View Full Version
Selasa, 29 May 2018

Penjilat Penguasa Dzalim di Mata Rasulullah

Siapa yang suka dan mau berteman dengan orang yang dzalim, tentu diantara kita pasti akan menjawab tidak atau bahkan menghindari teman yang demikian.

Apalagi andaikata yang zalim itu adalah seorang pemimpin, tentu bukan satu dua orang yang akan didzaliminya, namun rakyat juga negara terkena imbas atas perbuatannya.

Kedzaliman bukan saja terhadap urusan ekonomi sosial budaya saja namun bisa lebih parah yaitu melakukan kezaliman yang paling besar, yaitu membawa seluruh komponen pemerintahannya kepada kesyirikan yang mengundang berbagai bencana.

Begitulah kedasyatan seorang pemimpin jika melakukan kezaliman, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak mengakui umatnya jika berteman berkawan bahkan mendukung pemimpin yang dzalim sebagaimana hadits dibawah ini, 

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallambersabda;

اسْمَعُوا، هَلْ سَمِعْتُمْ أَنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ؟ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الحَوْضَ

"Dengarkanlah, apakah kalian telah mendengar bahwa sepeninggalku akan ada para pemimpin? Siapa yang masuk kepada mereka, lalu membenarkan kedustaan mereka dan menyokong kezaliman mereka, maka dia bukan golonganku, aku juga bukan golongannya. Dia juga tak akan menemuiku di telaga." (HR Tirmidzi, Nasai dan Al Hakim).

Di antara ciri pemimpin dzalim adalah jika berjanji dia selalu ingkar, demi ambisi kekuasaan biasanya diawal sebelum terpilih dengan sombongnya mengobral seribu janji janji yang mampu menyihir rakyatnya untuk mendukungnya, namun pada akhirnya diingkarinya setelah kepemimpinan dikuasainya.

[Baca: Fenomena Akhir Zaman: Banyak Pemimpin Pendusta, Bejat dan Hina]

Karena niatnya sudah tidak benar makan hasil kerjanyapun akan buruk dan tidak memiliki prestasi yang baik, belum lagi terhitung prestasi akhiratnya, dunianya saja penuh dengan keburukan.

Dari Abu Hisyam as-Silmi berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, 

سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أَئِمَّةٌ يَمْلِكُوْنَ رِقَابَكُمْ وَيُحَدِّثُوْنَكُمْ فَيَكْذِبُونَ، وَيَعْمَلُوْنَ فَيُسِيؤُونَ، لا يَرْضَوْنَ مِنْكُمْ حَتَّى تُحَسِّنُوا قَبِيْحَهُمْ وَتُصَدِّقُوْا كَذِبَهُمْ، اعْطُوْهُمُ الحَقَّ مَا رَضُوا بِه

Kalian akan dipimpin oleh para pemimpin yang mengancam kehidupan kalian. Mereka berbicara (benjanji) kepada kalian, kemudian mereka mengingkari (janjinya). Mereka melakukan pekerjaan, lalu pekerjaan mereka itu sangat buruk. Mereka tidak senang dengan kalian hingga kalian menilai baik (memuji) keburukan mereka, dan kalian membenarkan kebohongan mereka, serta kalian memberi pada mereka hak yang mereka senangi.” (HR. Thabrani)

Seorang pelaku kedzaliman tentu yang akan menjadi teman dan koleganya adalah mereka mereka yang mendukung kedzaliman pula.

Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman:

وَكَذٰلِكَ نُوَلِّى بَعْضَ الظّٰلِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang zalim berteman dengan sesamanya, sesuai dengan apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-An'am: 129)

Sa'id meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan takwil ayat ini, bahwa sesungguhnya Allah mempertemankan manusia berdasarkan amal perbuatan mereka. Dengan kata lain, orang mukmin adalah teman orang mukmin lainnya di masa kapan pun dan di mana saja. Orang kafir adalah teman orang kafir, di mana saja dan kapan pun berada. Iman bukanlah hanya sekadar angan-angan, bukan pula sebagai perhiasan (melainkan harus disertai dengan amal perbuatan). Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir.

Al-Hafiz ibnu Asakir telah meriwayatkan hadits berikut ini dalam biografi Abdul Baqi ibnu Ahmad melalui jalur Sa'id ibnu Abdul Jabbar Al-Karabisi, dari Hammad ibnu Salamah, dari Asim, dari Zar, dari Ibnu Mas'ud secara marfu’ yaitu:

مَنْ اَعَانَ ظَالِمًا سَلَّطَهُ اللّٰهُ عَلَيْهِ

Barang siapa yang menolong orang yang zalim, maka Allah akan menjadikan orang zalim itu berkuasa atas dirinya.

Bisa jadi adanya pemimpin dzalim yang hadir ditengah-tengah kehidupan kita karena kezaliman kita juga, untuk itu masih banyak kesempatan bagi kita memperbanyak istighfar dan kembali beramal shalih dengan benar agar Allah Ta'ala berikan kepada kita pemimpin yang sesuai dengan cita cita dan harapan kita, yaitu pemimpin yang sholih yang mampu berbuat adil kepada seluruh rakyat dan bangsa. Wallahu a'lam. [PurWD/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version