View Full Version
Kamis, 28 Dec 2017

Cerita di Balik Intifadah Pertama: 'Mereka Mematahkan Tulang Saya'

Sahabat VOA-Islam...

Sudah 30 tahun sejak intifada palestina pertama terjadi, bara perlawanan masih terus berlanjut. Membawa pesan-pesan heroik di setiap penjuru Palestina. Intifada adalah gambaran total dari pemberontakan terhadap pendudukan dan sebagai simbol perlawanan rakyat Palestina.

Gambaran yang begitu akrab di mata kita, bagaimana orang-orang Palestina yang hanya bersenjatakan batu, melempari tentara Israel yang lengkap dengan kendaraan militernya.

Bagaimana Intifadah Pertama Kali Muncul?

Pada tanggal 8 Desember 1987, sebuah kendaraan Israel melindas sebuah mobil yang membawa empat pekerja Palestina di kamp pengungsi Jabalya, di Jalur Gaza utara. Keempat orang Palestina terbunuh, disusul oleh demonstrasi spontan yang dengan cepat menyebar melintasi tepi Barat.

Ketegangan sudah meninggi sebelum pecahnya demonstrasi, yang didukung oleh iklim politik yang buruk. Selain pengambilalihan lahan secara terus menerus, Israel memiliki kontrol penuh atas pembangunan sosial, ekonomi dan politik Palestina. Hingga kemudian muncul Intifadah enam tahun ditandai oleh mobilisasi dan demonstrasi massa yang populer.

Ketika pasukan pendudukan Israel memberlakukan jam malam yang berjalan lama di kota-kota, warga Palestina menjalankan universitas, sekolah, dan klinik bawah tanah. Boikot produk dan bisnis Israel menyebabkan munculnya ekonomi nasional yang didorong oleh barang-barang rumahan dan peningkatan produktivitas pertanian.

Menurut organisasi hak asasi manusia Israel B'Tselem, 1.070 orang Palestina dibunuh oleh pasukan Israel selama tahun-tahun Intifada, termasuk 237 anak-anak. Pemukim Yahudi juga membunuh 54 warga Palestina.

Lebih dari 175.000 warga Palestina juga ditangkap pada periode yang sama, dan 2.000 rumah dihancurkan dengan metode penghukuman kolektif Israel.

Di bawah perintah menteri pertahanan Israel Yitzhak Rabin, komandan tentara Israel diinstruksikan untuk tidak ragu dalam melumpuhkan pemrotes Palestina. Saat ini, kebijakan ini telah berevolusi untuk secara khusus menargetkan lutut dan kaki pemuda Palestina untuk melumpuhkannya.

Di bawah ini, tiga orang Palestina yang mengalami intifadah pertama, berbagi pengalaman mereka.

Wael Joudeh ( 46) desa Irak al-Tayeh, Nablus

Pada tanggal 26 Februari 1988, Wael Joudeh yang berusia 17 tahun dan sepupunya Osamah pulang ke rumah selepas menggembalakan domba mereka. Saat itu mereka melihat sekelompok tentara Israel mengikuti mereka kembali ke desa mereka, sebelah timur Nablus.

Saat tentara berhasil menyusul mereka, mereka mulai memukul mereka.

Hari ini, Wael duduk di tempat yang sama dimana dia diseret dan dipukuli oleh tentara Israel. Menerawang masa lalunya yang begitu menyakitkan.

"Awalnya, salah satu tentara melepaskan topi militernya dan memukulkannya ke kepala saya hingga saya terjatuh ke tanah. Kemudian setelah itu dia memukuli saya dengan bertubi-tubi.” kata Wael kepada Al Jazeera.

"Saya lahir untuk membunuh orang-orang Palestina," teriak tentara itu kepada Wael.

"Salah satu dari mereka memutar lenganku ke punggungku, sementara yang lain mulai menumbuk pergelangan tanganku dengan sebuah batu, mencoba mematahkan tanganku sepenuhnya," terang Wael.

Sementara itu, Osamah berusaha melarikan diri, namun langsung terseret oleh tiga tentara Israel dan dipukuli di tanah.

"Mereka memukuli kita dengan semua energi yang mereka punya. Mereka tidak hanya ingin mematahkan tulang kita dan untuk menyakiti fisik kita, mereka juga ingin merendahkan kita dan menghancurkan semangat kita," kata Wael.

"Batu-batu Palestina itu penuh belas kasihan," kenangnya. "Karena itulah kita selamat."

Mereka berdua tidak sadar, pada saat itu, bahwa seorang pria di sebuah bangunan yang berjarak 200 meter mendokumentasikan setiap saat siksaan menyakitkan mereka.

