View Full Version
Rabu, 27 Dec 2017

Geliat Islam di Eropa

Oleh: Firda Umayah, S.Pd 

Islam penebar rahmat. Mungkin itulah salah satu ungkapan yang dapat dilukiskan untuk kondisi meningkatnya jumlah populasi Muslim di wilayah Eropa. Ya, beberapa sumber media menyebutkan bahwa populasi muslim di Eropa akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang.

Sebagaimana yang pernah dilansir dalam detik.com, tempo.co dan republika.co.id, hasil studi yang dilakukan Pew Research Center di 30 negara Eropa menyebutkan bahwa akan terjadi peningkatan prosentase jumlah muslim lebih dari dua kali lipat sampai tahun 2050.

Meningkatnya populasi muslim di wilayah Eropa bukanlah tanpa suatu alasan. Banyak alasan yang dapat digali dari masuknya para mualaf ini. Ada yang masuk karena ingin mendapatkan ketentraman hidup. Banyak pula yang masuk Islam karena panggilan jiwa setelah mengkaji Islam lebih dalam. Namun, satu hal yang pasti bahwa mereka semua yang masuk kedalam agama Islam selalu merasakan perubahan hidup yang positif.

Mengapa ini bisa terjadi? Disadari atau tidak, setiap manusia memiliki potensi kehidupan yang sama. Manusia dibekali akal dan potensi hidup seperti kebutuhan jasmani dan berbagai naluri. Diantara naluri yang dimiliki manusia adalah naluri atau kecenderungan untuk mengagungkan atau menyembah sesuatu. Hal ini muncul karena pada dasarnya setiap manusia memiliki kekurangan dan rasa lemah atau ketidakberdayaan. Sehingga ia butuh sesuatu yang mampu menjadi sandaran baginya. Namun, di era globalisasi sekuler kapitalis ini, banyak manusia yang mengarahkan naluri ini kepada unsur non spiritual atau non ruhiyah.

Hal ini wajar sebab paham sekuler memang sangat menjauhkan kehidupan dunia dari yang namanya aturan agama. Sedangkan paham kapitalis, selalu menjadikan materi sebagai tolak ukur kebahagiaan dan menggapai segala hal. Sehingga, manusia yang memiliki pemahaman ini cenderung memiliki kekosongan hati dari aspek spiritual.

Jika kita memahami diri lebih dalam, maka akan kita dapati bahwa adanya segala sesuatu di alam ini pastilah ada yang menciptakan. Tidak dapat dibenarkan jika segala sesuatu tercipta dari materi lain. Sebab, jika ini terjadi, manusia akan kesulitan untuk dapat mengisi kekosongan jiwanya akan kebutuhan naluri beragama. Sehingga, pada dasarnya manusia akan cenderung untuk beragama.

Hanya saja, bagi mereka yang lebih mendalami permasalahan ini, mereka cenderung memilih Islam sebagai agama mereka. Sebab, Islam merupakan agama yang sesuai pada fitrah manusia dimana penyembahan hanya tertuju kepada Allah Azza wa Jalla Sang Pencipta sekaligus Sang Pengatur kehidupan dan alam semesta.

Terlepas dari itu semua, sejarah juga mencatat ada hubungan erat antara masyarakat Eropa dengan masyarakat Islam yang hidup pada zaman Daulah Islam. Sebab, selama masa kejayaan Daulah Islam melalui institusi Khilafah Islamiyah, Islam telah masuk kedalam dua pertiga wilayah dunia termasuk Eropa. Kita bisa lihat hal tersebut dari penemuan bekas-bekas peradaban Islam di wilayah Eropa.

Namun, tidak semua bekas peradaban Islam masih nampak di setiap wilayah Eropa yang dahulu menjadi bagian dari daulah Islam. Sebab, menjelang dan pasca runtuhnya Khilafah Islam yang berpusat di Istambul (Turki) banyak konspirasi barat yang sengaja dilakukan untuk menghancurkan institusi ini beserta para pengikut dan bekas peradabannya. Meskipun demikian, semakin cerdasnya masyarakat terhadap berbagai konspirasi ini membuat Islam kembali bersinar di bumi Eropa.

Hal ini dapat dilihat dari semakin besarnya respon positif masyarakat Eropa terhadap Islam. Bahkan, dalam salah satu artikel tempo.co dijelaskan bahwa populasi muslim Swedia merupakan yang tertinggi di wilayah Eropa. [syahid/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version