yang berjudul  Be The Best yang ditulis M. Karebet Widjajakusuma seorang konsultan manajeman, trainer motivasi dan  penulis buku.  Halaman demi halaman dari buku itu saya baca hingga saya terhenti pada halaman  66-79.

Dalam halaman itu saya disugihi sebuah cerita yang sangat inspiratif dari seorang panglima perang muslim yang bernama Thariq bin Ziyad. Setelah membaca tulisan itu berulang-ulang, saya pun memutuskan untuk mengutip tulisan tersebut dan saya bagikan kepada teman-teman semua, dengan harapan kita semua dapat mengambil manfaat dari cerita tersebut.

Dalam buku itu dikisahkan bahwa pada Tahun 711 M ada serombongan armada laut yang telah melintasi 13 mil laut untuk menyeberangi selat Andalusia. Armada berkekuatan 7.000 prajurit itu merapat. Kemudian sebuah komando menyulut yang penuh semangat keluar dari sang Panglima.

“Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, kemanakah kalian akan lari? Demi Allah, yang kalian miliki hanyalah kejujuran dan kesabaran. Ketahuilah bahwa di pulau ini kalian lebih telantar dari pada anak yatim yang ada di lingkungan orang-orang hina. Musuh kalian telah menyambut dengan pasukan dan senjata mereka. Kekuatan mereka sangat besar, sementara kalian tanpa perlindungan selain pedang-pedang kalian, tanpa kekuatan selain dari barang-barang yang kalian rampas dari tangan musuh kalian. Seandainya pada hari-hari ini kalian telah tetap sengsara seperti ini, tanpa adanya perubahan yang berarti, niscaya nama baik kalian akan hilang, rasa gentar yang ada pada hati musuh akan terganti menjadi berani dengan kalian. Oleh karena itu pertahankanlah jiwa kalian!”

Tanpa keraguan sedikit pun, panglima itu memerintahkan pasukannya untuk membakar kapal-kapal yang telah membawa mereka. Banyak orang mungkin bertanya. Bukankah kapal-kapal itu adalah aset? Bukankah aset perang justru seharusnya dijaga? Tidak! Itulah prinsip sang panglima.

Secara zahir, memang kapal-kapal itu telah habis terbakar, namun pada hakikatnya perintah ini telah membakar habis pilihan untuk menjadi pecundang dan pengecut serta menyisihkan dua pilihan, yang keduanya mulia. Menangkan pertempuran atau mati syahid. Disinilah terbentuk kesamaan visi dan misi antara pemimpin dan bawahan dalam membangun tim yang kompak dan padu. Langkah ini telah membuahkan kemenangan. Sebuah kemenangan yang telah mengantarkan umat islam memasuki babak baru, dakwah di bumi Andalusia

Panglima itu adalah Thariq bin Zayid, seorang pahlawan muslim pembebas Andalusia yang namanya diabadikan untuk menyebut bukit karang stinggi 450 meter di semenanjung pantai tenggara spanyol. Jabal Thariq, begitulah orang Arab menamai bukit itu. Lidah Eropa menyebutnya Gibratar (M. Karebet Widjajakusuma, 2007).

Apa Hikmah dari Kisah Di atas?

Ada beberapa hikmah yang bisa kita ambil dari kisah di atas, yang mana hikmah ini akan menjadikan kita sadar bahwa selama ini kita terlalu takut untuk mengambil sebuah pilihan sukses. Berikut hal-hal yang patut kita lakukan

  1. Kita harus menguatkan motivasi diri kita dengan menyingkirkan penghalang-penghalang yang akan mempengaruhi keputusan kita. Tidak ada keputusan lain selain keputusan untuk sukses, tidak ada sebuah keputusan untuk mundur atau menyerah. Keputusan untuk mundur atau menyerah adalah keputusan terburuk yang akan membuat kita menjadi pecundang sejati. Untuk itu mulai sekarang kita harus berani keluar dari Comfort Zone kita, memperkuat  komitmen dan selalu yakin bahwa jalan terbaik untuk meraih kesuksesan adalah dengan terus melangkah maju dengan sebuah keyakinan bahwa kita akan mencapai sebuah kemenangan yang lebih berarti.
  2. Sukses itu tidak bisa sendiri, entah kita sebagai personal maupun organisasi, kita harus menyatukan visi dan cara pandang kita tentang kesuksesan. Seperti apa yang dilakukan oleh Panglima Thariq dan bala tentaranya, sungguh tidak mungkin kemenangan akan mereka raih jika mereka tidak memiliki visi dan cara pandang sama. Inilah contoh yang wajib kita tiru sebagai pemimpin, kita wajib memberikan motivasi dan pemahaman kepada rekan kerja dan karyawan untuk senantiasa memegang teguh semangat dan visi yang telah di bangun. Kemenangan adalah tanggung jawab bersama. Sehebat apa pun pemimpin, tapi tanpa sebuah kerja tim yang solit dengan para karyawan maka apa yang diusahakan bisa sia-sia.[RonaBinham/Protonema/Voa-Islam]

latestnews

View Full Version