View Full Version
Kamis, 27 Aug 2026

Dahsyatnya Isti’adzah (Berlindung kepada Allah dari Setan) Saat Marah

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah, keluarga dan para sahabatnya.

Marah adalah tabiat manusia. Namun, ketika amarah menguasai akal dan hati, seseorang bisa melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Karena itu, Islam tidak hanya mengajarkan agar seseorang menahan amarah, tetapi juga menunjukkan langkah praktis ketika ‘amarah’ mulai muncul: segera berlindung kepada Allah dari godaan setan.

Kalimatnya sederhana:

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”

Perintah ini bukan sekadar bacaan untuk menenangkan diri. Ia merupakan permohonan perlindungan kepada Allah dari musuh yang sedang berusaha memanfaatkan kelemahan manusia melalui kemarahan.

Godaan Setan dengan Kemarahan

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Jika engkau benar-benar digoda setan dengan suatu godaan, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(QS. Al-A'raf: 200)

Ayat ini datang setelah Allah memerintahkan Nabi ﷺ untuk mengambil sikap pemaaf, mengajak kepada kebaikan, dan berpaling dari orang-orang jahil. Yaitu:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jadilah pemaaf, perintahkanlah yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A'raf: 199)

Artinya, ketika seseorang menghadapi perkataan buruk, perlakuan kasar, atau sikap orang yang menyulut emosinya, setan dapat masuk melalui celah tersebut. Ia membisikkan dorongan untuk membalas, memperbesar masalah, dan meninggalkan sikap sabar.

Karena itu Allah memberikan solusi:

فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ

Maka berlindunglah kepada Allah.

Jadi, ketika seseorang merasakan gejolak amarah akibat godaan setan, respons pertamanya bukan membalas, bukan melampiaskan, tetapi memohon perlindungan kepada Allah.

Ayat Lain Menunjukkan Hubungan yang Lebih Jelas

Allah Ta'ala berfirman:

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ ۝ وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ ۝ وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Kebaikan tidaklah sama dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang antara engkau dan dia terdapat permusuhan seakan-akan menjadi teman yang sangat setia. Sifat itu tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidak diberikan kecuali kepada orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Jika setan benar-benar membisikkan godaan kepadamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fushshilat: 34–36)

Perhatikan rangkaian ayat tersebut: Allah terlebih dahulu mengajarkan membalas keburukan dengan cara yang lebih baik. Kemudian Allah menyebut kesabaran sebagai sifat yang diperlukan untuk menjalankannya. Setelah itu, Allah mengingatkan tentang godaan setan dan memerintahkan untuk beristi'adzah.

Ini menunjukkan bahwa ketika seseorang berhadapan dengan perlakuan buruk yang berpotensi membangkitkan kemarahan, setan akan berusaha menggagalkan kesabaran dan mendorongnya membalas keburukan dengan keburukan.

Maka isti'adzah menjadi salah satu benteng untuk menghadapi godaan tersebut.

 

Rasulullah Ajarkan Isti'adzah kepada Orang yang Sedang Marah

Sulaiman bin Shurad radhiyallahu 'anhu menceritakan:

اسْتَبَّ رَجُلَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ، وَنَحْنُ عِنْدَهُ جُلُوسٌ، وَأَحَدُهُمَا يَسُبُّ صَاحِبَهُ مُغْضَبًا قَدِ احْمَرَّ وَجْهُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: إِنِّي لَأَعْلَمُكَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Dua orang laki-laki saling mencaci di hadapan Nabi . Salah seorang dari keduanya mencaci lawannya dalam keadaan marah hingga wajahnya memerah. Nabi kemudian bersabda, ‘Sungguh, aku mengetahui sebuah kalimat yang apabila dia mengucapkannya, niscaya hilang apa yang sedang dirasakannya. Seandainya dia mengucapkan: Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.’” (Muttafaq ‘Alaih)

Hadits ini sangat jelas: Nabi ﷺ melihat tanda-tanda kemarahan pada seseorang—wajahnya memerah dan emosinya memuncak—lalu beliau mengarahkan orang tersebut kepada isti'adzah.

Mengapa?

Karena Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa dengan mengucapkan kalimat tersebut, apa yang sedang dirasakannya akan hilang.

Dengan demikian, isti'adzah bukan sekadar bacaan yang dianjurkan secara umum. Ia merupakan petunjuk Nabi ﷺ untuk menghadapi gejolak amarah.

 

Mengapa Setan Berkaitan dengan Kemarahan?

Dalam keadaan marah, seseorang dapat kehilangan kendali. Ia bisa mengucapkan kata-kata kasar kepada pasangan, anak, orang tua, teman, atau orang lain. Bahkan, amarah yang tidak terkendali bisa mendorong seseorang melakukan kekerasan, merusak barang, atau mengambil keputusan yang kemudian sangat ia sesali.

Di sinilah setan mendapatkan celah.

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa kemarahan dapat membuat seseorang keluar dari keadaan normal dan kehilangan sikap seimbang. Dalam keadaan demikian, setan menghiasi berbagai tindakan buruk dalam pandangan orang yang sedang marah.

Ia bisa terdorong merusak hartanya sendiri, memecahkan barang, merobek pakaian, bahkan menyerang orang yang membuatnya marah.

Karena itu, isti'adzah merupakan bentuk memutus jalan setan sebelum godaannya berkembang menjadi tindakan nyata.

 

Jangan Menunggu Amarah Meledak

Kesalahan yang sering terjadi adalah seseorang baru berusaha mengendalikan diri setelah amarahnya meledak.

Padahal, petunjuk Nabi ﷺ menunjukkan bahwa ketika tanda-tanda kemarahan mulai muncul -seperti: Wajah mulai memerah, jantung berdebar, suara meninggi, keinginan membalas muncul, dan pikiran mulai dipenuhi dorongan untuk menyakiti -, seorang Muslim hendaknya segera mengambil langkah perlindungan. Ia ucapkan:

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”

Kemudian tahan lisan dan jangan terburu-buru bertindak.

Sebab, tidak semua yang ingin kita katakan ketika marah harus diucapkan, dan tidak semua yang ingin kita lakukan ketika marah boleh dilakukan.

 

Penutup

Setan ingin mengubah kemarahan menjadi permusuhan, permusuhan menjadi ucapan buruk, dan ucapan buruk menjadi tindakan yang disesali.

Maka Allah memerintahkan:

فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ

“Maka berlindunglah kepada Allah.”

Karena itu, ketika amarah datang, jangan beri setan kesempatan untuk mengambil alih kendali. Kembalikan urusan kepada Allah dengan isti'adzah. Yaitu berucap:

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Dengan ini bisa menjadi awal untuk meredakan amarah, menjaga lisan, menyelamatkan hubungan, dan menghindarkan seseorang dari penyesalan yang panjang. Wallahu a’lam. [PurWD/voa-islam.com]

 


latestnews

View Full Version