

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah, keluarga dan para sahabatnya.
Al-Qur’an bukan sekadar untuk dibaca dan dihafal. Tetapi, Al-Qur’an adalah petunjuk yang harus menerangi hati, membenahi keyakinan, dan mengarahkan amal. Jangan sampai kita dekat dengan wahyu, tetapi tidak memperoleh manfaat darinya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan dua perumpamaan tentang orang-orang munafik dalam Surah Al-Baqarah ayat 17–20. Melalui kedua perumpamaan ini, Ibnul Qayyim rahimahullahmenjelaskan keadaan orang-orang yang tidak memperoleh manfaat dari cahaya wahyu sebagaimana mestinya.
Dalam kitabnya yang berjudul I’lam al-Muwaqqi’in, beliau menerangkan bahwa Allah mengumpamakan orang-orang munafik dengan seseorang yang menyalakan api, lalu api itu menerangi sekelilingnya. Namun, Allah kemudian melenyapkan cahaya mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan sehingga tidak dapat melihat.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ
“Perumpamaan mereka seperti orang yang menyalakan api. Setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya yang menyinari mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan sehingga mereka tidak dapat melihat.” (QS. Al-Baqarah: 17).
Menurut Ibnul Qayyim, perumpamaan ini menggambarkan orang-orang munafik yang sempat memperoleh manfaat lahiriah dari Islam. Mereka masuk Islam, bergaul dengan kaum Muslimin, dan menikmati penerangan yang dibawa Islam. Namun, mereka tidak memiliki keimanan yang kokoh di dalam hati. Akibatnya, cahaya itu pun hilang dari mereka.
Allah tidak mengatakan bahwa Dia melenyapkan api mereka, tetapi melenyapkan cahaya mereka. Sebab, api mengandung dua unsur: penerangan dan pembakaran. Penerangannya hilang, sedangkan unsur pembakarannya tetap ada.
Demikianlah gambaran orang yang sebelumnya mengetahui kebenaran, tetapi kemudian mengingkarinya; sebelumnya melihat petunjuk, tetapi kemudian berpaling darinya. Ia kehilangan cahaya yang semestinya membimbingnya.
Ketika hati merasa berat menerima petunjuk
Perumpamaan kedua, yaitu hujan lebat yang disertai kegelapan, guruh, dan kilat. Orang yang berada dalam keadaan demikian digambarkan menutup telinganya karena takut terhadap sambaran petir.
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa perumpamaan ini menggambarkan orang-orang yang merasa berat menghadapi perintah, larangan, ancaman, dan peringatan yang terkandung dalam wahyu. Alih-alih menerima petunjuk, mereka justru berusaha menghindarinya.
Allah berfirman:
اَوْ كَصَيِّبٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ فِيْهِ ظُلُمٰتٌ وَّرَعْدٌ وَّبَرْقٌ ۚ يَجْعَلُوْنَ اَصَابِعَهُمْ فِيْٓ اٰذَانِهِمْ مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ ۗ وَاللّٰهُ مُحِيْطٌۢ بِالْكٰفِرِيْنَ
“Atau seperti orang yang ditimpa hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan, guruh, dan kilAtau, seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit yang disertai berbagai kegelapan, petir, dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya (untuk menghindari) suara petir itu karena takut mati. Allah meliputi orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 19).
Pelajaran penting dari perumpamaan ini ialah bahwa tidak semua orang yang mendengar ayat-ayat Allah akan mengambil manfaat darinya. Ada orang yang mendengar perintah Allah, tetapi enggan menaatinya. Ada yang mendengar larangan-Nya, tetapi berat meninggalkan sesuatu yang disukainya. Ada pula yang ketika diingatkan dengan ayat dan hadits, justru merasa tidak nyaman karena petunjuk tersebut bertentangan dengan keinginan atau keyakinan yang diwarisi dari nenek moyang.
Padahal, seharusnya seorang mukmin menyambut wahyu dengan ketundukan, bukan dengan keengganan untuk menerima kebenaran.
Jangan hanya dekat dengan Al-Qur’an
Dua perumpamaan tersebut semestinya menjadi bahan introspeksi bagi setiap Muslim. Jangan sampai kita merasa aman hanya karena telah membaca Al-Qur’an, menghafal sejumlah ayat, menghadiri majelis ilmu, atau dikenal sebagai orang yang dekat dengan agama.
Semua itu merupakan kebaikan, tetapi tujuan diturunkannya wahyu bukan sekadar agar dibaca dan didengar. Wahyu diturunkan untuk menjadi petunjuk yang membimbing manusia kepada kebenaran.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus.” (QS. Al-Isra’: 9)
Karena itu, pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri bukan hanya, Sudah berapa banyak ayat yang kita baca? Namun, Sudah sejauh mana ayat-ayat itu mengubah diri kita?
Apakah bacaan Al-Qur’an menjadikan kita lebih taat kepada Allah? Apakah ilmu agama membuat kita lebih rendah hati dan takut berbuat dosa? Apakah nasihat yang kita dengar mendorong kita meninggalkan maksiat? Apakah ketika dalil bertentangan dengan keinginan pribadi, kita bersedia tunduk kepada kebenaran?
Jika belum, jangan buru-buru merasa puas. Bisa jadi kita telah banyak berinteraksi dengan wahyu, tetapi belum memberikan haknya berupa keimanan, ketundukan, dan pengamalan.
Tentu saja, kekurangan dalam mengamalkan ilmu tidak serta-merta menjadikan seseorang munafik. Namun, sikap berpaling dari kebenaran dan enggan tunduk kepada wahyu merupakan perkara serius yang harus diwaspadai setiap mukmin.
Penutup: jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup
Seorang mukmin hendaknya senantiasa memohon kepada Allah agar hatinya diberi cahaya petunjuk, diteguhkan di atas iman, dan dijauhkan dari sifat berpaling ketika kebenaran datang.
Jangan sampai Al-Qur’an hanya berhenti di lisan, sementara hati tetap dikuasai kesombongan, dan perilaku tidak mencerminkan petunjuknya. Jangan sampai kita mengetahui kebenaran, tetapi enggan mengikutinya hanya karena bertentangan dengan hawa nafsu.
Mari kita jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup: membacanya dengan benar, memahami maknanya, menerima petunjuknya, dan berusaha mengamalkannya sesuai kemampuan.
Sebab, keberuntungan yang sesungguhnya bukan sekadar berada di tengah cahaya wahyu, melainkan memperoleh manfaat dari cahaya tersebut hingga ia membimbing kita menuju keridaan Allah.
Semoga Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya bagi hati kita, petunjuk dalam kehidupan kita, dan sebab keselamatan kita di dunia dan akhirat. Amin. [PurWD/voa-islam.com]