View Full Version
Rabu, 07 Mar 2012

Kerap Mengatasnamakan Islam, JIL Sebaiknya Buat Agama Baru

JAKARTA (VoA-Islam) – Jaringan Islam Liberal (JIL) atau tepatnya Jaringan Iblis Laknatullah sejauh ini kerap keluar dari mainstream ajaran Islam. Pemikirannya yang nyeleneh, membuat umat Islam marah besar, dan menghendaki agar JIL dibubarkan. Lebih dari itu, JIL sebaiknya membuat agama baru, seperti halnya Ahmadiyah. JIL seharusnya tidak mengatasnamakan Islam!

Meski MUI pada 2005 telah mengeluarkan fatwa bahwa faham pluralisme, liberalisme dan sekularisme itu haram, namun kaum fasik JIL tetap saja bergeming, dan istiqamah dengan kesesatannya.

Sudah menjadi rahasia umum, jika selama ini, pemahaman aktivis JIL sangat berseberangan dengan mainstream yang dianut ulama dan umat Islam Indonesia. Selain berpikiran nyeleneh dan ngawur, mereka sering menentang keras fatwa yang telah dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Salah satunya adalah terkait fatwa sesat Ahmadiyah. Di saat yang sama, MUI juga mengeluarkan fatwa haramnya paham pluralisme, liberalisme dan sekularisme.

Fatwa itu jelas saja membuat kaum fasik liberal blingsatan. Mereka bereaksi dengan menggalang berbagai pertemuan dan diskusi, mengundang para tokoh lintas agama, seperti Gus Dur dan para pengasong liberal lainnya. Para gerombolan sesat menyesatkan itu lantas menghujat fatwa MUI itu tidak berdasar. Bahkan Ulil Abshar Abdalla dengan kasarnya, menyebut Fatwa MUI tersebut sebagai hal yang tolol.

JIL Merasahkan Umat

Selama 11 tahun berkiprah, gerakan JIL sangat meresahkan masyarakat, terutama umat Islam. Itu disebabkan mereka menebarkan pemikiran-pemikiran sesat yang membuat rancu pemahaman agama umat Islam.

Menurut Direktur Eksekutif INSIST Adnin Armas, aktivis JIL adalah orang-orang Islam yang terbaratkan. Mereka menggunakan ayat-ayat al-Qur’an dengan paradigm Barat. “Dalam kancah ghazwul fikri saat ini, perkembangan Indonsia cukup dahsyat. Yang dilakukan JIL selama ini adalah menggerogoti nilai-nilai dasar Islam,” tandasnya.

Para aktivis JIL, kata Adnin, sudah mencampuradukkan antara yang hak dan batil, bukan lagi sekadar perbedaan pendapat sebagaimana mereka klaim. Karena mereka sudah menghujat al-Qur’an, mengkritik Rasulullah Saw dan menganggap semua agama sama. (Desastian)


latestnews

View Full Version