View Full Version
Kamis, 05 Jul 2018

Wapres JK Imbau Multaqa Ulama Tekankan Realisasi Pertemuan

JAKARTA (voa-islam.com), Wakil Presiden (Wapres) RI H. Muhammad Yusuf Kalla membuka secara resmi Forum Ilmiah Internasional ke 5 Ulama dan Dai se-Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa. Dalam sambutannya, JK memberi apresiasi atas segala upaya para ulama dalam berkontribusi memperkuat kesatuan dan persatuan umat.

Namun, Wapres juga mengingatkan bahwa menyelenggarakan forum-forum saja tidaklah cukup. Tetapi harus dibarengi dengan kerja keras.

"Beberapa waktu yang lalu, beberapa ulama dari Indonesia, Pakistan dan Afghanistan juga melakukan pertemuan dan melaksanakan dialog trilateral Jakarta, tapi kita masih menunggu realisasinya," kata JK di Hotel Grand Cempaka, Jakarta, Selasa lalu (3/7/2018)

Apalagi, lanjut JK, Forum ini sudah pertemuan yang ke-5, berarti sudah banyak gagasan dan pikiran yang dibicarakan. Perkembangan dakwah sudah cukup semarak,  diantaranya terlihat masjid-masjid ramai dikunjungi, wanita muslimah semakin banyak yang menutup aurat, Namun, umat Islam masih harus terus bekerja keras untuk meningkatkan ekonomi bangsa.

"Kita prihatin melihat berbagai kondisi konflik yang terjadi di beberapa negara. Maka harus mengambil peran. Suriah yang sudah hancur itu membutuhkan waktu berpuluh puluh tahun untuk merekonstruksinya kembali. Mungkin tidak cukup tiga puluh sampai empat puluh tahun,"ungkap Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) itu.

Demikian juga, katanya lagi, kedamaian saja tidak cukup melainkan harus dimanfaatkan untuk mewujudkan berbagai kemajuan. Islam masuk ke Indonesia lewat banyak ulama yang pedagang, Indonesia negeri dengan mayoritas penduduknya muslim. Tapi peninggalan sejarah atau destinasi wisata yang paling banyak dikunjungi justru tidak mencerminkan Islam, seperti Candi Borobudur, Bali,  dan lain lain.

"Sebaliknya, di India, justru peninggalan sejarah dan destinasi wisata yang dikunjungi malah peninggalan Islam seperti Taj Mahal," ujarnya.

Menurut JK, Indonesia telah berusaha mewujudkan perdamaian di beberapa negara seperti di Myanmar, Afghanistan dan beberapa tempat lain. Pertemuan seperti ini perlu jadi sarana belajar berbagai penyebab konflik di beberapa negara agar Indonesia mampu  mengantisipasinya dan berkontribusi memberi solusinya.

"Kita juga tidak dapat menampik fakta bahwa konflik-konflik di negeri muslim itu tidak lepas dari campur tangan dan intervensi kepentingan negara negara Barat," tuturnya. (bil/voa-islam)


latestnews

View Full Version