View Full Version
Sabtu, 09 Jul 2016

Mudik, Tradisi dalam Dekapan Kapitalis dan Hikmah Mulia

Sahabat VOA-Islam...

Hari Raya idul Fitri di Indonesia, identik dengan agenda besar Nasional, yakni “Mudik Lebaran”. Jika kita menelisik lebih jauh, fenomena mudik ini hanya terjadi di Indonesia. Masa mudik, sebagaimana yang sering diberitakan media – media nasional, sering membawa dampak yang tidak sedikit terhadap para pemudik maupun masyarakat lain yang tidak mudik sekalipun. Misalnya saja  fenomena kecelakaan yang sering terjadi bagi para pemudik.

Kasus kecelakaan bagi para pemudik mengalami peningkatan di angka serius dari tahun ke tahun. Hal inilah yang kemudian berusaha diselesaikan oleh dinas perhubungan melaui program “mudik bareng” di titik – titik tertentu. Berbagai macam analisa menyampaikan bahwa, banyaknya kasus kecelakan saat mudik, disebabkan salah satunya oleh faktor kesehatan para pemudik. Kondisi ini disinyalir, meski posko-posko mudik telah dibuat tetapi kesadaran masyarakat atas keberadaan dan fungsi posko tersebut belum merata dan mendalam. Sehingga banyak pihak berharap, media bisa mengambil peran edukasi terkait dengan pentingnya menjaga kesehatan dan fungsi posko sebagai tempat informasi dan istirahat.

Namun benarkah, kecelakaan jalan raya yang terjadi saat moment mudik hanya berasal dari faktor kesehatan semata? Faktanya, angka kecelakaan yang terjadi di jalan raya, baik masa mudik maupun tidak tetap tinggi, penyebab kecelakan juga beragam. kalau kita menelaah lebih dalam, kasus mudik adalah persoalan sistemik sebagaimana sistemiknya persoalan demi persoalan yang terjadi. Tidak berdiri sendiri melainkan terkait dan disokong oleh persoalan yang lain. Infrastruktur jalan raya yang bermasalah, kebijakan kesehatan yang timpang, sehingga pemudik tidak bisa optimal mempersiapkan fisik sebelum mudik, tekanan ekonomi dan sosial rakyat yang berat, sehingga membuat mereka hanya bisa memanfaatkan moment mudik untuk bisa berkunjung ke saudara – saudaranya, kesadaran hukum berkendara yang rendah, dan lain-lain yang tidak cukup menuliskannya.

Kesulitan mudik, tidak hanya dialami oleh mereka yang menggunakan kendaraan pribadi. bagi mereka yang menggunakan kendaraan umum pun, demikian adanya. berdesakan, melambungnya harga tiket, kecopetan dan lain sebaginya adalah gambaran yang cukup jelas di depan mata.

Mudik sebagai sebuah moment nasional juga tidak bisa dipisahkan dengan kepentingan industri operator seluler yang bersindikasi dengan penguasa dan media arus utama. Meski belum pernah ada sebuah riset spesifik berapa omset atau keuntungan yang berhasil diraup oleh industri pengelola udara terutama pada momen mudik. Tetapi dalam kacamata orang awam sangat mudah membaca betapa terjadi peningkatan konsumsi produk saluran seluler karena kegembiraan yang berlebihan tentang teknologi ini di masyarakat. Pertanyaannya siapa yang paling diuntungkan atas moment ini? Siapa pula yang paling dirugikan?

Selain para pemudik, warga kota asli juga mengalami banyak kesulitan akibat fenomena mudik ini. asisten rumah tangga yang terkadang pulang terlalu lama atau bahkan tidak kembali lagi, juga menjadi momok yang selalu menghantui masyarakat kota. Sulitnya mnedapatkan bahan – bahan makanan, yang akhirnya memaksa mereka mengeluarkan uang lebih banyak untuk makan diluar, juga gambaran sisi lain mudik yang tidak bisa dipisahkan. kondisi ini juga tidak bisa lepas dari sistem kapitalistik yang diterapkan di negara ini. setiap moment dilihat oleh para pebisnis sebagai ladang meraup keuntungan yang besar. sementara pemerintah tidak mneganggap ini hal serius yang perlu penanganan lebih lanjut.

Semua itu adalah persoalan struktural dan kultural yang menggelayuti problem bangsa termasuk fenomena mudik. Yang berakar dari pilihan sistem politik demokrasi namun tidak demokratis dan sistem ekonomi neoliberal yang nampak dari implementasi kerangka perundang undangan negeri ini. Dibutuhkan kesadaran nasional untuk menjawab persoalan dengan pendekatan sistemik. Sebuah pendekatan yang melibatkan lintas sektoral didukung oleh kebijakan politik pemerintah. Siapa paling bertanggung jawab terhadap persoalan apa bukanlah pertanyaan yang sepantasnya dikembalikan pada semua lapisan masyarakat, sehingga seolah-olah semua ikut bertanggung jawab atas persoalan demi persoalan. Negara melalui penguasanya harus berani tampil di depan untuk menyatakan yang paling bertanggung jawab dalam persoalan apapun. Termasuk persoalan mudik.

Dibutuhkan kepemimpinan nasional yang berdaulat, independen, bertanggung jawab, dipercaya, jujur, amanah, dan cerdas. Yang didukung oleh referensi ideologi negara sesuai dengan aspirasi mayoritas bangsa di negeri ini. Sebagaimana dicontohkan oleh Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan para Sahabat ra yang menerapkan Islam sebagai aturan hidup melingkupi  kehidupan manusia muslim dan non muslim berkembang menjadi entitas peradaban manusia yang agung dan mulia.

Dan tidak lupa, dari fenomena mudik ini kita juga harus mampu merenungkan, langkah selanjutnya yang bisa kita lakukan untuk bangsa ini, agar satu persatu permasalahan bangsa bisa terselesaikan secara sistemik. mau tidak mau, suka tidak suka, kebenaran harus tetap kita suarakan. selain itu, fenomena mudik juga mengajarkan kepada kita betapa perjuangan untuk kembali ke kampung halaman adalah hal besar yang butuh bekal dan perjuangan besar karena resiko yang akan kita hadapi adalah besar. apalagi jika kita mempersiapkan untuk mudik ke kampung akhirat.

Persiapan kita, perjuangan kita tentu lebih beasr lagi. oleh karena itulah, marilah kita bangkit bersama. giat mempersiapan hidup setelah kematian dengan menjalankan seluruh perintah Allah, tak terkecuali dalam tatanan hidup bernegara. [syahid/voa-islam.com]

Kiriman Ririn Umi Hanif (Pemerhati Ibu dan Anak, Driyorejo Gresik)


latestnews

View Full Version