View Full Version
Selasa, 21 Feb 2012

KH. Tengku Zulkarnaen: Mimpi Jika Menyatukan Sunni-Syiah

JAKARTA (VoA-Islam) – Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Tengku Zulkarnain menegaskan, dalam rapat pimpinan MUI yang diadakan tiga bulan lalu, telah disepakati, bahwa MUI tidak akan bekerjasama dengan Pemerintah Syiah Iran, kecuali dalam hal ekonomi dan keuangan syariah.

“Kerjasama tingkat dunia antara Sunni-Syiah itu sama halnya dengan bermimpi,” kata KH. Tengku Zulkarnain saat dijumpai Voa-Islam, usai diskusi tentang Kaum Sunni di Iran oleh Grand Imam Sunni Iran, Maulana Maulawi Madani.

Dalam diskusi tersebut, dari kalangan Sunni hadir antara lain: KH. Mahyidin Junaidi (MUI), Ustadz Rasmin Zaitun (Wahdah Islamiyah), Ustadz Fariq Uqbah (Al Islam), Ustadz Ahmad Satori (IKADI), KH. Hamdan Rasyid (Ketua MUI DKI), KH. Syaifudin Amsir (Syuriah PP PBNU), KH. Muhammad Al Khaththath (FUI), Anwar Abas (Muhammdiyah), KH. Tengku Zulkarnain (MUI).

Sedangkan, dari kalangan Syiah dihadiri oleh: Umar Syihab (MUI), Dr.Mahmoud Farazandeh (Dubes Republik Islam Iran), dan beberama tokoh Syiah lainnya.

Saat diskusi, KH. Tengku Zulkarnain yang juga Wakil Ketua Komisi Fatwa Mathlaul Anwar , mempertanyakan kenapa di Irak tidak ada dari kalangan Sunni yang menjadi Menteri maupun gubernur. Sedangkan di Indonesia, kaum Syiah bisa menjadi Menteri.

Soal kenapa Syiah mencaci maki sahabat Nabi, tak terkecuali istri Nabi (Aisyah)? Lalu dengan diplomatis, ulama Syiah itu mengatakan, mereka adalah pengikut Syiah yang bodoh. 

“Jika begitu, berarti  Jalaluddin Rahmat alias Kang Jalal itu bodoh, karena telah membuat puisi berjudul Fatimah dalam bukunya, yang menyebut sahabat Nabi Abu Bakar Shiddiq sebagai perampas. Khalifah Abu Bakar juga disebut telah merampas Ali. Jadi orang Syiah yang mencela sahabat Nabi itu bodoh,” kata Tengku.

Terkait nikah mut’ah, madzhab Syiah terang-terangan telah membolehkan. Dari sini sudah jelas, tidak mungkin mempersatukan antara Sunni-Syiah, karena dari awal sudah berbeda, terutama dalam hal-hal pokok agama (ikhtilaf usul). Jadi sekali lagi, mimpi jika menyatukan Sunni-Syiah. “Jika orang Syiah anggap Sunni itu sesat, maka begitu juga Sunni menilai Syiah itu sesat. Jadi kesimpulannya dalam pertemuan tersebut, biarlah Sunni-Syiah jalan masing-masing. Hubungan Sunni-Syiah hanya sebatas wawasan pemikiran dan politik, bukan madzhab.”

MUI sendiri telah mengimbau kepada umat Islam agar mewaspadai gerakan Syiah di Indonesia. Ketika ditanya, bagaimana dengan Umar Syihab yang dituding sebagai Syi’i? Tengku Zulkarnain mengatakan, kita sudah tanya pada saudara Umar Syihab tentang apakah anda seorang Syiah? Tapi tetap saja Umar Syihab tidak pernah mau mengakui dirinya sebagai Syi’i. “Asal tahu saja, diskusi ini, sesungguhnya adalah atas prakarsa Umar Syihab,” kata KH. Tengku. (Desastian)


latestnews

View Full Version