View Full Version
Senin, 07 Dec 2009

Rabu 9 Desember, SBY Akan Dijatuhkan?

JAKARTA (voa-islam.com) – Jelang aksi damai besar-besaran untuk memperingati Hari Antikorupsi Internasional yang akan digelar Rabu 9 Desember 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merasa ingin digoyang dan dijatuhkan dari kursi kepresidenan.

Pernyataan itu disampaikan SBY yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat di hadapan kader Partai Demokrat pada Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) ke-3 Partai Demokrat di Jakarta Convention Center, Ahad (6/12/2009).

Yudhoyono mengatakan, penilaian tersebut merupakan hasil perenungannya atas situasi politik yang terjadi akhir-akhir ini.

Akal sehat saya mengatakan bahwa perilaku politik seperti ini paling tidak untuk jangka pendek ingin mendiskreditkan, ingin menggoyang dan kalau bisa menjatuhkan SBY dan pemerintahan...

“Saya di tengah malam berdzikir, berdoa, bersama istri dan keluarga, mencari tahu ada apa dengan semua fitnah dan pembunuhan karakter seperti ini. Akal sehat saya mengatakan bahwa perilaku politik seperti ini paling tidak untuk jangka pendek ingin mendiskreditkan, ingin menggoyang dan kalau bisa menjatuhkan SBY dan pemerintahan,” katanya.

SBY juga menemukan ada pihak tertentu yang dalam jangka menengah dan panjang ingin menghalangi sepak terjang Partai Demokrat pada Pemilihan Umum 2014.

Menurut dia, ada pihak tertentu yang ingin menghancurkan reputasi dan nama baik Partai Demokrat di muka rakyat agar pada Pemilu 2014 Partai Demokrat dilupakan dan akhirnya menderita kekalahan total.

Yang Antikorupsi Mari Ikut Aksi, yang Pro-Korupsi Jangan Menghalangi

Kritik terhadap pernyataan SBY mengenai aksi damai Hari Antikorupsi Internasional terus berdatangan, termasuk dari mantan Presiden RI, Abdurrahman Wahid. Mantan Ketua Umum PBNU itu menilai SBY hanya ingin cari dukungan masyarakat.

"Itu kan cara seorang presiden menghimpun kekuatan masyarakatnya," katanya.

...korupsi masih merajalela di kalangan elite kekuasaan. Maka Hari Antikorupsi Sedunia 9 Desember adalah momentum baik bagi rakyat untuk menunjukkan komitmen memberantas bahaya laten korupsi...

Sementara itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin yang saat ini tengah berada di Melbourne, Australia, mengimbau publik untuk tidak terpengaruh pada statemen Presiden SBY bahwa akan ada gerakan sosial maupun politik pada 9 Desember nanti. Din juga menyerukan massa antikorupsi tetap melakukan aksi pada 9 Desember di Monas dalam rangka peringatan Hari Antikorupsi Sedunia.

”Bagi yang antikorupsi mari datang, bagi yang pro korupsi jangan menghalang,” ujar Din lewat surat elektronik, Minggu (6/12/2009).
Sebagai salah seorang penasihat Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Din menegaskan bahwa aksi damai di Monas tersebut harus bertolak dari niat politik membersihkan Indonesia dari praktik-praktik korupsi, khususnya menuntaskan pengusutan skandal Bank Century.

Menurutnya, skandal ini membawa risiko tinggi yang bersifat sistemik dan organik dalam kehidupan bangsa, jika tidak dituntaskan akan membawa bangsa kepada kehancuran.

Din mengatakan, harus diakui bahwa korupsi masih merajalela dalam kehidupan bangsa bahkan di kalangan elite kekuasaan. Maka Hari Antikorupsi Sedunia 9 Desember adalah momentum baik bagi rakyat untuk menunjukkan komitmen memberantas bahaya laten korupsi.

”Jangan terpengaruh oleh pernyataan yang bersifat tuduhan agar rakyat tidak datang ke Monas. Mari beramai-ramai datang dengan berbaju putih, lambang kebersihan, dan berpita merah, lambang keberanian,” seru Din Syamsuddin.

Hanya Intelijen dan Orang Bayaran yang Bisa Buat Kerusuhan dan Menggoyang Kekuasaan

Pernyataan SBY juga menyulut tanggapan dari mantan Menteri Ekonomi RI, Rizal Ramli. Menurutnya, kekhawatiran Presiden SBY terhadap aksi 9 Desember mendatang terlalu berlebihan. Karena gerakan sosial yang berujung kerusuhan dan penggulingan kekuasaan hanya dapat dilakukan oleh operasi intelijen dan orang-orang bayaran semata.

...Pernyataan itu meresahkan masyarakat. Harusnya, Presiden SBY berdiri paling depan memimpin demo antikorupsi. Dia telah mengidap phobia publica atau takut kepada publik...

"SBY jangan terlalu panik dan jangan dipanikan. Tenang-tenang saja," kata Ketua Blok Perubahan itu dalam diskusi politik di Jalan Panglima Polim, Jaksel, Senin, (7/12/2009).

Menurutnya, kerusuhan dalam gerakan sosial merupakan hasil kerja rekayasa intelijen untuk menangkapi oposisi. Selain itu, ada juga kelompok bayaran yang berfungsi untuk mengacaukan aksi-aksi sosial.

"Jadi SBY jangan takut. Jangan mengeluarkan pernyataaan yang tak perlu sehingga orang yang sebelumnya nggak mikir, malah jadi mikir. Kasihan bangsa kita tersandera oleh masalah masalah itu," terangnya.

Sedangkan pengamat politik UI, Boni Hargens, menilai pernyataan Presiden SBY tidak bijaksana karena berbicara bukan sebagai kepala negara tapi politikus.

"Pernyataan itu meresahkan masyarakat. Padahal itu kan adalah hari antikorupsi. Harusnya, Presiden berdiri paling depan dan memimpin demo antikorupsi. Dari statmen-statmen SBY, maka dia telah mengidap phobia publica atau takut kepada publik," paparnya. [taz/ant/lip6]

Baca juga berita terkait:

  1. Di Depan SBY Harus Sopan. Jika Tidak, ini Akibatnya...
  2. Sikap SBY Berbahaya Bagi Kehidupan Politik
  3. SBY Paranoid Politik: Curigai Aksi Damai Gerakan Antikorupsi
  4. SBY Kebingunan, Ketakutan dan Berbahaya?
  5. Awas!! Demo Besar-besaran Antikorupsi Akan Digelar 9 Desember
  6. SBY dan Partai Demokrat Adakan Pertemuan Tertutup dengan Partai Komunis Cina

latestnews

View Full Version