View Full Version
Jum'at, 25 Feb 2022

Menag Samakan Adzan dengan Suara Anjing, Tak Pantas!

 

Oleh: Rochma Ummu Arifah

Publik kembali digegerkan dengan statement Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil. Kali ini, Menag membandingkan suara toa masjid yang mengumandangkan adzan dengan suara lolongan anjing yang dianggap menganggu ketenangan dan memberikan kebisingan.

Adzan Bukan Masalah

Sebagai negara dengan mayoritas muslim, keberadaan adzan sejatinya bukanlah satu persoalan yang meresahkan. Sudah menjadi kebiasaan dan pemahaman umum, adzan dikumandangan lima kali sehari sebagai pengingat datangnya waktu shalat dan waktunya kaum muslim menjalankan ibadah penting ini.

Hanya saja, belakangan ini, pihak tertentu mempermasalahan mengenai adzan ini. Sampai, diterbitkannya Surat Edaran sebagai pedoman penggunaan pengeras suara di masjid dan musala. Dalam surat edaran ini, dibedakan dua jenis pengeras suara yaitu pengeras suara luar dan pengeras suara dalam. Serta volume maksimal yang bisa dikeluarkan dari pengeras suara ini tak lebih dari 100 desibel. Adanya aturan ini, menurur Menag bertujuan untuk menciptakan ketentraman dan keharmonisan antar warga.

Sangat wajar, jika aturan ini mendapatkan respon dari kaum muslim. Aturan ini seakan menyiratkan bahwa suara yang berasal dari masjid, terutama adzan, serta suara lainnya semisal ceramah atau pun aktivitas keagamaan lainnya yang dilakukan di masjid menjadi sumber ketidaktentraman dan ketidakharmonisan masyarakat. Sehingga, Menag merasa sangat perlu untuk menciptakan aturan dan pedoman seperti ini.

Islamophobia

Jika dilihat dengan akal sehat, tentu tak ada yang salah dengan adzan. Sebagian masyarakat, baik muslim atau pun nonmuslim sudah terbiasa dengan suara adzan ini. Sudah menganggapnya sebagai hal biasa yang tak perlu dipermasalahkan lagi.

Justru menjadi satu pertanyaan tersendiri, jika adzan kemudian dipermasalahkan, seakan menjadi sumber masalah. Bahkan, mirisnya, saat ini, adzan disamakan dengan suara anjing. Terlebih hal ini diucapkan dari mulut seorang pejabat negara. Bahkan, pejabat dengan kedudukan tertinggi di bidang agama, yaitu sebagai Menteri Agama. Satu sosok yang diharapkan mampu menjadi panutan dan acuan mengenai bagaimana masyarakat Indonesia membangun kehidupan antar umat beragama.

Sungguh sayang, sosok ini bahkan sering kali memberikan statemen tak masuk akal, tak logis, dan tak sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri. Hasilnya, Islam digambarkan sebagai satu agama sumber berbagai persoalan.

Ketidakberpihakan pada Islam

Apa yang diucapkan oleh Menag ini semakin membuktikan ketidakberpihakan mereka pada Islam, agamanya sendiri. Sebenarnya, bukan tak sulit untuk menemukan orang dengan karakter yang sama di masa sekarang. Mengaku Islam, tapi justru merendahkan Islam. Memandang syariat Islam biang masalah dan kaum muslim tak boleh bangga dengan agamanya sendiri. Kaum muslim harus menghormati dan menghargai agama lainnya. Bahkan, boleh untuk merendahkan agamanya demi menghormati agama lain. Namun di lain sisi, agama lain seakan tak perlu untuk menghormati Islam ini. Jika Islam bereaksi ingin dihormati dan dihargai, dimunculkanlah slogan Islam intoleran.

Tak hanya mengenai adzan, sejumlah syariat dan simbol Islam yang mulia juga sering kali dilecehkan. Dipertanyakan eksistensinya. Bahkan dibenturkan dengan tradisi dan budaya bangsa. Yang sejatinya tak perlu ada benturan ini karena keduanya masih bisa untuk berjalan beriringan selama tidak ada yang bertentangan. Sebut saja mengenai jilbab dan khimar yang dipakai wanita muslimah. Celana isbal dan jenggot yang dipelihara laki-laki muslim. Semuanya dianggap tak mencerminkan identitas kebangsaan dan tak perlu dibangga-banggakan.

Umat Harus Sadar

Fenomena ini harus membuat umat sadar. Bahwa, umat harus semakin mendekat kepada Islam. Memahami aturan dan syariat Islam dengan lebih sungguh-sungguh lagi. Sehingga memiliki pemahaman yang lengkap dan tepat mengenai Islam. Sehingga, ketika ada sentimen negatif yang menjurus pada Islamophobia, tak ada lagi keraguan, justru keimanan semakin menghunjam. Umat pun harus sadar untuk mulai merangkul sesama saudara, bersatu dan dipimpin oleh keimanan agar memiliki kekuatan melawan kemungkaran dan kemunafikan.

Seribu cara akan dicari oleh musuh-musuh untuk menyerang Islam. Tapi, jika umat muslim bersatu dengan akidah yang kuat dan pemahaman syariat yang benar, semuanya akan mudah untuk dilawan. Guna membuktikan kekuatan Islam serta kemuliaan aturannya. Tak hanya untuk muslim belaka, tapi juga untuk seluruh manusia dan seluruh alam. Wallahu alam. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version