View Full Version
Jum'at, 01 Sep 2017

[Cerpen] Riba Membunuhku

Pagi itu tepat pukul 10.00 WIB. Sekitar ada 10 orang ibu-ibu yang sedang berkumpul di salah satu rumahnya. Seperti biasa mereka melakukan “Berjanji” yaitu Istilah peminjaman ibu-ibu di kampung buta huruf ini kepada salah satu lembaga bodong.

“Bu, mau gak minjem ke Berjanji, lumayan buat modal usaha.” Pinta Ibu Rokayah kepada Ibu saodah

“Emang kalau minjem ke berjanji itu gimana bu, sistem nya?” Tanya Ibu Saodah

“Ya, sama aja kaya minjem ke bank-bank bu. Kita minjem 1.000.000 setoran 120.000/bulan selama setahun.” Jawab Ibu Rokayah

“Apa nggak dosa bu. Itu yang 20.000 bunga nya atuh ya” Ujar Ibu Saodah

Kampungf buta huruf adalah julukan untuk kampung cendut yang notabe masyarakatnya tidak bisa membaca dan menulis. Sekitar 50 kepala keluarga di kampung ini dan semuanya terlilit hutang riba. Namun, karena pengetahuan yang minim. Mereka sudah menganggapnya ini adalah hal biasa.

Berbada dengan keluarga Bapak Lukman ini, yang merupakan salah satu tokoh masyarakat di kampung cendut ini. Memiliki seorang Istri bernama Ibu saodah dengan 4 anaknya.

Mata pencaharian di kampung ini adalah bertani. Terutama dalam petani daun teh.

Pada suatu ketika anak ketiga bapak lukman dan ibu saodah ini sudah keluar SD. Dan akan masuk sekolah SMP. Pak lukman, sudah berencana akan tetap melanjutkan sekolah anak nya ini ke jenjang berikutnya. Meski, keterbatasan biaya hidup, pak lukman akan terus berjuang bagaimana pun caranya.

“Andri, kamu mau tidak lanjut sekolah lagi?” Tanya Pak Lukman pada anaknya

“Nggak mau pak, Andri mau bekerja saja. bantu bapak sama ibu. Lagi si teteh sama si Aa juga tidak sekolah lagi kan” Ucap Andri

“Andri kamu harus lanjut sekolah nak, jangan sampai kamu seperti kami. Yang tidak membaca dan menulis. Kamu harus jadi orang pintar di kampung ini nak” Pinta Pak Lukman pada Andri

“Baiklah, pak. Tadinya Andri mau bantu ibu sama bapak saja kerja buat biaya adik Andri nanti sekolah” Jawab Andri sembari menundukan pandangannya

“Kamu adalah anak pintar dan rajin, nak. Bapak yakin Andri pasti menjadi orang sukses suatu saat nanti dengan menjadi orang yang berpendidikan di kampung ini” Tegas Pak Lukman pada Andri

Pak lukman pun, bekerja siang dan malam demi membiayai hidup dan pendidikan Andri.

Andri yang dibekali ilmu Agama oleh bapak nya ini pun, dimasukanlah pada Pesantren sambil sekolah yang jauh dari kampung cendut ini.

Hari demi hari, kebutuhan pak Lukman pun semakin meningkat. Sosok Ibu saodah, yang mulai tergoda dengan pinjaman “Berjanji” ini pun terjebak dalam lingkaran peminjaman gelap ini, tanpa sepengetahuan Suaminya.

“Bu, tumben hari ini masak ayam. Dapat uang dari mana?” Tanya pak Lukman pada Istrinya

“Tadi ibu jual daun the pak, lumayan hasilnya” Jawab Ibu saodah dengan gugup

“Ooh.. memang daun teh Haji Makmur itu sudah layak petik yaa bu?” Tanya kembali pak Lukman

“I... yaa pak. Tumbuh lebat dan sangat hijau. Jadi kemaren ibu ikut metik disana.” Jawab Ibu Saodah

“O begitu, maaf yaa bu. Bapak belum bisa member uang minggu ini. Karena hasil panen nya belum juga terjual” Pinta maaf pak Lukman

“Iya tidak apa-apa, pak” Ucap Ibu saodah sembari meninggalkan pak lukman

Pada suatu ketika kampung cendut ini, di gegerkan dengan salah satu mayat warga nya yang bunuh diri. Menggantung sendiri dirumahnya. Beliau adalah ibu Romlah, temannya Ibu saodah. Kampung ini pun, dibuat geger dengan kejadian gantung dirinya Ibu Romlah di rumahnya.

“Ihh.. syerem yaa. Bu. Bu romlah kok bisa bunuh diri. Padahal dia kan orang kaya di kampung cendut ini.” Ucap ibu zainab kepada ibu saodah yang melayat ke rumah ibu romlah.

Suami bu romlah pun, tak hentinya menangisi istrinya. Ternyata asal usul yang membuat Ibu Romlah gantung diri ini adalah tertekannya di kejar debt kolektor dari pinjaman uangnya kepada “Berjanji”

Ini sebenarnya bukan kejadian satu dua kali, akibat pinjaman ke “berjanji”. Setahun lalu sering suami istri yang tiba-tiba bercerai dengan suaminya akibat cek cok penagihan “berjanji”.

