View Full Version
Sabtu, 04 Nov 2017

Kenali Usamah Bin Zaid, Song Joong Ki Pun Lewat

Oleh: Ashaima.Va

 

HARI patah hati nasional yang bikin miris. Song Joong Ki menikah betapa banyak fansnya yang baper. Bagi penggila K-Drama pasti tak asing dengan namanya. Bukan takgaul, bukan tak kekinian, tapi remaja saat ini lebih hapal idola K-Popnya. Mereka kini lebih akrab dengan idola-idola dari negeri ginseng yang notabene adalah figur yang menawarkan gaya hidup yang menyelisihi syari'at. Dari gaya pakaian yang membuka aurat sampai pergaulan bebas berbumbukan pacaran yang sarat maksiat.

Namun sahabat muda, mari kuceritakan sebuah kisah heroik dari seseorang yang menjadi kesayangan Rasulullah. Tak setakar rasanya dengan oppa-oppa tampan itu. Setelahnya kuharap kau tak lagi mengarahkan pandanganmu pada kaum yang taklayak digandrungi itu.

"Al-Hib wa Ibnil Hib" adalah julukan dari sosok itu, artinya kesayangan dari kesayangan. Apa pasal julukan yang bikin envy bisa tersemat padanya? 

Dia tak setampan Oppa-oppa pujaan dari negeri ginseng. Kulitnya hitam, tak se-flawless Sehun, Baekhyun , atau Chanyeol. Hidungnya pesek tak seproporsional Song Joong Ki.

Namanya Usamah bin Zaid, konon Usamah remaja tumbuh menjadi remaja yang cerdik, bijaksana, dan wara'. Saat perang Uhud, Usamah bersama-sama teman ABG-nya mendatangi Rasulullah berharap lulus seleksi pemilihan pasukan pada perang uhud. Karena usia yang belum memenuhi persyaratan Usamah yang masih ABG tak lulus seleksi. 

Tak patah arang, Usamah remaja kembali mengikuti seleksi pemilihan pasukan, kali ini untuk perang khondaq. Berdiri tegap, berharap terlihat tinggi, Usamah saat itu akhirnya terpilih. Di usia 15 tahun, Usamah bergabung dalam garda terdepan pembela Allah dan Rasulnya.

Pada perang-perang berikutnya sosok Usamah menjadi sosok yang tetap tegar berdiri meninggikan kalimat Allah. Saat perang Hunain Usamah menjadi sahabat yang tetap bersama Rasulullah. Ratusan anak panah menikam di kegelapan malam tak lantas membuatnya kalut dan berlari. Bersama-sama dengan ‘Abbas (paman Rasulullah), Sufyan bin Harits (anak paman Usamah), dan enam orang lainnya dari para sahabat yang mulia. Mereka berhasil mengembalikan kekalahan kaum muslimin menjadi kemenangan.

Saat perang Mu'tah, Usamah tetap bertahan bersama pasukan kecil Kholid bin Walid. Setelah sebelumnya Sang Ayah--Zaid bin Haritsah--menjadi panglima pertama yang syahid di Mu'tah. Begitu pula pada peperangan berikutnya, di usianya yang ke-18 Usamah dengan gagah berani menjadi panglima pasukan melawan pasukan Romawi dan memenangi pertarungan dengan gilang gemilang. 

Itulah sosok Usamah, sosok yang menjadikannya dicintai Rasulullah. Sosok yang selalu memegang janji menjadi penjaga Islam yang terpercaya.

Lalu kamu?

Iya kamu...

Berapa usiamu kini? 15 tahun, 18 tahun, atau 23 tahun?

Apa yang sudah kamu lakukan dengan keislamanmu?

Menghapal Al-Qur'an? Ah, males.

Mengkaji Islam? Ah, surga neraka itu urusan nanti.

Membela Islam? Seriously? Sholat ga bolong aja udah Alhamdulillah.

Jangan bilang kamu lebih dilenakan oleh si cantik dan si tampan dari negeri ginseng yang berlenggak lenggok dengan tarian kemaksiatan. 

Jangan bilang kamu lebih tertarik menjadi stalker si cantik dan si tampan yang hidup bebas nilai, kisah kehidupan mereka lebih menarik dibandingkan kamu menapaki jejak Rasulullah dan para sahabatnya. 

Kenali Rasulullah dan para sahabatnya. Sosok-sosok yang disanjung penduduk langit. Yang oleh mereka Islam diperjuangkan sampai titik darah terakhir. Tongkat estafetnya kini ada di tanganmu. Jangan disibukkan dengan mengidolakan kaum yang sungguh rendah derajatnya di mata Allah. 

Tulisan ini bukan sok suci dan sok benar sendiri. Tulisan ini hanya mengingatkan, jangan hidup di dunia khayali. Kecantikan dan ketampanan mereka kelak akan tak berupa di neraka nanti. Cukuplah hadist di bawah ini menjadi pengingat. 

Imam Thabrani meriwayatkan satu hadits dari Ali Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “tidaklah seseorang mencintai suatu kaum kecuali ia akan dibangkitkan bersama mereka.” 

Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: ada seseorang bertanya kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tentang hari kiamat. 

Ia berkata, “kapankah kiamat itu?” beliau menjawab, “Apa yang sudah engkau siapakan untuknya?” ia menjawab, “tidak ada, kecuali aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “engkau bersama dengan siapa yang engkau cintai.” 

Jadi, bangun dan pikir kembali. Tak mau kan berakhir bersama mereka di akhirat nanti. Pengin istiqomah, yuk ngaji. *


latestnews

View Full Version