View Full Version
Kamis, 06 Aug 2026

Dinamain ''Abu Lahab'' Karena Sangat Tampan, Tapi Menjadi Simbol Neraka

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah -Shallallahu 'Alaihi Wasallam- keluarga dan sahabatnya.

Nama Abu Lahab tentu tidak asing bagi kita, kaum muslimin. Dia adalah paman Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Dikenal sebagai penentang paling keras terhadap dakwah Islam yang diemban keponakannya.

Nama aslinya adalah Abdul ‘Uzza bin Abdul Muthalib, sedangkan julukan adalah Abu Lahab (Bapak Api/Jilatan Api/Si Menyala).

Dalam kitab Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka disebutkan, Abu Lahab memiliki istri bernama Arwa atau lebih dikenal dengan Ummu Jamil, saudari Abu Sufyan bin Harb sekaligus bibi dari Mu’awiyah. Meski awalnya ia menunjukkan kasih sayang kepada Nabi, sikap itu berubah drastis setelah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menerima wahyu.

Kerasnya penentangan Abu Lahab dan istrinya sehingga Allah abadikan kebinasaan mereka dalam Al-Qur’an, dalam surat Al-Masad.  

Kenapa dinamakan Abu Lahab

Panggilan Abdul ‘Uzza bin Abdul Muthalib dengan Abu Lahab (Bapak Api/Jilatan Api/Si Menyala) memiliki sebab musababnya, yaitu karena Wajahnya Sangat Tampan & Berseri.

Ini adalah ironi sejarah. Nama yang nantinya menjadi simbol neraka, awalnya adalah pujian untuk ketampanan.

Al-Wahidi dalam Tafsir Al-Wasith (4/568) mengutip Qatadah/Muqatil:

قيل: سمي أبو لهب، لأن وجنتيه كانتا حمراوين، كأنما تلتهب منهما النار

Artinya: “Disebut Abu Lahab karena kedua pipinya sangat kemerahan, seolah-olah api sedang menyala darinya."

Ibnu Katsir (14/495) memperkuat ini:

وإنما سمي أبا لهب لإشراق وجهه

Artinya: "Dia dinamai Abu Lahab karena kecemerlangan/wajah berserinya..."

As-Sam'ani (6/299) juga senada:

سُمي أَبُو لَهب لتلهب وَجهه حسنا

Artinya: "Disebut Abu Lahab karena wajahnya yang 'menyala' karena ketampanan."

Al-Jauhari (1/4747) secara eksplisit menyatakan:

وكُنِّي أبو لَهَبٍ به لِجَمالِهِ

Artinya: "Dia diberi kunyah Abu Lahab karena keindahan  atau ketampanannya."

Penutup

Abu Lahab pernah dikenal karena wajahnya yang berseri hingga dijuluki "Si Menyala". Namun, sejarah tidak mengingatnya karena ketampanan, melainkan karena penolakannya terhadap kebenaran.

Julukan yang dahulu menjadi pujian justru diabadikan Al-Qur'an dalam Surah Al-Masad sebagai simbol kebinasaan.

Kisah ini mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh rupa, kedudukan, atau nasab, tetapi oleh iman, akhlak, dan sikapnya terhadap petunjuk Allah. Wallahu a’lam. [PurWD/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version