Suatu hari, pak lukman pun merasa aneh terhadap sikap istri nya, yaitu Ibu saodah. Akhir-akhir ini Ibu saodah, lebih sering pergi berbelanja pakaian, makanan dan memberikan uang ke anak nya di pesantren. Pak lukman pun, bertanya-tanya Ibu saodah dapat uang dari mana.

“Bu, kalau boleh tahu ibu dapat uang dari mana bu?” Tanya Pak Lukman

“Mmm.. itu pak. Ibu kan ikut metik daun teh lagi di kebunnya haji makmur.” Jawab ibu saodah

“Tapi, bapak yakin. Penghasilannya tak sebesar ini bu. Ibu beli baju ini dari mana? Ngasih uang ke andri dari mana?” Ucap Pak Lukman tegas

“Ibu punya tabungan pak.” Jawab ibu saodah sambil meninggalkan suaminya kedalam dapur

Pada suatu hari datanglah, seseorang lelaki menemui pak lukman di rumah nya. dia adalah debt kolektor dari peminjaman “Berjanji” terhadap Ibu Saodah.

“Ya Allah. Sungguh. Pak, saya tidak tahu menau bahwa istri saya meminjam uang kepada berjanji ini.” Jawab Pak Lukman.

“Itu urusan bapak. Yang pasti saat ini setoran Ibu saodah yang belum terbayarkan sebesar 10 juta selama 5 bulan. “ Ucap debt koletor

“Astagfirulloh. Beri kami waktu pak. Untuk melunasinya” Pinta Bapak Lukman sembari memohon

“Baik, kami tunggu sampai minggu depan. Jika bapak dan istri tak kunjung membayarnya maka tanah dan rumah ini. Kami sita pak” Ucap debt koletor sambil meninggalkan rumah pak Lukman

Kejadian penagihan ini pun, menjadi perbincangan hangat di kampung cendut ini. Sosok keluarga pak lukman yang dihormati masyarakat setempat ternyata terlibat hutang riba.

“Maafkan, ibu. Pak. Maafkan ibu” Ucap ibu saodah sambil berderai air mata memohon maaf pada suaminya

“Sudahlah, bu. Keluarga kita memang miskin. Tapi, dari dulu bapak tidak setuju dengan peminjaman berjanji ini. Kenapa ibu diam-diam meminjamnya?” Tanya pak lukman, dengan nada pelan

Pak lukman adalah sosok yang bijak di kampung nya, marah pun seakan tak bisa ia lontarkan kepada istrinya ia pun. Untuk melunasi hutangnya pak lukman pun, menjual seluruh tanah dan kebunnya.

Ia dan keluarga sekarang, harus kembali memulai hidup nya dari Nol. Sekarang Ibu saodah sudah merasakan dan sangat menyesal telah meminjam uang ke Berjanji.

“Bu, Bapak tidak akan marah sama ibu. Karena bapak tahu. ini salah bapak, yang tidak member tahu ibu. Bahwa itu adalah perbuatan yang salah dan sangat berdosa.” Ucap pak Lukman sembari meneteskan air mata

Akhirnya ibu saodah menyesali perbuatannya. Dan ia berjanji takan meminjam uang kepada lembaga bodong seperti berjanji dan lain sebagainya.

“Bu, kampung kita ini adalah kampung yang bodoh dalam membaca dan menulis. Bahkan masyarakat sekitar menganggapnya bahwa kita ini adalah kampung buta huruf yang dengan mudah dibodohi.” Ucap pak Lukman

“Iya, pak. Ibu sangat menyesal telah minjam ke berjanji. Yang memberikan bunga yang sangat tinggi hingga merusak kehidupan ekonomi kita pak” Jawab ibu saodah sambil menangis

Akhirnya, pada suatu hari. Pak Lukman pun dengan tegas memberikan pemahaman kepada masyarakatnya di kampung cendut. Dan melarang tegas untuk masuknya lembaga bodong ke kampung cendut ini. Karena sudah beberapa kali, terjadi kasus yang buruk akibat peminjaman ini.

Dalam musyawarah bersama tokoh masyarakat lainnya, Pak Lukman dan pemerintah setempat pun akan melakukan penyadaran dan edukasi kepada masyarakat terkait peminjaman bodong ini. Terutama ia menyarankan kepada semua kepala rumah tangga, untuk senantiasa mengizinkan anak-anak nya untuk bersekolah agar mereka memiliki pendidikan yang tinggi dan dapat merubah peradaban di kampung cendut ini.

Terakhir dalam musyawarahnya bersama tokoh masyarakat lainnya. Pak lukman, menyampaikan “Bahwasannya bu, pak. Kita ini adalah kampung yang di pandang buruk akan skill nya dalam membaca dan menulis. Jangan sampai kita dianggap buruk pula dengan adab dan perilaku kita. Peminjaman dengan unsure bunga tersebut adalah haram hukumnya. Bukan hanya rugi di dunia namun di akhirat. bahkan saya dan keluarga sendiri yang pernah merasakannya sangat sangat begitu menyesal. Mari bersama-sama kita tundukan kepala kita untuk bermuhasabah diri dan memohon toba pada Allah SWT” Pungkas pak Lukman sembari meneteskan air mata. Sekian.

Penulis: Reni Marlina


latestnews

View Full Version