View Full Version
Kamis, 13 Aug 2026

Cita-cita Terbesar: Teguh di atas Tauhid Saat Bertemu Allah

Oleh: Badrul Tamam

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepada kita menuju tauhid. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang menyeru manusia agar memurnikan agama hanya untuk Allah semata.

Di antara doa dan harapan terbesar seorang hamba dalam kehidupannya bukanlah banyaknya harta, panjangnya umur, atau tingginya kedudukan. Yang jauh lebih penting adalah agar Allah meneguhkannya di atas tauhid hingga ia bertemu dengan-Nya (baca: meninggal dunia).

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Tujuan utama penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah. Dan ibadah tersebut harus dibangun di atas tauhid, yaitu memurnikan seluruh bentuk ibadah hanya kepada Allah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.

Karena itu, seorang mukmin tidak seharusnya merasa aman dengan keadaan imannya saat ini. Ia harus terus memohon kepada Allah agar diberikan keteguhan sampai akhir hayat.

Para Salaf Takut dengan Su'ul Khatimah

Para shalihin generasi salaf -mereka dikenal sebagai orang-orang yang memiliki ilmu, ibadah, wara', dan ketakwaan-, mereka tidak merasa telah aman dari kemungkinan buruknya akhir kehidupan.

Mereka justru takut terhadap su'ul khatimah—akhir kehidupan yang buruk—dan banyak memohon kepada Allah agar diberikan keteguhan.

Imam Sufyan ats-Tsauri pernah mendatangi Ibrahim bin Adham. Kepadanya beliau berkata:

يَا إِبْرَاهِيمُ، ادْعُ اللهَ أَنْ يَقْبِضَنَا عَلَى التَّوْحِيدِ

Wahai Ibrahim, berdoalah kepada Allah agar Dia mewafatkan kita di atas tauhid.

Sufyan ats-Tsauri adalah seorang imam besar. Ia memiliki ilmu, ibadah dan wara'. Namun, semua itu tidak membuatnya merasa aman. Ia tetap memohon agar Allah menutup kehidupannya dengan tauhid.

Mengapa?

Karena seorang hamba tidak boleh mengandalkan amalnya dan merasa dirinya pasti selamat.

Hati manusia berada di bawah kehendak Allah. Allah-lah yang memberikan keteguhan kepada siapa yang Dia kehendaki.

Oleh sebab itu, seorang mukmin hendaknya senantiasa memohon kepada Allah:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." (QS. Ali Imran: 7)

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ

 Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu." (HR. Ahmad dan at Tirmidzi)

 

Allah yang Meneguhkan Hati Orang Beriman

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ

Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.(QS. Ibrahim: 27)

Seorang hamba memiliki kewajiban untuk beriman, belajar, beramal, menjauhi dosa, dan berusaha istiqamah. Namun, pada akhirnya, ia tetap membutuhkan pertolongan Allah. Karena, keteguhan merupakan karunia dari Allah berdasarkan ayat di atas.

Para ulama menjelaskan bahwa al-qaul ats-tsabit (perkataan yang teguh) dalam ayat tersebut berkaitan dengan kalimat tauhid dan keteguhan iman.

Allah meneguhkan orang-orang beriman dalam kehidupan dunia, termasuk ketika menghadapi berbagai ujian dan godaan. Allah juga memberikan keteguhan kepada mereka pada saat-saat genting, termasuk ketika menghadapi kematian dan kehidupan setelahnya.

Karena itu, jangan pernah merasa bahwa iman kita akan selalu berada dalam keadaan yang sama.

Hari ini seseorang bisa begitu rajin beribadah, tetapi ia tidak boleh merasa aman dari fitnah dan godaan. Ia harus terus memohon pertolongan Allah.

 

Mengapa Kita Harus Takut Kehilangan Tauhid?

Tauhid bukan sekadar pengetahuan bahwa Allah adalah Tuhan.

Tauhid harus tertanam dalam hati dan diwujudkan dalam seluruh bentuk ibadah.

Seseorang mungkin mengetahui banyak dalil tentang tauhid, tetapi tantangannya adalah mempertahankan tauhid tersebut dalam seluruh keadaan hingga akhir kehidupan.

Sesungguhnya godaan dan fitnah terhadap manusia itu sangat banyak dan beragam.Ada yang tergoda oleh harta. Ada yang tergoda oleh jabatan. Ada yang tergoda oleh popularitas. Ada yang mengikuti hawa nafsu. Ada pula yang ketika mendapatkan musibah atau tekanan hidup kemudian berpaling dari agama.

Karena itu, seorang Muslim harus senantiasa menjaga hatinya.

Jangan merasa aman hanya karena saat ini kita berada dalam keadaan beriman. Mintalah kepada Allah agar iman tersebut dijaga sampai akhir hayat.

 

Bagaimana Kita Mengakhiri Kehidupan?

Setiap manusia akan mati.Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajalnya tiba.Karena itu, pertanyaan terpenting bukan hanya:

“Bagaimana saya menjalani hidup?”

Tetapi juga:

“Dengan keadaan iman seperti apa saya akan menghadap Allah?”

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”(QS. Ali Imran: 102)

Ayat ini mengajarkan kepada kita pentingnya menjaga keislaman hingga akhir hayat.

Bukan hanya beriman hari ini.Bukan hanya rajin beribadah ketika muda.Bukan hanya mengenal tauhid ketika sehat.Tetapi mempertahankan iman dan tauhid hingga ajal menjemput.

 

Penutup

Kehidupan seorang mukmin adalah perjalanan menuju Allah.Kita tidak tahu kapan perjalanan itu berakhir. Karena itu, jangan merasa aman dengan amal yang telah dilakukan. Jangan pula merasa bahwa hati kita akan selalu berada dalam keadaan yang sama.

Teruslah belajar tauhid, memurnikan ibadah, menjauhi kesyirikan dan kemaksiatan, memperbanyak doa, berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan Sunnah, serta memilih lingkungan yang membantu kita untuk taat.

Sebab, yang paling menentukan bukan hanya bagaimana seseorang memulai kehidupannya, tetapi bagaimana ia mengakhirinya.

Maka, hendaknya menjadi cita-cita setiap Muslim untuk menghadap Allah dalam keadaan bertauhid. Wallahu a’lam. [PurWD/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version