

Pada Ahad (30/8/2026), Ben-Gvir mengunggah video kunjungannya ke Penjara Damon, Israel utara. Dalam video tersebut, ia terlihat berbicara dengan sejumlah tahanan perempuan Palestina yang mengeluhkan buruknya kondisi penjara.
Bukannya mendengarkan keluhan mereka, Ben-Gvir justru mengejek dan membanggakan kebijakan yang membuat kehidupan para tahanan semakin sulit.
Salah seorang tahanan mengeluhkan bahwa mereka sudah tiga hari tidak dapat mandi, tidak dapat mengganti pakaian dalam, kekurangan air dan kebutuhan pribadi, serta tidak mendapatkan perawatan medis yang memadai.
“Kami sudah tiga hari tidak mandi. Kami tidak mendapatkan perawatan medis dan pakaian kami tidak bersih,” ujar seorang tahanan dalam video tersebut.
Tahanan yang berbicara itu disebut sebagai Yasmine Shaaban, seorang perempuan Palestina yang sebelumnya pernah dibebaskan dalam kesepakatan pertukaran tahanan, tetapi kemudian ditangkap kembali pasukan Israel pada Mei 2025.
Respons Ben-Gvir terhadap keluhan tersebut sungguh menyakitkan.
Ia mengatakan kondisi nyaman di penjara telah berakhir dan menyatakan dirinya bertanggung jawab atas kebijakan tersebut. Ia bahkan membandingkan kondisi para tahanan Palestina dengan warga Israel yang pernah disandera di Gaza.
Ben-Gvir mengklaim para sandera Israel tidak mendapatkan sampo dan fasilitas seperti yang diterima para tahanan Palestina. Karena itu, menurutnya, kondisi para tahanan Palestina harus ditekan hingga “batas minimum”.
Dalam unggahannya di media sosial X, ia bahkan menyebut keluhan para tahanan sebagai “rengekan”.
Di sinilah wajah kebijakan yang tidak manusiawi itu terlihat.
Penderitaan seorang manusia tidak semestinya dijadikan alat untuk menunjukkan kekuasaan. Keluhan seorang perempuan tentang tidak bisa mandi selama tiga hari, tidak memiliki pakaian bersih, dan tidak memperoleh perawatan medis seharusnya memunculkan perhatian dan pertolongan—bukan cemoohan.
Lebih menyedihkan lagi, penderitaan itu justru dipertontonkan ke publik sebagai bahan propaganda politik.
Komite Menentang Penyiksaan di Israel mengecam video tersebut. Mereka menilai tindakan Ben-Gvir telah merendahkan martabat dan privasi para tahanan serta menggunakan kelompok yang berada dalam posisi tidak berdaya untuk kepentingan politik. Organisasi itu juga mendesak agar video tersebut dihapus.
Klub Tahanan Palestina juga mengecam tindakan Ben-Gvir. Menurut mereka, masuk ke bagian tahanan perempuan, merekam mereka, kemudian menyebarkan rekaman tersebut merupakan serangan terhadap martabat manusia.
Komisi Urusan Tahanan Palestina menyebut kondisi di Penjara Damon semakin berat. Laporan terbaru mereka menyebut adanya kepadatan penghuni, kekurangan kebutuhan dasar, makanan berkualitas buruk, pengabaian medis, penggeledahan berulang, serta berbagai tindakan penghukuman.
Jika seorang pejabat justru menjadikan penderitaan tahanan sebagai materi propaganda, pertanyaan besarnya bukan lagi sekadar seberapa buruk kondisi penjara tersebut, tetapi seberapa jauh nilai kemanusiaan telah ditanggalkan demi politik dan kekuasaan?
Sejak menjadi Menteri Keamanan Nasional Israel pada akhir 2022, Ben-Gvir memang berulang kali membanggakan kebijakan memperketat kondisi tahanan Palestina.
Pembatasan tersebut antara lain menyangkut makanan, air, waktu mandi, kunjungan keluarga, serta berbagai fasilitas bagi tahanan Palestina. Berbagai laporan juga menyoroti tuduhan kekerasan, pengabaian medis, isolasi dan kondisi penahanan yang semakin berat.
Pada awal Agustus 2026, Ben-Gvir bahkan mengunggah video lain yang memperlihatkan dirinya berhadapan dengan seorang tahanan perempuan Palestina. Ketika perempuan tersebut mengeluhkan makanan dan air, Ben-Gvir menjawab bahwa penjara bukanlah hotel.
Sebelumnya, pada Oktober 2025, ia juga pernah mengunggah video dirinya berada di dekat tahanan laki-laki Palestina yang dalam kondisi diborgol dan ditangani secara kasar oleh petugas.
Pada Mei 2026, Ben-Gvir kembali menuai kecaman setelah merekam dirinya mengejek aktivis armada bantuan Gaza yang ditahan aparat Israel di Pelabuhan Ashdod.
Kebijakan Ben-Gvir terhadap tahanan Palestina juga pernah memunculkan gagasan yang terdengar seperti adegan film.
Ia mendorong penggunaan buaya Nil untuk mengamankan Penjara Ketziot, tempat banyak tahanan Palestina ditahan. Pengadilan Distrik Yerusalem kemudian mengeluarkan perintah sementara yang melarang Israel menempatkan buaya di sekitar penjara tersebut.
Alih-alih mundur, Ben-Gvir justru menuding pengadilan berpihak kepada “teroris”.
Perlakuan terhadap tahanan tetap memiliki batas kemanusiaan, sekalipun seseorang dituduh melakukan kejahatan.
Seorang tahanan tidak kehilangan martabat kemanusiaannya hanya karena berada di balik jeruji besi. Apalagi ketika yang dipertontonkan adalah perempuan-perempuan yang mengeluhkan kebutuhan dasar seperti air, kebersihan, pakaian dan pengobatan.
Kekejaman tidak menjadi benar hanya karena korbannya adalah warga Palestina.
Dan penderitaan manusia tidak boleh dijadikan perlombaan: siapa yang lebih menderita, siapa yang lebih kekurangan, atau siapa yang lebih pantas diperlakukan buruk.
Jika benar terdapat tahanan yang melakukan kejahatan, hukum seharusnya ditegakkan. Tetapi penghinaan, penyiksaan, pengabaian medis dan perampasan kebutuhan dasar bukanlah ukuran keadilan.
Justru ketika seseorang memiliki kekuasaan atas orang yang tidak berdaya, di situlah kemanusiaannya diuji.
Video Ben-Gvir memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar seorang menteri yang mengejek tahanan: penderitaan manusia telah diperlakukan sebagai alat untuk menunjukkan kekuasaan dan memenangkan simpati politik.
Dan ketika seorang pejabat justru bangga karena berhasil membuat kehidupan tahanan semakin buruk, dunia patut bertanya: ke mana perginya rasa kemanusiaan?