

Oleh: Badrul Tamam
Pendahuluan
Setiap kali momentum pergantian tahun baru Hijriah tiba, sebuah ritual tahunan mendadak marak di tengah masyarakat kita. Mulai dari masjid-masjid di pemukiman hingga linimasa media sosial, ajakan untuk membaca doa khusus akhir tahun (dibaca selepas Asar di penghujung Zulhijah) dan doa awal tahun (dibaca selepas Magrib di awal Muharam) bergaung dengan sangat masif.
Saking maraknya, ritual doa bersama ini seolah-olah menjelma menjadi amalan yang sangat istimewa, wajib, dan memiliki landasan syariat yang kukuh. Pertanyaannya secara ilmiah: Benarkah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengajarkan tata cara dan bacaan doa tersebut?
Fakta Sejarah dan Duduk Perkara Ibadah
Dalam koridor ushul fikih, ibadah doa yang diikat oleh waktu tertentu, tempat tertentu, jumlah tertentu, dan tata cara khusus wajib bersandar pada dalil Al-Qur'an atau Sunnah yang sahih. Jika tidak ada perintahnya, kita tidak boleh mengarang atau menetapkan sendiri batasan ibadah tersebut.
Fakta sejarah yang tidak bisa dibantah adalah:
Kalender Hijriah baru ditetapkan pada zaman Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu (sekitar tahun 16 Hijriah). Artinya, selama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam hidup, belum ada momentum "pergantian tahun baru Hijriah" seperti yang kita kenal sekarang. Bagaimana mungkin ada tuntunan doa khusus tahunan, sementara sistem kalendernya saja belum dicetuskan semasa beliau hidup?


Menelusuri Keaslian Hadits Doa Tahun Baru
Pihak yang merutinkan amalan ini umumnya bersandar pada sebuah narasi yang diklaim memiliki keutamaan luar biasa. Di antaranya narasi bahwa jika seseorang membaca doa tersebut, maka setan akan berkata:
"Kami telah penat letih bersamanya sepanjang tahun, tetapi dia merusak amalan kami dalam masa sesaat (dengan membaca doa tersebut)."
Mari kita bedah secara ilmiah berdasarkan keterangan para ulama ahli hadis:
Bahaya Mengatasnamakan Rasulullah
Sebagai Muslim yang berpegang teguh pada sunnah, kita harus ekstra hati-hati dalam menyebarkan sebuah amalan. Ada dua konsekuensi fatal jika kita nekat melestarikan doa ini dengan dalih "kan niatnya baik":
1. Ancaman Berdusta Atas Nama Nabi
Jika kita tahu suatu riwayat itu palsu/tidak valid tetapi tetap menyebarkannya seolah-olah itu sabda Nabi, kita terkena ancaman keras:
“Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaknya ia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Al-Bukhari)
"Barangsiapa yang meriwayatkan dariku sepotong hadits sedangkan dia tahu bahwa hadits itu palsu, maka dia adalah salah seorang pembohong.” (HR. Muslim)
2. Mengklaim Hal Gaib Tanpa Wahyu
Klaim bahwa "setan mengeluh dan merasa letih karena dosa pelaku diampuni dalam sesaat berkat doa tersebut" adalah perkara gaib. Logikanya, bagaimana kita bisa tahu suasana batin setan dan dialog alam gaib tersebut jika Al-Qur'an dan Sunnah yang sahih tidak pernah mengabarkannya? Menyandarkan keyakinan pada kitab-kitab populer seperti Majmu' Syarif tanpa verifikasi sanad adalah tindakan yang berbahaya bagi kemurnian akidah.
Lalu, Apa Doa yang Sesuai Sunnah?
Islam tidak pernah menyempitkan umatnya untuk berdoa. Kamu boleh berdoa apa saja, kapan saja, dan meminta keselamatan sepanjang tahun. Namun, jika yang dicari adalah amalan spesifik dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, maka tuntunan yang sahih adalah membaca doa ketika melihat hilal (awal bulan baru), bukan awal tahun baru.
Doa ini dibaca setiap kali memasuki bulan baru (apakah itu Muharam, Safar, Ramadan, dll):
اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ وَالتَّوْفِيقِ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ
(Ya Allah, tampakkanlah hilal itu kepada kami dengan membawa keamanan, keimanan, keselamatan, dan Islam, serta taufik menuju apa yang Engkau cintai dan ridai. Tuhan kami dan Tuhanmu adalah Allah).
Kesimpulan
Menjelang pergantian tahun Hijriah, esensi utama yang harus kita hidupkan adalah muhasabah (evaluasi diri) atas sisa umur yang makin mengikis, bukan menyibukkan diri dengan ritual-ritual baru yang tidak ada contohnya dari generasi salafusshalih.
Memurnikan ibadah berarti mencukupkan diri dengan apa yang disyariatkan. Mari jadi generasi cerdas yang beramal dengan ilmu, bukan sekadar ikut-ikutan. Wallahu A’lam bish-Shawab. [PurWD/voa-islam.com]