Meskipun ada seorang wanita dari desa terdekat berusaha menghentikan serangan tersebut, tentara Israel menyeret Wael dan Osamah ke kendaraan yang akhirnya memindahkan mereka ke pusat penahanan Tubas di al-Faraa, di Tepi Barat yang diduduki.

Malam itu, seorang perwira Israel menyerbu masuk ke sel Wael dan bertanya, "Apakah Anda yang tulangnya hancur oleh tentara itu?"

"Sekarang seluruh dunia mengira Anda sudah mati," katanya pada Wael.

Wael dan Osama kemudian dibawa ke sebuah ruangan di pusat penahanan, di mana mereka terkejut melihat kerumunan wartawan bergegas menuju mereka. Kamera dihadapkan ke wajah mereka sementara pertanyaan diteriaki tentang kejadian yang tertangkap di kaset.

"Kami tidak tahu itu didokumentasikan, kami shock," kata Wael, yang berbicara tentang apa yang terjadi padanya.

Tak lama setelah itu, keduanya dilepaskan. Israel mendapat tekanan setelah pemberitaan media dan tersebarnya dokumentasi penyiksaan Wael dan osama.

Ini bukan kali pertama Wael selamat dari penculikan. Pada tanggal 31 Desember 1985, sekelompok pemukim Israel menculiknya saat dia dalam perjalanan ke sekolah.

Ketika pasukan Israel melakukan intervensi, mereka dengan cepat menahan dan menginterogasinya. Pada usia 17 tahun, Wael divonis tujuh bulan penjara.

Selama rentang waktu enam tahun selama Intifadah, Wael ditangkap lima kali dan menghabiskan banyak waktu di penjara dan pusat penahanan Israel.

Kini 46 tahun, Wael bekerja sebagai pegawai Kementerian Keuangan Palestina. Ia menikah pada tahun 1996 dan memiliki empat anak, dua di antaranya saat ini adalah mahasiswa.

"Saya selalu mengatakan kepada anak-anak saya apa yang terjadi pada saya, saya tidak pernah mencoba menyembunyikannya," katanya. "Mereka selalu menceritakan kisah saya kepada rekan dan teman mereka."

Wael dan Osamah dianggap sebagai ikon menonjol dari Intifadah pertama. Apa yang mereka lalui memicu demonstrasi dan pemberontakan di tingkat akar rumput, yang memaksa Liga Arab mengadakan pertemuan darurat mengenai nasib orang-orang di wilayah Palestina yang diduduki.

Tapi Wael yakin dia dan Osamah tidak pernah mendapat kehormatan yang pantas mereka dapatkan.

"Penghormatan terhadap rakyat adalah hal yang paling penting, tapi sayangnya, Otoritas Palestina belum menunjukkan rasa hormat dan penghargaan kepada kami," katanya.

Khadijah Abu Shreifa, 65, kamp Jalazone, Ramallah

Khadijah berjalan perlahan, menyeret kakinya yang lumpuh setelah ditembak oleh tentara Israel.

Anak-anaknya dan cucu-cucunya berkumpul di sekelilingnya di rumahnya di kamp Jalazone, sebelah utara Ramallah, dan dia menceritakan kisah perjuangannya selama Intifadah pertama.

Dia adalah seorang yang selamat ketika penindasan yang mengerikan itu terjadi. Ketika itu tentara Israel melakukan berbagai macam cara untuk membendung perlawanan Intifadah. Parahnya mereka tidak membedakan antara pria dan wanita, anak-anak dan orang tua. Semua diperlakukan sama sadisnya.

Khadijah Abu Shreifa adalah pengungsi Palestina. Keluarganya dipaksa keluar dari rumah mereka di desa Safriyya pada tahun 1948. Mereka pindah ke kamp Aqabat Jabr di Yerikho, lalu ke kamp Wahdat di Yordania, dan akhirnya ke kamp Jalazone setelah perang pada bulan September 1970.

Khadijah (65) tidak ingat tanggal pastinya, tapi dia ingat setiap detailnya hingga hari ini. Dia mengingat bagaimana warga Palestina di kamp Jalazone memimpin sebuah demonstrasi besar, yang berakhir dengan penindakan secara keras oleh pasukan Israel yang menyebar ke seluruh kamp.

"Saya mendengar salah satu tentara melecehkan sekelompok gadis muda secara verbal, mereka mengatakan hal-hal seksual kepada mereka. Hal itu membuat saya marah, jadi saya mencoba untuk menghadapinya.Tentara itu mulai mengutuk saya dan bergerak ke arah saya untuk memukul saya."

