View Full Version
Rabu, 04 Apr 2018

Temani Kami Hijrah

Oleh: Dhewy Aneisha (Penulis dari Balikpapan)

Adalah kami yang dulunya seorang pendosa, menikmati setiap maksiat tanpa ingat kehidupan akhirat. Bagi kami, sekuler itu bijak. Sebab ajarannya telah mengadakan permisahan antara usuran dunia dan akhirat. Kamipun bebas bertingkah di dunia ini tanpa aturan agama yang harus begini dan begitu, tidak boleh ini dan itu.

Kami leluasa menentukan aturan hidup kami dengan pandangan ala manusia yang lemah dan terbatas. Intinya kebebasan adalah cita-cita kehidupan yang kami idam-idamkan ada pada sekulerisme. Sekali lagi, itu kami yang dulu, kami yang jahiliyah.

Kini, kami telah insyaf di jalan pertaubatan, hijrah dari  kehidupan jahiliyah modern. Tersadarkan oleh virus-virus cinta bernama dakwah yang dilakukoni pengembannya sejak dulu. Sekulerisme yang dulu kami elu-elukan mendadak menjijikan di mata kami.

Bagaimana mungkin aturan Allah dipilih-pilih penerapan dalam kehidupan dunia sedangkan Allah tidak pernah pilih kasih menghamburkan rizky, rahmat dan kasinNya. Bagaimana bisa aturan islam mengekang jalan hidupmu sedangkan ia justru membebaskanmu dari jeratan hawa nafsu. Manusia itu hanya di atur dua hal dalam hidupnya, kalau tidak di atur oleh islam maka ia atur oleh hawa nafsunya. Maka ide kebebasan sejatinya adalah ilusi.

Kami telah hijrah, sungguh bahagia rasanya. Sayangnya bahagia ini tidak sempurna lantaran tiadanya sosok pemimpin yang menemani hijrah kami. Kami terpaksa tertatih-tatih, jatuh bangun di perjuangan hijrah sebab sang pemimpin tidak peduli atas hijrah kami. Sakitnya, bukannya malah didukung dan fasilitasi justru dihalangin dan ditakuti bahkan dikecam dengan label negatif. Sakitnya, ditengah kepayahan kami dalam istiqomah, kau justru pamer tiket nonton bioskop. Duh, sakitnya!

Kami yang hijrah, menutup aurat dengan pakaian syar'i kau biarkan kami dilabeli teroris oleh media. Kami yang hijrah, ingin menafkahi anak istri  dengan harta halal justru kau persulut dengan penerapan ekonimi kapitalis yang berbasis riba. Kami yang hijrah, ingin diatur oleh hukum-hukum islam dalam kehidupan negara, justru kau hina kami dengan tuduhan radikalisme, pemecahbelah kesatuan negara.

Kami yang hijrah, ingin menimba ilmu dari para ustadz dan ulama yang lurus lagi mukhlis, tapi kau justru mengkriminalisasi mereka. Kami yang hijrah, ingin tidur tenang tanpa bayang-bayang tangisan saudara kami di Suriah, Palestina, Rohingya dan negeri muslim lainnya yang terbantai oleh penjajah laknatullah.Tapi, lagi-lagi kau abai, menutup mata dan telinga dari derita mereka. Kecaman, kecaman dan kecaman, begitu yang kau lakukan untuk menghibur mereka. Kami sudah bosan dengan kecamanmu itu, saudara kami butuh bantuan militer.

Duhai pemimpin, temani kami hijrah. Bantu kami tuk jadi raykatmu yang taat pada Allah. Tidakkah engkau tau bahwa taatnya rakyat pada Allah tentu membuat kami juga taat kepadamu karena Allah. Lebih dari itu, taatnya rakyta pada Allah mewujudkan semaraknya rahmat Allah dan punahnya penjajah dalam kehidupan negara.

Duhai pemimpin, temani kami hijrah. Hijrah kami butuh dukungan negara sebagai tameng yang menjaga kami dari godaan sekuker, liberal dan hedonis. Diurusinya kami dengan seperangkat aturan islam kaafah adalah bagian wajib dari proses hijrah. Siapa lagi yang bisa kami harapkan atas dilegalkannya aturan islam jika bukan melalui kekuasaanmu? Apakah kau tidak ingat bagaimana Rasulullah membersamai rakyatnya di Madinah dengan menjadikan kekuasaan sebagai jalan penerapan islam kaafah.

Duhai pemimpin, temani kami hijrah. Temani kami ibadah. Temani kami dakwah. Temani kami memasuki Jannah.

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll). [syahid/voa-islam.com] 

Share this post..

latestnews

View Full Version