View Full Version
Rabu, 15 Jan 2014

Jokowi Seperti SBY Awali Pemerintahan Dengan Berbagai Musibah

JAKARTA (voa-islam.com) - Masih ingat menjelang malam tahun baru 2014? Kemeriahan. Kembang api. Petasan. Pesta menyambut malam tahun baru. Semalam suntuk. Hotel-hotel penuh   dengan pengunjung dan pesta menyambut tahun baru.

Semua orang bergembira dengan datangnya tahun baru 2014. Laki-perempuan, tua-muda, tumplek memenuhi tempat-tempat keramaian yang menjadi pusat menyambut datangnya pergantian tahun baru. Belum lagi mereka yang menggunakan kenderaan berkeliling ke setiap sudut kota.

Gubernur DKI Jakarta Jokowi diarak dari Balaikota, Monas, sampai Bunderan HI, ikut menyanyi bersama dengan Oma Irama. Jokowi membangun panggung  di Monas, sepanjang Jalan Thamrin dan Sudirman. Begitu meriahnya. Rakyat dari berbagai pelosok Jakarta, pergi ke tempat hiburan  yang sudah disediakan oleh Jokowi. Rakyat berpesta. Tak ada kesedihan. Semua mereka tertawa. Optimis menyambut 2014.

Begitulah Jokowi. Begitulah rakyat DKI Jakarta. Cara mereka menyambut tahun baru. Dengan hura-hura. Pesta kembang api. Membakar petasan. Bernyanyi di hotel-hotel dengan para penyanyi.  Hilir mudik dengan kenderaan. Semalam suntuk. Apalagi di Ancol. Begitu luar biasanya antusiasme rakyat bergembira dengan berbagai atraksi mereka lakukan.

Namun, segala kegembiraan pupus, saat rakyat bangun pagi, saat matahari terbit, dan tahun sudah berganti menjadi 2014. Bukan lagi kegembiraan membersit di wajah mereka. Rakyat menjadi muram. Menghadapi kehidupan mereka. Seperti pupus semua optimisme saat menghadapi kehidupan di awal tahun 2014.

Pagi-pagi rakyat sudah dihentak dengan kenaikan harga Elpiji. Harga Elpiji 12 kg dari Rp 85 ribu rupiah, berubah menjadi Rp 140 ribu rupiah. Harga-harga kebutuhan pokok melonjak. Rakyat tidak pernah mengerti semua itu. Mengapa hidup mereka tidak menjadi lebih baik, dan harga-harga kebutuhan pokok menjadi lebih murah?

Sekarang rakyat di DKI Jakarta kembali menghadapi musibah banjir. Ribuan rakyat di DKI Jakarta mengungsi di tempat-tempat yang lebih aman. Sedih. Kemeriahan dan kegembiraan di pesta menyambut tahun baru bersama dengan Jokowi, tak bersisa lagi. Ribuan rumah terendam banjir. Tanpa bisa menghindar dari banjir. Rakyat pasrah dengan wajah pias. Menghadapi banjir.

Tertawa, kegembiraan, pesta kembang api, petasan, terompet, joget dangdut, dan segala  bentuk kemeriahan, tak ada artinya lagi. Di mana-mana hanyalah kemurungan. Sekarang, Pemprov DKI Jakarta, mengeluarkan anggaran Rp 20 miliar ingin menghentikan atau mengalihkan hujan. Semuanya hanya kesia-siaan belaka.

Adakah ini sudah cukup menjadi pelajaran? Kemeriahan, kegembiraan, pesta kembang api, petasan, dan segala bentuk hura-hura, segalanya berakhir. Adakah ini menjadi pelajaran bagi Jokowi dan rakyat DKI Jakarta. Bukan kemeriahan dengan berbagai bentuk kemaksiatan. Mestinya terus meningkatkan rasa syukur kepada Sang Pencipta, Rabbul Alamin.

Di mana-mana musibah. Banjir, gunung meletus, kecelakaan, mati dengan sia-sia, di Mojokerto, puluhan anak muda, mati karena minum minuman keras (cukrik). Semua terjadi di penghujung di tahun 2014. Ambillah pelajaran dari semua peristiwa ini, dan hikmahnya. Tidak lagi melakukan hal-hal yang sia-sia dan melampui batas.

Tahun sebelumnya, Jakarta telah tenggelam, banjir sampai ke Istana Negara, Bunderan HI, yang pernah menjadi ajang pesta pora terendam banjir. Sungguh pelajaran yang sangat berharga. Nasib Jokowi seperti SBY yang mengawali pemerintahan dengan musibah.

Saat SBY berkuasa, Desember 2004, terjadi tsunami di Aceh, dan meluluhlantakan kota Banda Aceh. Akibat sejumlah orang melakukan pesta Natal di pantai Banda Aceh.

Sekarang, di Banda Aceh, tak ada pesta kembang api, terompet, pawai kenderaan keliling kota menyambut natal dan tahun baru. Semuanya dilarang oleh ulama dan pemerintah kota. Malam tahun baru 2014, di Banda Aceh sepi, tentram, dan bangun pagi dengan indah. af/hh


latestnews

View Full Version