View Full Version
Jum'at, 02 Oct 2009

Cerpen Remaja (2): Jeda Antara Kita

Cerpen Remaja : Jeda Antara Kita
Oleh : Ria Fariana

“Bye…see you tomorrow.”
“Bye…” kulambaikan tanganku hingga mobil itu hilang di ujung jalan. Baru saja pintu kututup secara perlahan-lahan, tapi…
“Keluar bersama Robert lagi, Nin?” suara lembut Mbak Eka tetap mampu mengejutkanku. Aku mengangguk pelan dan segera lari ke kamar.
Ah…kenapa sih Mbak Eka selalu ingin tahu dengan siapa aku keluar. Dia sendiri kan tahu kalau tidak dengan Bob yang selalu dipanggilnya dengan nama lengkap ‘Robert’, dengan cowok mana lagi aku mau pergi. Mama juga sih pakai nitipkan anak semata wayangnya ini ke Mbak Eka yang alim itu, kayak aku nggak bisa jaga diri.

Jujur saja, sebetulnya aku nggak sebel-sebel banget sama Mbak Eka, soalnya jadi ingat sama mama. Di negara serba boleh kayak Amerika ini, jarang banget ada orang yang mau memperhatikan apalagi menasehati kayak Mbak Eka. Tapi nggak enaknya aku jadi canggung kalau mau bersikap. Gimana enggak, kalau yang dinasehatkan cuma itu-itu saja. Yang Bob bukan mahromlah, yang beda keyakinanlah, jangan pergi berduaan atau jangan berteman terlalu dekat. Padahal Mbak Eka tahu sendiri kalau jadi anak tunggal tuh nggak enak. Pingin banget punya kakak laki-laki yang bisa melindungi dan tempat berbagi rasa. Dan itu semua ada pada diri Bob. Dia dewasa sekali dengan usianya yang hanya terpaut dua tahun dariku. Lagipula Bob nggak pernah berbuat kurang ajar atau pun usil. Kami juga nggak pernah melakukan sesuatu di luar batas seperti yang dilakukan banyak remaja di sini. Karena antara kami, aku dan Bob tidak ada hubungan khusus layaknya orang berpacaran. Walaupun hampir semua teman mengira seperti itu, bahkan mungkin Mbak Eka juga, kami nggak peduli. Pada diri Bob, aku merasa menemukan sosok abang yang nggak pernah kupunya sebelumnya.
Lagipula, ini nih yang nggak ada seorang pun tahu cita-citaku untuk mengajak Bob masuk Islam suatu ketika nanti. Jadi apa pun yang dikatakan Mbak Eka, diam-diam aku dengarkan dan berusaha untuk memahaminya. Biar satu  hari nanti bisa menjelaskan kalau-kalau Bob tanya-tanya soal Islam. Suatu ketika nanti ada saatnya aku juga ingin berubah jadi anak yang baik seperti Mbak Eka yang alim itu. Tapi nggak sekarang.
*****

