View Full Version
Jum'at, 10 Sep 2010

Jadilah Muslim 'Ramadhani' Sepanjang Masa

SPIRIT Ramadhan bukan hanya untuk satu bulan, tetapi untuk setiap hari dalam kehidupan kita. Banyak dari kita, baik muslim maupun muslimah, yang berislam hanya untuk waktu satu bulan dalam setahun.

Hanya di bulan Ramadhan saja kita menyeka debu dari sampul Al-Qur‘an dan sajadah kita. Bahkan sebagian saudari kita, mereka meninggalkan kota make up dan mengenakan hijab atau jilbab hanya pada bulan ini.

Lalu ketika Ramadhan selesai, pada hari Idul Fitri tiba, saudara-saudara kita menyisir rambut mereka dengan potongan rambut mohawk sinting yang menentang gravitasi dan pola konvensional. Hingga bahkan macan dan harimau pun merasa iri dengan potongan rambut mereka.

Kemudian perempuan-perempuan muslim yang ketika Ramadhan masya Allah mengenakan hijab dan jilbab rapih selama Ramadhan, bulan berikutnya hijab dan jilbab itu sudah masuk lemari untuk dikenakan lagi pada Ramadhan tahun berikutnya. Selesai Ramadhan, mereka kembali ber-tabarruj untuk menjadi layaknya bintang-bintang Hollywood atau Bollywood.

Apakah tujuan Ramadhan adalah mendidik kita menjadi muslim yang taat hanya untuk waktu sebulan saja? Lalu di luar Ramadhan kita menjadi muslim dan muslimah yang mengekor orang-orang kafir, atas nama modernitas? Apakah di luar Ramadhan lalu kita diperbolehkan untuk menjalani praktik-praktik kehidupan jahiliyah kontemporer?

Cukup adil rasanya apabila selama tahun-tahun sebelumnya kita biasa bermaksiat dan tidak taat kepada Alla serta Rasul-Nya, lalu menjadi lebih baik dan menjadi muslim taat sejak Ramadhan hingga seterusnya. Tidak ada yang dapat kita lakukan terkait masa lalu. Kita bisa melakukan sesuatu yang positif dan bernilai pahala, di mulai dari Ramadhan ini.

Kita dapat membuat perubahan-perubahan penting dalam kehidupan kita, selagi masih diberi kesempatan menarik nafas, dan nyawa masih menyatu di dalam raga. Kita sungguh sangat beruntung karena masih hidup dan diberi kesempatan mengambil manfaat dari Ramadhan. Hanya orang bodoh saja yang tidak mengambil keuntungan dari bulan penuh berkah dan ampunan ini.

…Kita sangat beruntung karena masih diberi kesempatan mengambil manfaat dari Ramadhan. Hanya orang bodoh saja yang tidak mengambil manfaat dari bulan penuh berkah dan ampunan ini…

Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama mempraktikkan cara hidup (way of life) kita yang indah setiap hari, bertolak dari teks-teks Al-Qur‘an dan Sunnah, sepanjang tahun. Ramadhan tak ubahnya masa pendidikan dan pelatihan bagi diri kita untuk menjalani bulan-bulan lainnya.

Jika kita mengikuti pelatihan dan pendidikan di tempat bekerja, maka kemudian kita diharuskan menjadi lebih baik dalam bekerja. Apabila setelah pelatihan selesai, kemudian kita mengabaikan apa-apa yang dipelajari dalam pelatihan, bahkan tidak mengimplementasikannya sama sekali, maka apa gunanya pelatihan tersebut?

Atasan kita akan sangat marah tentunya. Ini mengingat, dia telah memberikan kesempatan kepada kita untuk mengikuti pelatihan sehingga kemampuan bekerja kita meningkat, namun setelah selesai pelatihan, ternyata kita tidak menjadi lebih baik. Jelas, atasan kita akan kecewa.

Pun demikian, Allah pasti akan sangat murka. Dia telah memberikan kesempatan untuk kita pada bulan Ramadhan untuk menggapai ampunan dan keridhaan-Nya. Pada bulan ini juga kita bisa melatih diri dalam ketaatan dan mengembangkan kapabilitas keimanan kita. Namun ternyata ketika Ramadhan selesai, kita tidak menjadi lebih baik. Jelas, Allah akan murka.

Ramadhan menjadi saat tepat mengais ampunan atas segala dosa, dan untuk membebaskan diri dari sengatan api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia serta batu. Ramadhan mesti menjadikan kita sebagai muslim taat sepanjang tahun.

Oleh sebab itu, marilah bersama-sama mengubah cara hidup kita. Jangan hanya baik dan taat pada saat Ramadhan saja. Jadilah ‘Ramadhani’ dan ‘Ramadhaniyah’ di bulan-bulan lainnya. Bermakna, baiknya kita menjadi muslim dan muslimah yang berkepribadian, bertutur, bertindak, dan beribah seakan kita berada di bulan Ramadhan.

…Oleh sebab itu, jangan hanya baik dan taat pada saat Ramadhan saja. Jadilah ‘Ramadhani’ dan ‘Ramadhaniyah’ di bulan-bulan lainnya….

