View Full Version
Selasa, 14 Sep 2010

HRW: Pelanggaran PihakThailand Adalah Justifikasi Bagi Pejuang Muslim

Thailand Selatan (Voa-Islam.com) - Sebuah kelompok hak asasi manusia terkemuka kemarin (11/09) memperingatkan bahwa penggunaan kekuatan tidak sah oleh pasukan keamanan Thailand terhadap umat Islam di provinsi selatan menyebabkan serangan yang akan terus terjadi diwilayah tersebut. Mereka juga mengutuk serangan yang dituduhkan kepada para pejuang Muslim yang telah mengganggu pendidikan di wilayah yang dilanda kekerasan itu.

Human Right Watch (HRW) memperingatkan penganiayaan terhadap orang-orang Muslim dalam tahanan, penggunaan kekuatan tidak sah oleh pasukan keamanan Thailand yang menyerang umat Muslim karena pejuang Islam membunuh dan menargetkan pejabat pemerintah dan militer serta etnis Thai Buddha, serta pembiaran terhadap para anggota pasukan keamanan yang terbukti bersalah, merupakan justifikasi bagi para pejuang muslim Thailand untuk terus melakukan serangan-serangan mematikan.  

"Para pejuang Islam mungkin mengatakan bahwa pelanggaran yang dilalukan oleh pasukan keamanan Thailand telah membenarkan serangan mereka. Pemerintah Thailand seharusnya juga tidak membiarkan pasukannya untuk mengadopsi logika yang sama," kata Shopie Richardson direktur pelaksana HRW Asia.

HRW mengatakan bahwa dalam enam tahun terakhir, tidak ada satupun penuntutan pidana terhadap pihak keamanan Thailand dan para antek-anteknya yang berhasil dilakukan dalam kasus serangan terhadap umat Islam, termasuk pembunuhan terhadap masyarakat Muslim, para guru dan pemuka agama dan siswa di sekolah-sekolah Islam.

"Setiap upaya oleh pemerintah Buddha Thailand untuk melindungi prajuritnya dari tanggung jawab pidana lebih lanjut, akan mengintensifkan siklus kekerasan balas dendam."

..Para pejuang Islam mungkin mengatakan bahwa pelanggaran yang dilalukan oleh pasukan keamanan Thailand telah membenarkan serangan mereka..

HRW juga mendesak pemerintah untuk menjamin keamanan sekolah setelah dua guru tewas di Narathiwat pada hari Selasa (07/09), yang memicu penghentian kegiatan belajar di sekolah-sekolah negeri yang dikelola pemerintah selama tiga hari.

"Serangan para pejuang Muslim terhadap para guru telah menciptakan gangguan yang paling serius terhadap pendidikan di Selatan," kata Sophie Richardson. "Ini tidak dapat dibenarkan dalam situasi apapun."

Guru yang bekerja di sekolah negeri sering menjadi sasaran karena mereka dianggap sebagai simbol otoritas pemerintah di wilayah Selatan, di mana pejuang Islam melihat sistem pendidikan pemerintah sebagai upaya oleh Bangkok untuk memaksakan budaya Budha pada umat Islam di wilayah itu.

Sejak perjuangan pemisahan diri umat Islam dari pemerintahan Buddha Thailand itu kembali meletus pada Januari 2004, lebih dari 4.300 orang tewas termasuk 135 guru, menurut Dewan Penasihat untuk Pembangunan Perdamaian di Provinsi Perbatasan Selatan. Sebanyak 121 guru telah terluka dalam insiden kekerasan, katanya.

Wilas Petchprom, 54, seorang guru di Sekolah Kayee Manang, dan istrinya, Komkam, 53, seorang guru di Sekolah Tungtodang, ditembak mati pada hari Selasa oleh sekelompok orang bersenjata saat bepergian ke pasar di provinsi Narathiwat. Kematian mereka telah menimbulkan tuntutan baru agar pemerintah memberikan perlindungan yang lebih baik bagi para guru Buddha di Selatan yang telah menutup banyak sekolah di seluruh wilayah sebagai protes.

Upacara kremasi kerajaan terhadap keduanya yang disponsori para guru Buddha diadakan di Wat Lamphu di distrik Muang kemarin (11/09). (aa/bp)


latestnews

View Full Version