View Full Version
Rabu, 30 May 2018

Negara Maju, Negara Taat Syariat

 
Oleh: Hana Annisa Afriliani,S.S (Pemerhati Sosial)
 
Negara maju, sebagaimana di lansir oleh wikipedia, adalah adalah sebutan untuk negara yang menikmati standar hidup yang relatif tinggi melalui teknologi tinggi dan ekonomi yang merata.
 
Adapun negara-negara di dunia yang terkategori negara maju di antaranya AS, Australia, Jepang, Finpandia, Kanada, Swedia, Korea Selatan, dll. Adapun Indonesia belum terketegori negara maju hingga hari ini. Melainkan masih berada di level negara berkembang. 
 
Jika kita melihat definisi di atas, maka kita akan mengetahui bahwa penetapan sebuah negara  dikatakan maju adalah karena dua hal. Yakni kemajuan di bidang teknologi dan ekonomi. Lebih khusus lagi, dalam sistem saat ini, standar kemakmuran suatu negara diukur berdasarkan tingkat GDP (Gross Domestic Product) atau Pendapatan Nasional negara. 
 
Padahal sejatinya hal tersebut bukan satu-satunya tolak ukur. Ada yang jauh lebih menentukan, yakni ideologi yang diemban negara tersebut. 
 
Label negara maju merupakan sebuah prestise tersendiri bagi sebuah negara. Karena maju bermakna unggul, berada di garis depan. Namun apalah artinya jika negara tersebut unggul hanya di bidang ekonomi dan teknologi, namun di banyak sisi mempertontonkan kebobrokan yang nyata.
 
Fakta menunjukkan bahwa AS, salah satu negara maju bahkan menjadi kiblat peradaban masa kini, nyatanya menyimpan potret buram yang tak bisa dielakkan. Pergaulan bebas, pembunuhan, kekerasan terhadap perempuan, LGBT, semuanya membudaya di sana.
 
Menurut "Worldwide Sexual Assault Statistics" terbitan George Mason University, dinyatakan bahwa setiap 107 detik ada seseorang di AS yang diserang secara seksual. Setiap tahun, rata-rata ada 293 ribu korban berusia di atas 12 tahun yang mengalami serangan seksual.
 
Tak hanya itu, Swedia yang dilaporkan sebagai negara terkaya di dunia dengan pendapatan per kapita pada tahun 2014 mencapai USD 58,887 (IDR 824.418.000), faktanya memiliki sisi kelam.
 
Sebagaimana yang dilansir oleh liputan.com (12/10/2017) bahwa Swedia menjadi negara dengan tingkat pemerkosaan tertinggi di Eropa. Pada 1975 ada 421 pemerkosaan yang dilaporkan ke polisi, sedangkan pada 2014 ada 6.620 kejadian. Peningkatan itu setara dengan 1.472 persen.
 
Tak hanya itu, Korea Selatan yang merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar ke-11 di dunia ternyata juga menjadi negara dengan tingkat bunuh diri yang tinggi. Tercatat bahwa rasio bunuh diri di negara ini sebesar 28,1 dari 10.000 penduduk. Para pelaku bunuh diri di Korea Selatan mayoritas dengan cara gantung diri atau menenggak racun.
 
Sungguh miris. Betapa pelabelan sebuah negara maju semestinya tak cukup dengan kemajuan fisik belaka. Namun perlu diimbangi dengan kualitas manusianya. Adapun manusia-manusia berkualitas dan tata kehidupan yang beradab hanya akan terlahir dari sebuah negara yang menjadikan Islam sebagai ideologinya. 
 
Wajar, jika negara-negara yang katanya maju tersebut, menampakkan corak kehidupan yang tak beradab. Sebab, kapitalisme-sekular lah yang menjadi ideologinya. Standar kebahagiaan adalah materi. Agama dipinggirkan. Cukup menjadi ranah privat pemeluknya.
 
Di ruang publik seolah agama tak lagi ada harganya. Bahkan tak juga dianggap tabu, ketika agama dianggap tiada. Sebab keberadaan agama dianggap hanya penghambat kemajuan. Sekulerisme mengakar. Liberalisme menjadi urat nadi kehidupan.
 
Padahal sejatinya, negara maju harusnya adalah sebentuk definisi untuk sebuah negara yang menjadikan Islam sebagai ideologinya. Sehingga seluruh aturan kehidupan hanya disandarkan pada Islam saja sebagai agama yang rahmatan lil'alamiin. Universal untuk semua umat.
 
Terbukti, negara yang menjadikan Islam sebagai ideologinya mampu menjadi mercusuar peradaban selama lebih dari 1400 tahun. Dia lah Daulah Khilafah Islamiyah. Institusi penerap syariat yang unggul di segala bidang kehidupan.
 
Bukan cuma berhasil membangun infrastruktur dan memajukan perekonomian. Namun mampu mencetak manusia-manusia beradab taat syariat, serta melahirkan para generasi unggul cahaya peradaban. Demikianlah Islam. [syahid/voa-islam.com]

latestnews

View Full Version