Khadijah mengatakan kepada Al Jazeera seluruh pasukan militer Israel menyerangnya, tentara tersebut memukulinya dan menarik rambutnya. Salah satu tentara menembaknya dari jarak dekat, berniat membunuhnya.Tapi ternyata dua peluru yang mereka tembakan hanya bisa melukainya, satu di bahu dan yang lainnya di kaki. Hal ini membuatnya menjadi orang pertama yang terluka di kamp Jalazone selama Intifadah pertama.

Para wanita kamp bergegas untuk menyelamatkan Khadijah dari tentara Israel. "Salah satu wanita merobek jilbabnya untuk mengikat luka saya. Kemudian orang-orang di kamp tersebut membawa saya ke rumah sakit di Ramallah, di mana seorang perwira Israel datang untuk mencoba menangkap saya.

"Tapi saya diselundupkan keluar dari rumah sakit," kenangnya.

Khadijah menambahkan bahwa para wanita kamp berangkat untuk menunjukkan dan mengungkapkan kemarahan mereka atas serangan tersebut. Pasukan Israel menekan demonstrasi dengan perlakuan keras, dan 40 perempuan terluka oleh peluru karet.

Begitu Khadijah kembali ke Jalazone, dia disambut oleh warga dengan parade besar yang mengaraknya ke seluruh kamp.

Dia dibawa di pundak mereka sembari meneriakkan "Kita tidak akan takut!" dan penduduk bernyanyi bersamanya.

Ini bukan akhir dari keterlibatan Khadijah; Dia melanjutkan perjuangannya bersama dengan wanita kamp lainnya.

"Tentara Israel selalu mengejar anak-anak, mereka akan menangkap mereka dan memukul mereka. Setiap kali saya melihat mereka menangkap seorang anak, saya akan menariknya menjauh dari mereka, dengan mengklaim bahwa dia adalah anak saya."

Selama Intifadah pertama, pasukan Israel sering memberlakukan jam malam, kadang selama 40 hari berturut-turut. Ketika jam malam itu lama, warga akan kehabisan makanan di rumah mereka, dan saat itulah Khadijah akan keluar dari kamp untuk mengambil makanan dan mendistribusikannya.

"Saya mengatakan kepada tentara Israel bahwa anak perempuan saya sakit dan membutuhkan obat-obatan, dan saya mendapat izin untuk pergi menggunakan mobil keluarga kami. Dalam perjalanan pulang, saya mengisi mobil dengan makanan dan sayuran dan membagikannya kepada penduduk di kamp tersebut."

Apa yang diceritakan Khadijah diaminkan oleh Presiden Uni Komite Wanita Palestina, Khitam Saafin. Khitam Saafin mengatakan kepada Al Jazeera bahwa perempuan Palestina memainkan peran penting selama Intifadah pertama.

Yang terpenting di antara peran ini adalah pembentukan komite, di berbagai lingkungan, yang mendidik anak-anak selama serangan umum yang terjadi pada tahun pertama Intifadah.

Perempuan memainkan peran sentral dalam demonstrasi dan konfrontasi dengan pasukan pendudukan Israel. Saafin menceritakan banyak perempuan yang mengangkut batu dan berdiri  di garis depan. Kemudian melemparkan batu-batu tersebut ke arah tentara Israel.

"Wanita juga berhasil mencegah pasukan Israel menahan pemuda dan anak-anak, tanpa rasa takut, para wanita palestina akan menyerang tentara dan menarik anak atau pemuda itu dengan paksa, sehingga mereka bisa lolos dari cengkeraman tentara israel."

Saafin menambahkan bahwa para wanita Palestina juga berhasil dalam menggerakan pemboikotan produk israel sehingga menghasilkan produk alternatif Palestina. Ia juga berbicara tentang sekelompok tetangga wanita yang akan bertemu secara teratur untuk menghasilkan produk buatan tangan lokal, sebagai pengganti orang-orang Israel.

"Produk Israel stagnan di toko-toko, tidak ada yang membelinya. sementara produk Palestina mulai menggantikannya."

"Jika seseorang memiliki sebidang tanah kecil, mereka akan memberikannya secara sukarela kepada wanita yang akan menanamnya dan memanfaatkannya. Para wanita akan melakukan penanaman dan pemanenan dan membagikan hasil panen mereka kepada orang-orang di lingkungan mereka," pungkasnya. [syahid/voa-islam.com]

Kiriman Uni Mubarok

Sumber: Aljazeera


latestnews

View Full Version