View Full Version
Kamis, 10 Apr 2014

Beranikah Partai-partai Islam Membentuk Blok Islam?

JAKARTA (voa-islam.com) - Januari 2014 koran Katolik Kompas seperti sudah menjatuhkan pisau 'guillotine' ke leher Partai-partai Islam atau berbasis massa Islam, bahwa tidak ada satupun yang bisa lolos parlemen threshold (3,5 persen). Rata-rata Partai Islam atau berbasis massa Islam itu menurut survei Litbang Kompas, dibawah 3 persen. Kecuali PKB yang masih lolos threshold dengan suara diatas 5 persen.

Hampir semua lembaga survei tak ada yang simpati kepada Partai-partai Islam atau berbasis massa Islam, termasuk lembaga CSIS, yang dilahirkan oleh tokoh-tokoh Katolik, seperti Hary Tjan Silalahi dan Pater Beek, memberikan hasil suvei Partai-partai Islam, tidak ada yang lolos parlemen threshold.

Memang, mereka menginginkan pasca pemilu 2014, sudah tidak ada lagi Partai-partai Islam atau berbasis massa Islam. Golongan Kristen, sekuler, dan liberal menginginkan jagad politik Indonesia hanya didominasi kalangan Kristen yang sudah menyusup ke partai-partai sekuler, termasuk Syiah, dan menggilas Muslim Indonesia.

Memang, pemilu sejak awal reformasi suara-suara partai-partai Islam mengalami pasang surut. Seperti ketika berlangsung pemilu tahun 2004, harapan Muslim terhadap Partai-partai Islam cukup tinggi, ini terbukti dengan total jumlah perolehan suara Partai-partai Islam dan berbasis massa Islam itu, totalnya mencapai 38,35 persen. PKB mendapatkan 10,57 persen, PPP mendapatkan suara 8,15 persen, PKS mendapatkan 7,34 persen, PAN mendapatkan suara 6,44 persen, PBB mendapatkan suara 2,62 persen, PBR mendapatkan suara 2,44 persen, PNU mendapatkan suara 0,79 persen.

Namun, ketika pemilu 2009, perolehan suara Partai-partai Islam atau berbasis massa Islam, kembali turun, ketika mereka masuk dalam 'koalisi' pemerintahan SBY, dan Partai Demokrat yang dipimpin SBY, masuk dalam kubangan lumpur korupsi. Partai-partai Islama di dalam pemerintahan SBY, hanyalah menjadi 'stempel' alais 'pak turut'. Tidak melakukan kontrol apapun, dan tidak berani melakukan oposisi terhadap kebijakan pemerintahan SBY yang tidak sesuai dengan kepentingan rakyat.

Korupsi itu berdampak terhadap Partai-partai Islam, sekalipun, tingkat kualitas dan kuantitas korupsi Partai-partai Islam itu, masih jauh dibandingkan dengan PDIP dan Golkar.

Hasil pemilu tahun 2009, Partai-partai Islam dan berbasis massa Islam, totalnya mencapai 29,3 persen. Turun hampir leibh 9 persen. Ini menjadi 'warning' bagi partai-partai Islam, agar memperbaiki kenerja partainya. Hasil pemilu Partai-partai Islam di tahun 2009, PKB mendapatkan suara 4,94 persen, PPP mendapatkan suara 5,32 persen, PKS mendapatkan suara 7,88 persen, PAN mendapatkan suara 6,01 persen, PBB mendapatkan suara 1,79 persen, PBR mendapatkan suara 1,21 persen, PKNU mendapatkan suara 1,47 persen, PMB mendapatkan suara 0,40 persen, PPNUI mendapatkan suara 0,14 persen, dan PS mendapatkan suara 0,14 persen.

Diantara faktor lainnya yang menyebabkan menurunnya perolehan suara dalam pemilu 2009, masing Partai-partai Islam itu, terlibat konflik diinternal mereka. Sehingga, membuat publik menjadi kehilangan kepercayaan mereka terhadap partai Islam.

Sekarang, pada pemilu 2014, suara Partai-partai Islam atau berbasis massa Islam, suaranya naik sedikit, yaitu totalnya mencapai 31,92 persen. Masih sangat jauh dibandingkan dengan partai-partai sekuler. Bila digabungkan suara-suara partai-partai sekuler jumlah bisa lebih dari 45 persen!

Suara Partai-partai Islam atau berbasis massa Islam, itu diantaranya, PKB kembali mendapatkan suara 9,57 persen, PPP mendapatkan suara 6,73 persen, PAN mendapatkan suara 7,45 persen, PBB mendapatkan suara 1,65. Bila digabungkan suara Partai-partai Islam itu jumlahnya sudah cukup mencalonkan calon presiden dari “Blok Partai Islam”.

Tetapi, apakah para pemimpin Partai-partai Islam itu, mereka memiliki keinginan menjad kekuatan politik Islam “Blok Islam” sendiri? Tidak lagi menjadikan Partai-partai Islam atau berbasis massa Islam, sekadar menjadi 'jongos' partai-partai sekuler?

Seperti nanti tidak menjadi 'jongos' nya PDIP dengan mengharapkan kemenangan dan kekuasaan. Di mana sekarang dengan manipulasi oleh media Kristen dan sekuler, yang menjagokan Jokowi, kemudian ramai-ramai Partai-partai Islam menjajakan dirinya mendukung Jokowi. Atau mungkin melakukan dukungan kepada ARB, dan Prabowo.

Seharusnya para pemimpin Partai-partai Islam sudah memiliki visi dan misi membangun Indonesia dngan nilai dan prinsip baru, yang bersumber dari prinsip dan nilai-nilai Islam. Partai sekuler seperti PDIP, Golkar, atau apapun partai namanya partai sekuler itu, semuanya sudah bangkrut, dan tidak membangun berhasil kehidupan bangsa dan negara, dan mereka hanya menciptakan 'disaster' alias bencana, sejak zaman Soekarno sampai SBY.

Mengapa para pemimpin Partai-partai Islam tidak bangkit memelopori gerakan perubahan yang berbasis dari prinsip dan nilai Islam? Meninggalkan sifat dan watak inferior (rendah) diri, dan menempatkan diri mereka menjadi 'jongos'  partai sekuler, yang jelas sudah bangkrut, dan membawa kehidupan yang penuh dengan kekacauan.Mengapa tidak berani mengambil langkah membentuk “Blok Islam”? (afgh).


latestnews

View Full Version