View Full Version
Rabu, 03 Jul 2019

Internet Layak Anak, Sekadar Tak Ada Iklan Rokok?

KEMENTERIAN Pemberdayan Perempuan dan Perlindungan Anak menilai internet di Indonesia belum layak anak karena masih ada iklan rokok yang mudah di akses dan dilihat anak-anak. Deputi Tumbuh Kembang Anak, Lenny N. Rosalin mengatakan media yang masih mengiklankan produk rokok, belum bisa dikatakan sebagai media yang ramah anak. Di sisi lain, juga penting penguatan anak sebagai pengguna media diedukasi tentang informasi yang layak dikonsumsi. (Jakarta, Minggu 23/06/2019).

Iklan rokok membahayakan anak. Namun bahaya dari internet bagi anak bukan sekadar iklan rokok, tapi konten-konten negative yang bertebaran di beranda pencarian internet seperti konten sipilis, porno, syirik dan lainnya jauh lebih berbahaya jika dilihat dan di akses anak-anak. Tak sedikit berita tentang pelecehan seksual hingga pemerkosaan yang dilakukan anak – anak usia sekolah dasar ataupun menengah terhadap teman sebayanya dikarenakan melihat bahkan kecanduan video porno dari gadget mereka. Dan tak sedikit pula yang kemudian hamil ataupun mati terbunuh karena hal tersebut.

Maka sesungguhnya tak cukup standard internet layak anak hanya sebatas ada atau tidak iklan rokok yang anak-anak lihat. Akan tetapi pemerintah juga harus menghentikan serta menerapkan aturan tegas untuk konten-konten tak pantas lainnya yang hingga hari ini masih begitu mudahnya di akses segala usia, baik dalam bentuk iklan otomatis hadir dilayar pencarian ataupun bentuk lainnya.

Namun, internet layak anak akan sulit diwujudkan sepanjang Negara masih mempertahankan paradigma sekuler yang tak mengenal halal haram dan menjauhkan peran agama dari kehidupan. Dimana semua kehidupan berjalan sesuai kehendak manusia semata, dimulai dari perilaku hingga aturan hidup manusia sendirilah yang mengatur tanpa ada campur tangan sang pencipta. Standard halal haram suatu perbuatan dikembalikan ke diri masing–masing rakyat, Negara hanya bertugas memantau dan menjamin kebebasan individu.

Jika telah dijamin kebebasan sedemikian rupa oleh Negara, internet layak anak tak akan pernah terwujud. Justru, hanya akan ada generasi-generasi rusak moral yang lahir dan memenuhi populasi negeri ini atas nama hak asasi manusia. Sebab, tak ada generasi mulia lagi cerdas yang mampu mendirikan sebuah peradaban bangsa lahir dari aktivitas melihat konten-konten negative sepanjang kehidupannya.

 

Sistem Islam Mencetak Generasi Paripurna

Islam sebagai agama yang sempurna telah memiliki aturan serta konsep tentang solusi atas seluruh problematika manusia dalam segala aspek kehidupan, termasuk masalah penjagaan generasi. Sistem Islam satu – satunya sistem terbaik yang memiliki mekanisme komprehensif dalam penjagaan generasi. Dengan bekal ilmu dan pembentukan mental yang sehat dan kuat, ditopang dengan pembentukan sikap dan nafsiyah yang mantap, kehidupan pemuda dalam sistem Islam akan jauh dari hura-hura, dugem dan kehidupan hedonistik lainnya.

Mereka tidak mengonsumsi miras, atau narkoba, baik sebagai dopping, pelarian atau sejenisnya. Karena ketika mereka mempunyai masalah, keyakinan mereka kepada Allah, qadha’ dan qadar, rizki, ajal, termasuk tawakal begitu luar biasa. Masalah apapun yang mereka hadapi bisa mereka pecahkan. Mereka pun jauh dari stres, apalagi menjamah miras dan narkoba untuk melarikan diri dari masalah.

Kehidupan pria dan wanita pun dipisah. Tidak ada ikhtilath, khalwat, menarik perhatian lawan jenis [tabarruj], apalagi pacaran hingga perzinaan. Selain berbagai pintu ke sana ditutup rapat, sanksi hukumnya pun tegas dan keras, sehingga membuat siapapun yang hendak melanggar akan berpikir ulang. Pendek kata, kehidupan sosial yang terjadi di tengah masyarakat benar-benar bersih.

Kehormatan [izzah] pria dan wanita, serta kesucian hati [iffah] mereka pun terjaga. Semuanya itu, selain karena modal ilmu, ketakwaan, sikap dan nafsiyah mereka, juga sistem yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat. Karena kehidupan mereka seperti itu, maka produktivitas generasi muda sangat luar biasa dan ini hanya akan terwujud bila sistem Islam diterapkan secara kaffah dalam seluruh lini kehidupan.*

Tri Wahyuningsih, S.Pi

Pegiat Literasi & Media


latestnews

View Full Version