View Full Version
Ahad, 03 Jul 2016

Tahun Lalu Masjid di Tolikara Dibakar, Humanika: Waspadai Gangguan Intoleransi di Hari Idul Fitri

JAKARTA (voa-islam.com)—Ada yang terlewatkan dari perhatian aparat keamanan dalam persiapan pengamanan menghadapi perayaan hari raya Idul Fitri 2016/1437 H. Ancaman gangguan intoleransi tidak menjadi salah satu fokus perhatian aparat.

Pernyataan ini disampaikan Sya’roni, Sekretaris Jenderal Himpunan Masyarakat untuk Kemanusiaan dan Keadilan (Humanika). Sya’roni mengungkapkan indikasi itu.

“Dalam sambutannya pada saat memimpin apel gelar pasukan operasi Ramadniya 2016 yang digelar di Lapangan Ditlantas Polda Metro Jaya, Kamis (30/6/2016), Kapolri Badrodin Haiti sama sekali tidak menyinggung masalah ancaman yang berbau intoleransi,” tulis Sya’roni dalam rilis yang diterima Voa-Islam baru-baru ini.

Sya’roni kemudian menyebut kasus intoleransi setahun yang lalu yang terjadi di Tolikara, Papupa. Dimana pelaksanaan shalat Idul Fitri di Tolikara dibubarkan oleh massa dari Gereja Injili di Indonesia (Gidi). Bahkan masjid tempat pelaksanaan shalat Idul Fitri dibakar massa.

“Peristiwa tersebut bisa terjadi karena aparat gagal melakukan antisipasi. Oleh karena itu, diharapkan insiden Tolikara dapat dijadikan pelajaran penting agar peristiwa serupa tidak terulang kembali,” tegas Sya’roni.

Sya’roni menegaskan, aparat keamanan sudah seharusnya memasukkan ancaman intoleransi sebagai salah satu prioritas pengamanan. Presiden Jokowi juga harus memberi perhatian terhadap adanya gangguan yang berbau intoleransi.

“Karena hanya di era Jokowi lah telah terjadi peristiwa pembubaran shalat Idul Fitri yang diikuti pembakaran masjid. Kasus tersebut selamanya akan tercetak sebagai noda hitam dalam sejarah kepemimpinan Jokowi,” ujar Sya’roni.

Sya’roni pada akhir rilisnya melanjutkan, “Oleh karena itu presiden Jokowi harus menginstruksikan kepada aparat terkait untuk memberikan perhatian khusus terhadap adanya potensi gangguan intoleransi. Kalau perlu Presiden Jokowi melaksanakan sholat Idul Fitri di daerah yang dianggap rawan terjadinya gangguan intoleransi.” * [Syaf/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version