View Full Version
Senin, 06 Aug 2012

Tantangan Da'i Pedalaman: Diancam Santet dan Tak AdaTransportasi

SOLO (voa-islam.com) – Dewan Da’wah Islamiyyah Indonesia (DDII) menggelar "Road Show Peduli Dakwah Pedalaman Nusantara" dengan rangkaian acaranya yaitu menghadirkan para juru dakwah (da’i) DDII yang di kirim ke seluruh pelosok nusantara.

Dari Road Show tersebut, da’i-da’i yang bertugas di pedalaman nusantara tampak memikul tanggung jawab besar, amanah dan tantangan yang tak mudah. Belum lagi halangan, rintangan dan ancaman dalam berdakwah kedalam pelosok negeri yang mana desa tersebut dihuni masyarakat mayoritas non muslim.

Menurut penuturan ustadz Triartoro, salah seorang da’i yang bertugas seorang diri di pedalaman Pulau Nias Sumatra Utara ini, bahwa  sejak tahun 1935 hingga kini belum ada masjid yang didirikan. Ironisnya, letak rumah kaum muslimin satu dengan kaum muslimin desa lainnya antara 7 hingga 12 kilometer. Bahkan, dalam satu desa terkadang hanya ada satu orang muslim saja.

“Jarak desa itu berjauhan, 7 hingga 12 kilometer, sehingga kalau kami hendak melaksanakan shalat Jum’at juga pengajian TPA, saya harus jemput satu persatu untuk shalat berjama’ah di rumah salah satu warga. Padahal ada 12 desa, itu pun dengan motor pinjaman dan sekarang sudah diminta kembali oleh pemiliknya,” tutur ustadz Tri saat mengisahkan pengalamannya dalam kajian Jum’at Pagi (27/7/2012), dimasjid Fauziah Al Mukmin Ngruki Sukoharjo.

Beliau menambahkan, tak jarang bila ada orang seberang yang masuk dan menetap di Pulau Nias diancam akan diguna-guna atau santet. Apalagi, jika yang masuk adalah orang Islam. Hal ini pernah dialami langsung oleh ustadz Tri pada saat memfoto copy sebuah makalah pengajian TPA yang akan dibagikan kepada santri dan masyarakat muslim.

Perlu diketahui, bahwa mayoritas penduduk Pulau Nias mayoritas adalah Kristen fanatik. Bahkan binatang-binatang yang halal seperti ayam, kambing dan yang lainnya tidak ada sama sekali. Hal inilah yang mendorong beliau untuk mencanangkan tebar makanan halal dan ternak binatang halal (ayam, kambing dan sapi) di Pulau Nias.

Ustadz Aris Munandar Al-Fattah, Lc. selaku pengurus DDII Jawa Tengah menuturkan bahwa pengiriman da’i kepelosok Nusantara telah dilakukan sejak kepemimpinan KH. Mohammad Natsir.

Ustadz Aris menjelaskan sebetulnya banyak sekali program yang dilakukan DDII, misalnya “Da’i Ku Datang Desaku Terang,” yaitu salah satu program listrik untuk pedalaman yang di pelopori para da’i DDII.

Ia juga membenarkan bahwa perlu adanya dukungan masyarakat khususnya umat Islam dalam pelaksanaan dakwah di pedalaman. Diantara kendala utama para da’i di pedalaman adalah sarana transportasi.

“Transportasi adalah keperluan pokok, karena biasanya jarak desa satu dengan yang lainnya sangat jauh. Dan untuk mendirikan sholat, da’i harus menjemput dari desa kedesa begitupun saat TPA”, ujarnya.

Untuk itu bagi kaum muslimin yang berkeinginan membantu dakwah para da’i DDII yang ada dipedalaman Nusantara bisa menyalurkannya melalui LAZIS Dewan Dakwah Jawa Tengah di Jl. Pabelan Baru I, No. 77 Pabelan Kartasura Solo Jawa Tengah 57162 dengan menghubungi Habib Ismail, SE. Manager IDC & LAZIS DDII Jawa Tengah dengan nomor 081 329 333 094 / 087734 893 978 atau kantor DDII yang terdekat dikota Anda. [asg/Kru FAI]


latestnews

View Full Version