Akhir-akhir ini kurasakan sikap Bob aneh dan nggak seperti biasanya. Kalau bertemu denganku sepertinya gugup sekali seakan ingin mengatakan sesuatu tapi segera diurungkannya begitu aku memberi perhatian. Hingga suatu malam Bob mengajakku makan malam di luar, sesuatu yang jarang kami lakukan kecuali ada moment khusus.
“Ngomong dong Bob. Aku sudah capek menghadapi perubahan sikapmu akhir-akhir ini,” tanpa basa-basi langsung kutanyakan kekhawatiranku. Dan Bob cukup paham dengan sifatku yang satu ini, nggak sabaran. Makanya dia cuma tersenyum dan…tanpa memandangku! Sesuatu yang sangat kuhafal kalau dia ingin membicarakan sesuatu tapi takut menyinggung perasaan lawan bicaranya. God…ada apa ini?
“Aku akan memenuhi panggilan wajib militer,” akhirnya keluar juga suaranya setelah sekian lama kami berdiam diri.
“Tapi bukankah wamil itu sudah kamu ambil beberapa tahun lalu? Kamu sendiri yang mengatakannya.” Kulihat Bob terdiam beberapa saat.
“Iya, yang telah kujalani memang wajib bagi pemuda Amerika yang berusia di atas 18 tahun. Tapi kali ini berbeda. Negaraku butuh banyak sukarelawan militer untuk menjalankan tugasnya sebagai polisi dunia.”
Polisi dunia? Aku mencibir. Predikat itu pula yang menjadikan negaramu congkak dan sering turut campur kepentingan dalam negeri negara lain. Tapi tentu saja cuma kuucapkan dalam hati.
“Lalu bagaimana dengan kuliahmu dan cita-citamu untuk jadi Arsitek? Apakah harus kandas di tengah jalan?”
“Resiko itu memang harus aku ambil. Panggilan jiwaku untuk bangsa ini sudah bulat. Dan semoga jiwa ayahku bisa tenang karena keinginannya telah kupenuhi.”
Ternyata dugaanku benar. Bob bohong soal keputusan ini adalah panggilan jiwanya. Sebaliknya kekaguman yang berlebihan pada ayahnya yang gugur di medan tugas ditambah pesan untuk meneruskan perjuangan Amerika telah mengubah dirinya.
“Ke mana kamu akan ditugaskan?” Belum sempat Bob menjawab, makanan yang kami pesan sudah datang.
“Makanlah dulu. Setelah itu aku akan mengatakannya padamu.” Aku menggeleng dan hanya memandang kesibukannya mengunyah makanan yang terhidang di depannya. Punyaku sama sekali belum kusentuh. Selera makanku benar-benar menguap entah ke mana. Seakan tahu sedang kuperhatikan, Bob menghentikan suapannya.
“Benar-benar penasaran rupanya, hmm…?” Katanya sambil tersenyum. Senyum yang kata teman-teman mampu menaklukkan hati Julia, ratu kampus tahun ini. Tapi anehnya Bob cuek-cuek saja, di saat hampir seluruh cowok di kampus ini saling berebut perhatian Julia. Dia cuma bilang kalau cewek macam itu bukan tipenya, yang populer dengan hanya mengandalkan kecantikan tubuh dan wajah. Acungan jempol kuberikan untuknya, satu pandangan positif yang langka di Amerika.
“A…apa? What are you talking about?” tanyaku tergeragap dari lamunan singkatku. Dan Bob lagi-lagi tersenyum.
“Masih menikmati senyum manisku?” katanya menggoda. Aku benar-benar tak mampu membayangkan warna mukaku saat ini. Bob memang keterlaluan. Dia paling bisa kalau disuruh membuat cewek tersipu-sipu.
“Nah gitu dong tersenyum. Dari tadi kamu tegang terus.” Aku tahu, ternyata Bob ingin mencairkan suasana yang benar-benar kaku tadi.
“Semula aku ditugaskan di kepulauan Spratley untuk menjaga kenetralan daerah itu dari perebutan banyak negara. Memang kurang menantang, tapi itu cukup bagi tentara pemula. Tapi entah sebab apa penugasan itu dibatalkan. Dan apa yang kukhawatirkan menjadi kenyataan. Bukannya aku takut mati, tapi siapa yang akan kuhadapi di medan tugas itulah yang membuatku kalut. Dan itu pula yang membuatku berat untuk mengatakannya padamu.” Ditariknya nafas dalam-dalam.
“Aku ditugaskan di…perbatasan Irak.” Deg. Tak urung aku sempat terhenyak juga. Padahal aku sudah mempersiapkan hatiku untuk menghadapi apa pun yang dikatakannya. Aku harus tetap tenang, tekadku. Kusebut asma Allah banyak-banyak dalam hati. Aku tahu apa itu maknanya, tugas untuk bergabung dengan skuadron lain dalam menjajah Irak yang sedang bergolak. Tidak bisa kubayangkan seseorang yang kusayangi harus berhadapan dengan saudaraku pula di belahan bumi sana.
“Sorry Nina, I can do nothing.”

Sejak malam itu tak kutemui Bob di kampus, pun di café tempatnya mangkal kalau lagi banyak masalah. Kupikir itulah pertemuan kami yang terakhir sebelum keberangkatannya. Tapi ternyata aku salah. Dia menungguku selepas kuliah hari itu, beberapa hari setelah kejadian malam itu. Saat itu pulalah kami sadar bahwa persahabatan yang kami bina selama ini telah ternoda. Bob menyatakan perasaannya di kala kami harus berpisah untuk waktu yang tak terbatas.

Aku tak tahu apa yang salah dengan persahabatan kami. Aku ingat di suatu kajian bahwa laki-laki dan wanita mempunyai naluri yang sama. Keinginan untuk mencintai dan dicintai. Dan perwujudan itu hanya ada dalam pernikahan yang suci. Sejujurnya aku tidak pernah membayangkan sejauh ini. Bob sebagai kakak laki-laki bagiku sudah cukup. Ah…tapi kami bukan mahrom, terlarang sebetulnya bagi kami untuk berduaan. Dan satu-satunya cara adalah melegalkannya dengan menikah.

Sebulan telah berlalu sejak kejadian itu. Bob cukup rajin mengirimiku surat bahkan berusaha meneleponku sesekali. Walaupun berat kurasa, aku memutuskan untuk tidak berhubungan dengannya. Seberapa besar rasa sayangku pada Bob, tetap tak bisa mengalahkan rasa sakit ketika saudaraku seakidah dijajah di belahan bumi sana. Bagaimana mungkin Bob tega melakukan ini semua? Dia pun tahu betapa geramnya aku dengan kebijakan pemerintah negaranya yang selalu merugikan kaum muslimin. Tidak hanya Bosnia, Palestina, Chechnya, gempuran membabi buta ke Afghanistan, lalu sekarang penyerangan terhadap rakyat Irak yang tak berdosa dengan dalih yang terlalu mengada-ada. Tidaklah sulit untuk menyadari standard ganda Amerika, cukup orang yang punya akal bisa memahami fakta ini. Dan aku merasa Bob cukup punya akal untuk itu. Ternyata aku salah.

