View Full Version
Selasa, 14 Aug 2018

Duel ala Gladiator Kekinian, Bikin Horor

Oleh: Ashaima Va*

 

Bertarung ala gladiator, barangkali kita hanya bisa membayangkan pertarungan ini terjadi pada masa kekaisaran Romawi. Dengan berbekal senjata tajam, pertarungan dilakukan untuk menghibur para penonton. Duel dilakukan di tengah-tengah Colosseum, lawannya bisa sesama Gladiator, binatang buas, dan atau narapidana.

Kisah heroik seorang Gladiator ini digambarkan secara epik dalam sebuah film yang dirilis tahun 2000. Film yang dibintangi oleh Russel Crowe ini cukup memberikan gambaran bagaimana ngerinya pertarungan demi pertarungan itu berlangsung.

Nahasnya yang terjadi di kawasan barat kota Bogor bukanlah kisah masa lalu, bukan pula kisah epik sebuah film. Pertarungan ala Gladiator ini dilakukan oleh sekelompok pelajar SMP dan SMA. Pertarungan antara dua kubu ini memang rutin dilakukan. Tapi yang terjadi saat itu sampai melibatkan senjata tajam berupa celurit dan samurai. Duel horor yang memakan korban. Tragedi ini menewaskan seorang pelajar SMP bernama MIS (13 tahun). Duel antara korban dan pelaku terjadi pada Selasa (31/7/2019) malam di belakang Terminal Bubulak, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. (detikNews, 3/8/2018)

Menurut Kapolresta Bogor kota, Kombes Ulung Sampurna, aksi ini dilakukan secara terencana. Ada proses perekrutan dan pemilihan peserta duel. Ada yang bertugas merekam video pertarungan untuk selanjutnya akan diunggah di YouTube. Senjata tajam nya pun disediakan oleh alumni SMP tersebut yang sudah berstatus sebagai pelajar SMA. (Liputan6.com, 3/8/2018)

Apa yang mereka peroleh dari duel gladiator ini? Demi pengakuan dari pihak lawan dan janji ilmu kebal bagi petarung yang menang. Miris.

Tiga pasang petarung dipilih, semuanya saling serang dan MIS berakhir dengan sabetan celurit di dadanya. Dia tewas di lokasi dan dilarikan ke RSUD Ciawi untuk autopsi. Dari kejadian ini Polisi menangkap lima orang tersangka dan dua menjadi DPO.

Duel ala Gladiator di Bogor Barat ini menambah deretan panjang kasus serupa di beberapa kota di Indonesia. Terjadi di kalangan pelajar, saat mereka seharusnya menuntut ilmu. Eksistensi diri yang semu, berakhir dengan mati konyol. Mispersepsi terhadap apa yang seharusnya diraih dan diperjuangkan membawa remaja pelajar pada adu fisik ala bangsa barbar. Menjauhkan fitrah mereka sebagai agen perubahan.

Ada yang salah dari proses penanaman nilai-nilai moral relijius remaja saat ini. Sistem pendidikan yang ada tidak mampu mencetak generasi cemerlang yang berkepribadian Islam. Yang memahami kewajibannya sebagai seorang muslim dan tugasnya sebagai seorang pelajar, alih-alih sibuk adu kekuatan dengan berduel ala gladiator.

Jam pelajaran agama yang dipangkas memperburuk keadaan. Sulit untuk berharap pelajaran agama mampu mewarnai para pelajar agar memiliki cara berpikir dan bersikap secara Islam. Yang dominan dikonsumsi remaja malah gaya hidup barat yang serba bebas.

Sistem Pendidikan Islam, Membentuk Generasi Cemerlang

Dalam Islam pendidikan adalah hak seluruh masyarakat tanpa memandang ras, suku, dan agama. Akses terhadap pendidikan akan dipermudah dengan subsidi oleh negara. Secara kualitas pun pendidikan akan membentuk remaja-remaja yang terbina akidahnya dan mumpuni secara keilmuan. Sehingga semestinya negara hadir dalam membina generasi.

