

Kekayaan bukanlah semata-mata karena banyaknya harta dan tingginya kedudukan. Kebahagiaan juga bukan karena melimpahnya barang-barang yang dimiliki dan banyaknya angan-angan. Betapa banyak orang yang memiliki istana, tetapi tidak menemukan rasa aman dan kebahagiaan. Betapa banyak pula pemilik harta kekayaan yang tidak memperoleh kesehatan dan kegembiraan.
Allah telah menghimpun pokok-pokok kebahagiaan dalam tiga nikmat: keamanan yang menjaga kehidupan, kesehatan yang membuat hidup terasa baik, dan makanan yang mencukupi kebutuhan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
“Barang siapa di antara kalian memasuki pagi dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan yang cukup untuk hari itu, seakan-akan dunia telah dikumpulkan untuknya.”(HR. At-Tirmidzi no. 2346)
Jika pada pagi hari engkau merasa aman dan tenteram, tubuhmu sehat dan terbebas dari penyakit, serta kebutuhan hidupmu tercukupi, pujilah Allah dan bersyukurlah kepada-Nya. Jangan meremehkan nikmat yang telah terbiasa engkau rasakan, dan jangan lalai terhadap berbagai karunia yang meliputimu.
Keamanan yang menenteramkanmu, kesehatan yang membahagiakanmu, dan makanan yang mencukupimu. Tiga nikmat ini, apabila terkumpul padamu, seakan-akan seluruh dunia telah menjadi milikmu.
Karena itu, jangan hanya memandang apa yang luput darimu. Pujilah Allah atas apa yang telah Dia karuniakan kepadamu. Bersikaplah rida, merasa cukup (qanaah), dan bersyukur.
Sebab, kebahagiaan bukanlah ketika engkau memiliki segala sesuatu, melainkan ketika engkau mengetahui nilai dari apa yang telah engkau miliki. Wallahu a’lam. [PurWD/voa-islam.com]