View Full Version
Senin, 14 May 2012

Kebebasan Bela Maksiat akan Dihadapi oleh Kebebasan Basmi Maksiat

JAKARTA (VoA-Islam) – Kaum pengasong liberal dan simpatisannya kini giat menebar slogan dan jargon kekerasan atas nama agama. Mereka berdalih, atas nama perdamaian, atas nama cinta, dan atas nama toleransi, bahkan atas nama Islam, berkontribusi membiarkan dan turut terlibat dalam menebarkan kemungkaran, kemaksiatan, serta kebobrokan di muka bumi ini.

“Sudah sunnatullah, kebebasan akan dihadapi dengan kebebasan yang lain. Kekebasan bermaksiat akan dihadapi oleh kebebasan oleh kelompok Islam yang lain seperti FPI yang akan membebaskan kemaksiatan tumbuh sumbur di negeri ini. Dengan kata lain, akan selalu ada kelompok masyarakat yang juga anti maksiat. Padahal kebebasan itu tidak mutlak,” kata Wasekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Ustadz Fahmi Salim kepada Voa-Islam.

Fahmi Salim menegaskan, bahwa tidak bisa dikatakan, kelompok masyarakat yang selama ini meluruskan praktek-praktek kemaksiatan dikatakan sebagai bentuk  kekerasan. Gerakan amar maruf nahi mungkar tidak harus menggunakan fisik dan berbuat anarkis. Pejuang amar maruf nahi mungkar hendaknya terus-menerus melakukan tekanan, baik melalui penggalangan opini di media massa maupun penyadaran ditengah masyararakat, seperti pengajian-pengajian ditengah masyarakat, agar mereka sadar.

Menurut Fahmi, gerakan penolakan kelompok Islam terhadap kemaksiatan, penolakan atas kedatangan Irshad Manji atau Lady Gaga, tidak bisa dikatakan sebagai bentuk kekerasan. Kekerasan jangan hanya ditolak dari sisi fisik. Kekerasan juga jangan dilihat dari sisi pelarangan dan pembokitan, pemukulan fisik dan sebagainya. Kekerasan bisa juga dalam sudut pandang, ide dan pemikiran, atau kekerasan ekstriminitas dalam hal pemikiran.

“Masalahnya, Irshad Manji membawa pemikiran-pemikiran yang menusuk perasaan umat Islam, menohok ajaran dan syariat Islam, menghujat Nabi, Al-Qur’an dan sebagainya. Saya punya bukti, buku yang ditulis Manji berjudul Beriman tanpa Rasa Takut. Ide pemikiran Manji ini juga bisa dikatakan kekerasan, walau ia kerap mengatasnamakan kesantunan dan cinta, bahkan atas nama Allah. Tidak benar itu,” kata Fahmi. Desastian


latestnews

View Full Version