View Full Version
Kamis, 05 Jun 2014

Presiden Mesir al-Sisi Membuka Kembali Hubungan Cairo-Teheran

CAIRO (voa-islam.com) - Menjadi sangat jelas siapa sejatinya Marsekal Abdul Fattah al-Sisi, yang memenangkan pemilihan presiden, hanyalah kaki tangan Amerika, Israel, dan Iran. Presiden Amerika Barack Obama, Raja Arab Saudi, Abdullah, dan sejumlah anggota Liga Arab, sudah mengucapkan selamat kepada al-Sisi.

Sementara itu, menjelang pelatikan al-Sisi, pemerintah Mesir telah mengundang Presiden Iran Hassan Rouhani upacara pelantikan Presiden baru terpilih Abdel Fattah al-Sisi. Ini merupakan langkah normalisasi hubungna Mesir-Iran yang sudah terputus sejak tahun 1980 .

Al-Sisi, mantan panglima militer yang tahun lalu menggulingkan pemimpin pertama Mesir yang dipilih secara bebas, Mohammed Mursi, diharapkan akan dilantik sebagai presiden akhir pekan ini. Al-Sisi memenangkan pemilihan presiden dengan tingkat partisipasi dari rakyat Mesir, yang sangat rendah, dan ini melemahkan legitimasinya sebagai presiden.

Iran mendukung revolusi ‘Arab Spring’ yang berlangsung di tahun 201, yang menjatuhkan Presiden Hosni Mubarak , dan menganggapnya sebagai “kebangkitan Islam”, dan diikuti oleh kemenangan Ikhwan, kemudian tentara menggulingkan kekuasaan Mursi pada Juli tahun lalu, dan Tehran mendukung tentara Mesir yang menggulingkan Mursi, karena Mursi menjdi ‘simbol’ kebangkitan Muslim Sunni, dan membahayakan Syi’ah secara global.


“Dia diundang baik dalam kapasitas sebagai presiden Iran dan ketua Gerakan Non –Blok”, " kata juru bicara kepresidenan Mesir Ehab Badawi kepada Reuters. Sebelumnya, dikalangan pengamat politik, dan aktifis pergerakan di Mesir, menuduh Abdul Fattah al-Sisi penganut Syi’ah.

Kantor berita resmi Iran Fars mengatakan bahwa perwakilan Mesir di Teheran bertemu dengan kepala staf Rouhani, Mohammad Nahavandian , dan menyerahkan undangan resmi dari Presiden interim Adly Mansour.

Rouhani mengambil alih kekuasaan pada tahun 2013 , telah berjanji untuk meningkatkan hubungan dengan negara-negara tetangga Teheran. Iran dan Mesir memutuskan hubungan diplomatik resmi pada tahun 1980 setelah Teheran marah, karena Teheran menuduh Mesir ikut dalam penggulingan Shah Iran.

Sekarang dengan terjadinya hubungan timbal-balik antara Cairo-Teheran, maka semakin berdampak buruk bagi masa depan dunia Islam, khususnya Sunni. Di mana bukan hanya Mesir yang menormalisasi dengan Iran, terapi Arab Saudi dan negara-negara Arab Teluk membangun hubungan dengan Iran. Ini bersamaan dengan perubahan sikap Amerika Serikat yang menjadikan Iran sebagai sekutu baru. Segalanya telah berubah. (afgh/wb/voa-islam.com)


latestnews

View Full Version