View Full Version
Sabtu, 10 Sep 2011

Antara Revolusioner Libia dan Entitas Zionis Israel



(image; voaislam)


Yasin Izzuddin

Di tengah-tengah revolusi Arab, ada kelompok parasit yang menyatakan sebagai kelompok revolusi namun pada saat yang sama mengandalkan sumber kekuatan dari Amerika dan barat. Dalam beberapa kesempatan parasit itu sering mengeluarkan statemen menjelekkan revolusi Arab dan mendukung revolusi tandingan.

Kebanyakan mereka dari kalangan “neo qadariyah dan jabariyah” yang mengimani bahwa kemampuan kami tergantung kemauan Amerika sebab Allah tidak berkehendak kecuali jika Amerika berkehendak. (Mahasuci Allah dari prasangka mereka). Cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada ‘tuhan Amerika’ adalah dengan menyenangkan Israel.

Harian Israel Haaretz dalam salah satu wawancara dengan salah satu parasit revolusi ini Ahmad Shabani yang dikenal sebagai jubir kelompok revolusi. Ia menyatakan berjanji menghentikan penyelundupan senjata ke Jalur Gaza , mendukung gagasan dua negara Palestina – Israel dan statemen lain untuk mencari simpati dari Israel dan barat.

Sikap seperti ini muncul sebagai respon atas sikap Arab yang berlepas diri dari langkah salah yang diambil elit politik bangsa Palestina. Revolusi Libia memang mendapatkan dukungan besar. Namun bangsa Palestina terasa berat mendukungnya. Misalnya di awal-awal revolusi, Hamas mendukung revolusi ini dan mengeluarkan pernyataan mengecam kejahatan rezim Qadafi. Namun dari kelompok Fatah Dahlan justru orang dekat Dahlan, Muhammad Rasyid menyatakan dirinya bekerja sebagai penasehat media bagi Saiful Qadafi dan dia berusaha untuk membebaskan seorang zionis di Libia yang tertangkap.

Ini pemahaman tentang kepentingan dunia yang jauh dari kebenaran. Mereka bekerja di belakang Sadat, Mubarak, Zainul Abidin yang membuang kepentingan nasional dan mengingat nasib mereka dengan sikap menarik simpati Amerika dan Israel.

Meski ini hanya kelompok marginal di kalangan revolusioner, namun Majlis Transisi Nasional harus memiliki sikap jelas. Minimal menegaskan mereka hanya mewakili diri sendiri dan tidak mewakili revolusi Libia.

Ada beberapa kenapa demikian:

Pertama, Israel berusaha memetik statemen dari parasit ini untuk mengganti perasaan kekurangan mereka sebagai entitas ilegal.

Kedua, statemen ini - belakangan Israel termasuk salah satu pihak yang menyuplai senjata kepada Muammar Qadafi – memberikan pesan seakan kaum revolusi Libia berhutang kepada barat dan ingin membayarnya dengan statemen dan sikap di atas. Harus disadari semua pihak bahwa revolusi Libia tidak berhutang kepada siapapun. Meskipun barat memberikan dukungan kepada revolusi Libia karena untuk membayar hutang masa lalu yang pernah mendukung Qadafi.

Ketiga, statemen di atas, termasuk kunjungan filsuf Perancis Bernar Leivi Labangazi membenarkan adanya teori konspirasi yang disebarkan untuk membuat revolusi Arab tandingan sekarang ini. Statemen di atas seakan ingin mengatakan, bahwa revolusi itu adalah produk Mossad. Dibuktikan lagi dengan statemen sebagian pemuda revolusi bahwa dan laporan Yediot Aharonot mengutip statemen parasit revolusi bahwa mereka akan membuka kedutaan Israel di Libia pasca revolusi.

Keempat, penganut dan promotor normalisasi dengan Israel menjadikan statemen di atas sebagai dasar pembenar atas apa yang mereka lakukan. Beberapa hari lalu kita dengar presiden Sudan Selatan Silva Ker yang menegaskan negaranya akan membuka kedubes Israel meniru negara-negara Arab yang memiliki hubungan diplomasi dengan Israel. (bsyr)


latestnews

View Full Version