View Full Version
Senin, 01 Aug 2011

Cegah Radikalisme, MUI Kini Menjadi Mitra BNPT

Jakarta (voa-islam) – Kegiatan ini  buka kali pertama  digelar MUI Pusat. Belum lama ini, Sabtu (30/7), Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat kembali menggelar Diskusi Panel “Membangun Ukhuwah di Tengah Pluralitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia” di Kantor MUI Pusat, Jl. Proklamasi No. 51, Menteng, Jakarta Pusat. Untuk menangani kasus terorisme, MUI menjalin kemitraan dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang dipimpin oleh Ansyad Mbai.

Dialog Ukhuwah Islamiyyah ini diselenggarakan oleh Forum Ukhuwah Islamiyyah (FUI) bentukan MUI ini bertujuan untuk menjembatani antar gerakan dan pemikiran Islam di Indonesia dan memberikan kesadaran terhadap pentingnya ukhuwah Islamiyyah.

Hadir sebagai pembicara, antara lain: Jusuf Kalla (Keynote speaker), Prof Dr. H. Atho Mudzhar (Departemen Agama), Dr. H. Saleh Daulay (Muhammadiyah), Prof. Dr. Didin Hafidhuddin (Ketua Umum Baznas),  Irjen Pol (Purn) Ansyad Mbay (BNPT), dan Marsda Ma’roef Syamsuddin (BIN).

Tema diskusi kali ini berjudul: “Membangun ukhuwah diantara pluralitas pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia”. Ada ada beberapa sub tema yang dibahas dalam diskusi panel tersebut, diantaranya: Keragaman pemikiran Islam di Indonesia dan bahaya liberalism; Peta gerakan dan pemikiran Islam di Indonesia dan upaya membangun ukhuwah Islamiyah; Mencari solusi atas problematika social sebagai penyebab radikalisme; Mengenal gerakan radikalisme Islam dan gerakan separatism di Indonesia sebagai ancaman Ukhuwah Wathoniyyag (NKRI).

Menurut Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI, Drs. H. Adnan Harahap,  fenomena gerakan Islam di Indonesia di satu sisi mendapat lahan subur untuk tumbuh dan berkembang. Namun di sisi lain, mendapat tantangan yang cukup berat, ketika berhadapan dengan liberalisasi ekonomi dan politik yang pada gilirannya masuk pada wilayah pemahaman keagamaan.

“Tidak jarang masyarakat berada dalam kebingungan menghadapi keragaman pemikiran tersebut, mulai dari pemikiran liberal hingga ideologi radikal. Konflik-konflik itu jika dibiarkan akan menyebabkan kekacauan dan keburukan pada umat Islam, bahkan menjadi sebab kelemahan umat Islam, sehingga akan dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk kepentingan mereka. Karena itu dibutuhkan ukhuwah Islamiyah dengan mengajak para tokoh yang dianggap mewakili kelompok dan organisasi mereka untuk berdialog secara intens,” jelas Adnan.  Desastian


latestnews

View Full Version