Dua bulan sudah berlalu, aku semakin dekat dengan Mbak Eka karena aku tak tahu lagi harus curhat dengan siapa. Aku pun semakin rajin mengisi hari-hariku untuk belajar dan mengkaji Islam yang sebenarnya. Ya Allah, ternyata banyak hal yang aku begitu bebal sebelumnya untuk menerima hukum-hukum Islam, sekarang menjadi terbuka mata hati ini.
Ah…itukah yang namanya cinta? Dapat membutakan kita dari kebenaran? Ataukah itu yang namanya cinta semu berbalut nafsu yang berasal dari syaitan? Ya Rabb, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Memiliki Cinta. Pasti bukanlah cinta bila perasaan itu menghalangi cahaya-Mu dariku.

Aku menata hati dan diri dalam perjalananku menuju ridho Ilahi. Surat Bob bertumpuk di meja kamarku tanpa kusentuh sedikit pun. Aku tidak lagi takut kehilangan dirinya. Karena sesungguhnya sejak mula keputusannya tidak bisa dirubah, tidak pula oleh diriku, saat itu juga aku sadar bahwa dia bukan lagi Bob yang aku kenal.

Tanpa terasa ujian sudah menjelang, dan itu berarti aku harus mulai menentukan jalan hidupku. Kembali ke Indonesia dan melengkapi gelas sarjanaku di sana atau beberapa tahun lagi tinggal di negeri yang mulai terang-terangan memusuhi Islam. Apalagi sejak aku memutuskan untuk menutup aurat dengan berkerudung dan berjilbab, aku merasa sangat tidak aman untuk berlama-lama di negeri ini. Bohong besar semua yang dipropagandakan Amerika lewat iklan persahabatan bahwa muslim pun bisa hidup tenang di sini.

Seminggu sebelum kepulanganku ke Indonesia, tiket dan seluruh keperluan imigrasi sudah di tangan. Proses yang melelahkan karena banyak petugas imigrasi yang berlaku over dengan muslimah berjilbab.

Seseorang mengetuk pintu. Dengan malas aku beranjak membukakan karena kebetulan semua sedang tidak di rumah. Ketika pintu kubuka, hatiku sempat berdesir.
“Ada yang perlu kubicarakan, Nin.” Lagi-lagi tanpa memandangku. Ada nada gelisah tapi tetap mantap dalam suara itu. Aku keluar dan kami duduk di beranda, cukup berjauhan karena aku bukan lagi Nina yang dulu.
“Kamu semakin cantik dengan jilbab itu,” katanya. Aku beristighfar dalam hati.
“Apakah ada yang bisa menahanmu untuk tidak pergi, Nina?”
“Maksudmu?”
“Marry me. Aku akan keluar dari militer Amerika dan meneruskan kuliahku sambil mencari pekerjaan lain.”
“Agamamu?”
“Bukankah selama ini kita bisa berteman dengan sangat baik tanpa meributkan itu? Kukira sekarang pun sama. Kita saling mencintai, dan kita bisa berjalan dengan keyakinan masing-masing.”

Ya Allah, seumur hidup tidak pernah kurasakan kemarahan yang teramat sangat seperti saat ini. Tanpa mampu berkata-kata dan mata penuh airmata kutinggalkan dia di beranda dan kukunci pintu rumah rapat-rapat. Semakin besar tekadku untuk segera pulang dan meninggalkan masa laluku yang suram di sini.

Kutulis surat untuk Bob menjawab ajakannya dan menjelaskan tentang diri seorang muslim sebenarnya. Tentang pergaulan yang salah selama aku berteman dengannya, sampai haram seorang muslimah menikah dengan laki-laki non muslim sampai dia beriman. Kujelaskan semua konsep tentang Islam yang aku tahu meskipun masih sedikit dan hanya menyisakan doa semoga hatinya terbuka untuk menerima kebenaran hakiki.

Kuayun langkah dengan mantap menuju pesawat ketika untuk terakhir kalinya aku menoleh ke belakang. Selamat tinggal Amerika, selamat tinggal masa lalu kelabu, semoga satu hari nanti kita bertemu dalam suasana yang lebih baik dan diridhoi Allah. Samar kulihat bayangannya, juga mata sendunya. Cintaku pada Allah jauh lebih besar dari rasa yang pernah aku punya untukmu. Kubalikkan tubuh dan melangkah mantap menuju pesawat yang segera take off. Selamat tinggal.
(ukhti, jangan pernah rela menggadaikan iman untuk cinta semu)


latestnews

View Full Version