Dari sini dipahami tidak ada dikotomi islam dan ilmu dalam pendidikan Islam sebagaimana halnya saat ini. Pendidikan ala kapitalis hanya mampu membentuk individu yang kering jiwanya. Hanya sedikit remaja yang berprestasi, selebihnya disibukkan dengan pergaulan bebas, tawuran, dan narkoba. Maka agama hadir sebagai pondasi ketakwaan. Keimanan pelajar yang kokoh akan memotivasi mereka agar selalu melakukan hal yang produktif. Semua aktivitas yang berbau kemaksiatan akan dijauhi. Keimanan juga akan memotivasi mereka untuk mencintai ilmu dan selalu berinovasi dalam tekhnologi.

Bukti historis mencatat nama-nama Ibn Sina (980 – 1037), Al-Khawarizmi (780-850), Jabir Ibn- Hayyan (721-815), Ibnu al-Nafis (1213 – 1288), Ibnu Khaldun (1332 – 1406), Al Zahrawi (936 – 1013), Ibnu Haitham (965 – 1040), Umar Khayyam (1048 – 1131) dan banyak nama lainnya.

Terlalu banyak prestasi yang ditorehkan generasi cemerlang kaum muslimin. Merekalah peletak dasar keilmuan modern. Maka siapa yang tak kenal Avicena, ilmuan yang berasal dari Uzbekistan ini sudah hapal Qur'an di usia 10 tahun. Pada usia 18 tahun sudah mampu menguasai beberapa bidang ilmu kedokteran, astronomi, mineralogi pengobatan, matematika, fisika, serta geologi. Ibnu Sina juga telah menulis buku tentang fungsi organ tubuh, meneliti penyakit TBC, diabetes dan beberapa penyakit yang diakibatkan oleh efek pikiran. Buku ini kemudian menjadi referensi kedokteran modern.

Bandingkan dengan remaja saat ini. Kalau tak tik tok, duel ala gladiator dilakoni. Sulit untuk berharap mereka jadi remaja yang baik tingkah lakunya dan mencintai ilmu. Mereka disibukkan oleh pembuktian diri yang salah kaprah.  Keliru menempatkan kekuatan fisik, saudara seiman malah kena sabetan celurit.

Keteladanan sejati dikisahkan oleh Ali bin Abi Thalib. Selazimnya peperangan masa lalu selalu dibuka dengan duel satu lawan satu. Dalam jihad melawan kebatilan Ali adalah ksatria yang tak pernah kalah dalam berduel satu lawan satu melawan musuh Islam. Dalam perang badar Ali maju menghadapi Walid bin Utbah, saat itu dia menewaskan sedikitnya 18 prajurit suku Quraisy. Berlanjut pada perang Khandaq dan Khaibar, musuh yang tubuhnya tinggi besar akhirnya tumbang oleh pedang Ali yang bernama dzulfikar. Bagi yang tak mengenalnya pasti akan mengira sehari-harinya hanya diisi oleh aktivitas latihan pedang. Namun tidak, keseharian Ali saat itu berdagang dan dia adalah seorang pelajar yang mencintai ilmu. Ali lebih memilih belajar ketimbang berlatih pedang, bahkan Rasulullah menjulukinya sebagai gerbang ilmu.

Ali bin Abi Thalib bisa menempatkan kapan harus belajar dan kapan harus menggunakan kekuatan fisiknya untuk menumbangkan musuh-musuh Allah. Kisah epik sejati yang hanya bisa terjadi saat kita memiliki keimanan yang kokoh dan mencintai ilmu. Akhir kata, hanya kepada Islamlah kita berharap dan bukan pada kehidupan sekuler yang menegasikan syari'at. Wallahu a'lam bish showab. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google

*Penulis dan praktisi pendidikan, tinggal di Bogor.

Share this post..

latestnews

View Full Version