Konyol jika kita hanya menjadi seorang muslim atau muslimah part time (paruh waktu), karena pahala yang akan kita raih tidak akan paripurna. Tak ubahnya seorang pekerja paruh waktu yang tidak akan mendapatkan fasilitas serta upah sesempurna pekerja tetap.

Allah SWT telah mengingatkan kita di dalam Al-Qur‘an agar kita masuk ke dalam Islam secara kaffah (sempurna), tidak setengah-setengah. Dia berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan.” (Qs Al-Baqarah: 208-210)

Allah tidak mengharapkan kita untuk menjadi seperti malaikat yang sempurna dalam ketaatan kepada-Nya, namun Allah juga tidak menghendaki kita menjadi setan dalam setiap tindakan atau tutur kata. Allah hanya akan menilai usaha-usaha yang kita lakukan demi ketakwaan. Jika Anda mendengar seseorang berkata, “Saya berusaha untuk shalat, atau berusaha melakukan sebisa mungkin.” Apakah menurut Anda mereka benar-benar berusaha? Ataukah mereka hanya mengatakan bahwa mereka hendak berusaha, dan menipu diri mereka? Jika kita benar-benar berusaha, maka kita dapat melakukan apa pun, dan menjadi apa pun, termasuk menjadi benar dan baik.

Kita bisa saja menipu diri kita, tapi kita takkan bisa menipu Allah. Allah mengetahui dengan baik diri kita, Dia juga Maha Tahu seperti apa kemampuan kita. Hal-hal semisal shalat lima waktu, membaca Al-Qur‘an, atau bersedekah merupakan tindakan-tindakan yang tidak mustahil dilakukan oleh kita semua.

Jika kita menghitung berapa lamanya lima kali shalat dalam sehari, kita mendapatkan bahwa itu memakan waktu sekitar 40-an menit. Lalu kita memiliki 1440 menit dalam sehari. Meluangkan waktu 40 menit dalam sehari, berarti kita hanya menggunakan 3 % waktu harian kita. Jika demikian, masihkah kita berargumen bahwa kita tidak memiliki waktu? Atau kita tidak bisa mengatur waktu untuk shalat?

Banyak dari kita yang tidak merasa rugi untuk menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer, di hadapan cermin, makan, bersenda-gurau. Namun mereka merasa seolah rugi jika meluangkan waktu untuk shalat dan ibadah yang menjadi tujuan diciptakannya kita oleh Allah.

Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam lamanya untuk menonton televisi, mendengarkan musik, bercengkerama dengan internet, tapi kita tidak bisa meluangkan beberapa menit saja untuk bercengkerama dengan Allah yang telah memberi kita segala kenikmatan. Jika bukan karena Allah, bisakah kita mendapat kenikmatan menonton televisi, mendengarkan radio, atau bercengkerama di Facebook dan Twitter?

Tak sedikit dari kita yang bekerja full time setiap hari dalam setahun; bangun pagi hari dan pulang malam, untuk mendapatkan kenikmatan dunia. Jika kita bisa melakukan hal itu, lalu mengapa kita tidak bisa meluangkan waktu untuk shalat atau meluangkan harta untuk sedekah, demi kenikmatan di akhirat? Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang merugi dan menyesal di kemudian hari.

Maka, marilah bersama menginternalisasikan perubahan-perubahan positif-eskatologis dalam kepala kita, lalu membenamkan diri kita dalam kehidupan indah berpahala. Hindari sikap menjadi muslim taat hanya pada waktu-waktu tertentu saja.

Saya tidak mengatakan bahwa kita harus menjadi malaikat sepanjang hari dan malam. Yang ingin disampaikan adalah kita setidaknya harus menunaikan kewajiban-kewajiban agama yang telah Allah tetapkan, dan menjauhi diri dari larangan-larangan-Nya.

Kita harus terus menjaga kedekatan dengan masjid, tidak menjauhkan diri darinya sesaat setelah Ramadhan usai. Tak perlu lagi kasak-kusuk mencari peralatan shalat dan Al-Qur‘an ketika Ramadhan akan tiba, karena semuanya selalu kita gunakan setiap hari.

…Jangan membuat setan ridha dengan aurat kalian yang dipamerkan. Jika beralasan bahwa mengenakan jilbab itu panas dan gerah, ingatlah bahwa api neraka itu panasnya berlipat-lipat dari panas api di dunia…

Jangan sampai hijab dan jilbab tersimpan rapi kembali di bagian bawah tempat baju kita, sepeninggal Ramadhan. Karena menutup rapat aurat bagi perempuan muslim dewasa adalah sebuah kewajiban. Buatlah Allah ridha dengan hijab dan jilbab kalian, jangan membuat setan ridha dengan aurat kalian yang dipamerkan. Jika beralasan bahwa mengenakan jilbab itu panas dan gerah, ingatlah bahwa api neraka itu panasnya berlipat-lipat dari panas api di dunia.

Buatlah perubahan hari ini, karena mungkin kita tidak memiliki lagi hari esok. Siapa yang dapat menjamin bahwa setelah membaca artikel ini Anda masih diberi kesempatan hidup oleh Allah? Kematian bisa menyerang kapan saja. Jadi jangan berpikiran untuk menunda-nunda perubahan baik, karena kematian terus menghampiri. Mari memutuskan pilihan. Karena kehidupan dunia fana dan sementara, sementara akhirat kekal dan abadi. [ganna pryadha/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version