View Full Version
Senin, 30 Nov 2009

Said bin Musayyib: Tak Pernah Tertinggal Shalat Jamaah di Shaf Terdepan

Nama said bin Musayyib tidak terlalu dikenal khalayak umum, namun ia sangat mayhur di kalangan ulama dan para intelektual muslim karena kepakarannya.

Sa'id bin Musayyib adalah pembesar tabi'in. Beliau sezaman dengan para sahabat senior, di antaranya Umar bin Khatahab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, Ummul Mukminin Aisyah dan Ummu Salamah ridlwanullah ajma'in.

Sikap dan prilakunya sangat sesuai dengan namanya, Said berarti bahagia. Dia merasa bahagia dengan tetap tunduk dan taat kepada Allah subhanahu wata'ala dan menjauhi maksiat serta perbuatan durhaka dan sia-sia.

Hidupnya lebih banyak dihabiskan di masjid. Dia tidak pernah tertinggal shalat berjamaah 40 atau 50 tahun, juga tidak pernah melihat punggung orang-orang yang sedang shalat berjamaah karena selalu di shaf terdepan.

Dari Imran bin Abdillah, dia berkata, "Said bin Musayyib berktra, 'tidak ada satu rumah pun yang menjadi tempatku berteduh di kota ini selain rumahku, itupun kadang-kadang untuk sekedar menengok puteriku dan memberinya salam (diaselalu di masjid)." (Thabaqah Ibnu Sa'ad: 5/132).

Dari Harmalah bin Sa'id bin Musayyib, dia berkata bahwa Said pernah mengatakan, "aku tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah selama 40 tahun."

Said bin Musayyin, selama 40 tahun tidak perah meninggalkan shalat berjamaah.

Dari Utsman bin Hukaim, dia bekata, "aku pernah mendengar Sa'id bin Musayyib berkata, 'selama 30 tahun, setiap kali para muadzin mengumandangkan adzan, pasti aku sudah berada di masjid."

Beliau juga pernah mengatakan, "aku tidak pernah ketinggalan takbir pertama dalam shalat selama 50 tahun. Aku juga tak pernah melihat punggung para jamaah, karena aku selalu berada di shaf terdepan selama 50 tahun."

"aku tidak pernah ketinggalan takbir pertama dalam shalat selama 50 tahun. Aku juga tak pernah melihat punggung para jamaah, karena aku selalu berada di shaf terdepan selama 50 tahun." kata Said bin Musayyib.

 

Tak terpukau dengan kekuasaan

Sa'id bin Musayyib juga dikenal sangat tegas dan tidak tunduk dengan kemauan penguasa. Namun, dia sangat lembut dan mengedepankan rasa persaudaraan dalam pergaulan dengan sesama, apalagi dengan orang shalih dan bertakwa.

Dia tidak mau keluar dari masjid hanya untuk menemui panggilan khalifah Abdul Malik bin Marwan yang ingin berbincang dengannya. Bahkan dia pernah menolak lamaran sang khalifah untuk puteranya al-Walid, yang menyebabkan beliau menerima hukuman dan siksaan. Malahan dia menikahkan puterinya dengan seorang muridnya yang bernama Ibnu Abi Wada'ah yang miskin dengan mas kawin dua atau tiga dirham.

Dari Abu Bakar bin Abi Dawud, dia berkata, "sebenarnya puteri Sa'id bin Musayyib telah dipinang oleh oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan untuk dinikahkan dengan puteranya yang bernama al-Walid. Akan tetapi, Sa'id menolaknya sehingga sang khalifah berusaha dengan berbagai cara untuk mendapatkan persetujuannya. Akhirnya, sang khalifah mencambuknya seratus kali di musim dingin, menyiramkan air dingin ke tubuhnya, lalu memakaikan jubah yang terbuat dari kain sutera."

Ibnu Abi Wada'ah, menantu Sa'id bin Musayyib pernah bercerita, "aku sering berbincang-bincang dengan Sa'id bin Musayyib. Pada suatu saat, aku tidak menemuinya selama beberapa hari. Ketika aku datang ke rumahnya, dia bertanya, "ke mana kamu selama ini?" aku menjawab, "istriku meninggal dunia sehingga aku sibuk karenanya." Dia kemudian berkata, "mengapa kamu tidak memberitahukan kepadaku, sehingga aku bisa melayatnya?."

Sa'id bin Musayyib kemudian menyusulnya dengan pertanyaan, "apakah kamu sudah mendapatkan perempuan calon istrimu?" Aku menjawab, "semoga Allah merahmati Anda, siapa yang sudi menikahkan puterinya dengan seorang sepertiku, sedangkan aku tidak mempunyai apa-apa kecuali uang dua atau tiga dirham saja?."

Sa'id berkata, "saya."

Kemudian aku betanya, "sungguh."

Dia berkata, "betul."

"Kemudian dia memuji Allah, membaca shalawat dan salam kepada Rasulullah hingga akhirnya dia benar-benar menikahkanku dengan puterinya hanya dengan dua atau tiga dirham" kisah Ibnu Abi Wada'ah.

Ba'da maghrib, Sa'id bin Musayyib mengantarkan sendiri anak gadisnya ke suaminya yang baru. Melihat keadaan ini, Ibnu Abi Wada'ah merasa tidak enak, dia berkata, "Wahai Abu Muhammad, tidaklah lebih baik anda mengutus seseorang untuk memanggilku sehingga aku bisa datang ke rumah anda?" beliau menjawab, "tidak, kamulah yang layak di datangi. Kamu orang yang belum beristri sehingga alangkah lebih baiknya jika kamu segera menikah. Aku merasa kasihan jika engkau melampaui malam-malam sendirian."

"Ini calon isterimu," kata Said sambil menunjukkan puterinya. Tiba-tiba sang puteri sudah berada di belakang ayahnya.

"Said pun menarik puterinya itu hingga masuk ke rumahku dan lali dia menutup kembali pintunya. Sempat pula puterinya itu terjatuh karena malu, hingga kemudian bangun lagi dengan berpegangan kepada daun pintu." Kata Ibnu Abi Wada'ah.

Puteri Sa'id bin Musayyib seorang pemalu. Dia tidak pernah bertemu dengan laki-laki asing. Dan menghabiskan waktunya untuk menghafal Al-Qur'an dan mendalami sunnah sehingga tumbuh menjadi wanita yang memiliki pemahaman Islam sangat dalam. Maka selama berbulan madu, suaminya tidak datang ke majelis Sa'id bin Musayyib. (PurWD/voa-islam)

 

Maraji': Syaikh Ahmad Farid, Min A'lamis-Salaf (edisi Indonesia: 60 Biografi Ulama Salaf, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta).


latestnews

View Full Version