View Full Version
Jum'at, 28 Sep 2018

Prihatin pada Lembaga Penyiaran, LTMI PB HMI Gelar 'Ngopi Teknologi'

JAKARTA (voa-islam.com) - Pada Jumat (21/09), bidang penelitian dan kajian Lembaga Teknologi Mahasiswa Islam (LTMI) PB HMI, menyelenggarakan diskusi “Ngopi Teknologi” bertemakan “RUU Penyiaran : Single-Mux, Multi-Mux, atau Hybrid?”, yang bertempat di sekretariat PB HMI, jalan sultan Agung no.25, Jakarta.

Kegiatan ini dihadiri oleh dosen senior fakultas teknik elektro Telkom University, Ahmad Tri Hanuranto, yang juga merupakan mantan Rektor Institut Teknologi Telkom, dan dimoderatori oleh Aidil Afdan Pananrang selaku Direktur Penelitian dan Kajian LTMI PB HMI.

Aidil menjelaskan bahwasanya Kegiatan Ngopi Teknologi kedepan akan menjadi agenda rutin yang diselenggarakan LTMI PB HMI, sebagai aktualisasi peran kader HMI sebagai insan akademis, terutama dalam isu-isu keteknologian sesuai dengan peran LTMI.

“Diskusi adalah budaya kaum intelektual, dan dalam seri pertama ngopi teknologi ini kita membahas RUU Penyiaran. Polemik teknologi penyiaran dalam RUU Penyiaran merupakan hal yang penting untuk dibahas, karena berdampak besar dalam pembentukan karakter dan mentalitas bangsa kedepan.” Ujar pria yang pernah menjadi delegasi Indonesia di Asia Pasific ICT Alliance Award (APICTA) ini.

Dalam sambutannya, Direktur Eksekutif LTMI PB HMI, Togar Pasaribu mengungkapkan pentingnya peran penyiaran dalam membangun kualitas sumber daya manusia di Indonesia, sehingga butuh penguatan dan pengawalan terhadap diskusi-diskusi terkait lembaga penyiaran publik agar menignkatkan awareness masyarakat.

“Hari ini sangat banyak kepentingan yang bermain dibalik lembaga penyiaran, karena pemilik media-media swasta juga merupakan tokoh-tokoh politik. Apalagi menjelang tahun politik, media harus bisa berperan netral dan objektif. Disini peran TVRI dibutuhkan sebagai lembaga penyiaran publik milik pemerintah untuk menetralisir media-media swasta tadi” tuturnya.

Ahmad Tri Hanuranto, memaparkan pentingnya positioning lembaga penyiaran dalam memajukan bangsa dan mendidik masyarakat, namun hal ini tidak begitu disadari masyarakat sebagai sebuah pembahasan yang amat substansial. Menurutnya, bagaimanapun implementasinya, penyiaran harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kebermanfaatan bagi bangsa, bukan mengutamakan faktor keuntungan atau komersialisasi semata.

“Baik itu sistem Single-Mux, Multi-Mux, ataupun hybrid, yang penting harus ada transparansi dalam implementasinya. Saya rasa semuanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, tergantung dari perspektif apa yang kita gunakan”, tutur pria kelahiran Surakarta ini.

“Lembaga penyiaran berperan dalam mencerdaskan masyarakat. Apabila konten penyiaran positif, maka akan berdampak positif terhadap masyarakat. Begitupun sebaliknya, Maka dari itu TVRI Sebagai Lembaga Penyiaran Publik harus mendapat perhatian lebih dan diperkuat ”, tambahnya. [ril/syahid/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version