View Full Version
Sabtu, 28 Apr 2018

Dilema Dakwah Pemuda

Oleh: Andre Rahmatullah

(Manajer Markom & Prodaya Laznas BMH Kepulauan Riau)

Tidak akan pernah selesai jika kita membicararakan tentang pemuda muslim dan peranannya. Telah sedemikian banyak kajian dan diskusi yang membahas tentang bagaimana peran pemuda muslim saat ini khususnya ditengah krisis berkepanjangan yang melanda umat islam diseluruh penjuru nusantara.

Tapi pada akhirnya diskusi dan kajian itu malah melahirkan sebuah pertanyaan besar  “bagaimana pemuda menyikapi kondisi umat yang tidak cenderung membaik dan malah semakin buruk kondisinya?”. Ironis, pertanyaan ini tidak pernah terpecahkan oleh kita hingga saat ini. Apa penyebabnya?

Apakah ketidakmampuan kita ini merupakan kenyataan bahwa titik kelemahan masalah umat islam saat ini ada pada pemuda muslim itu sendiri yang saat ini semakin jauh dari nilai-nilai ajaran islam. Pemuda yang malu menunjukkan identitas keislamannya. Pemuda yang enggan memperhatikan lingkungan sekitarnya.

Jika kita kembali ke masa lalu, kita ingat Usamah bin Zaid pemuda yang pemberani di zaman Rasulullah alaihi wasallam. Di usianya yang belum genap 20 tahun itu, dia telah menjadi pemimpin pasukan dengan misi besar untuk menaklukkan Romawi, bangsa dengan kekuatan militer terkuat masa itu.

Diantara para prajuritnya tersebutlah nama besar Abu Bakar dan juga Umar bin Khattab. Tapi Rasulullah alaihi wasallam tidak bergeming dan tetap menunjuknya sebagai pemimpin dengan melihat potensi yang besar pada diri Usamah. Berangkatlah Usamah bersama pasukannya.

Akan tetapi di tengah perjalanan terdengar kabar bahwa Rasulullah alaihi wasallam wafat, namun hal tersebut tidaklah menyurutkan langkahnya untuk menaklukkan Romawi. Sesuai pesan Rasulullah alaihi wasallam sebelum pasukannya berangkat. Hingga kemudian sejarah besar dicatat oleh Usamah bersama pasukannya tanpa rasa takut mengusung panji Islam menghadapi Romawi.

Sejarah Islam dipenuhi dengan berbagai cucuran energi para pemuda pemberani dizamannya. Perlawanan dan pembelaan adalah energi dari lahirnya sebuah peradaban dan energi itu kemudian lahir dari sebuah kegelisahan.

Sangat berbeda dengan saat ini, sedih dan prihatin ketika menyaksikan kondisi umat islam saat ini. Pemuda-i seakan begitu mudah tergoda dengan rayuan duniawi. Berbagai deretan keprihatinan tentu hanya akan menjadi sia-sia ketika kita tidak mampu mengatasinya.

Diam, dan akhirnya hanya mampu meratapi kondisi umat tanpa mampu melakukan apapun. Namun itu bukanlah ciri khas seorang pemuda muslim!

Seorang muslim tentu saja tidak akan hanya berdiam diri melihat kondisi sekelilingnya, karena untuk itulah seorang muslim ada. Maka sudah saatnya kita menjadi bagian dari mereka.

Mereka yang mau menjawab semua tantangan yang menghadang. Mereka yang peduli dengan lingkungan sekitar. Mereka yang peduli dengan Islam. [syahid/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version