View Full Version
Kamis, 30 Jun 2016

Adakah Hubungannya Brexit dengan Kemiskinan Umat Islam di Indonesia dan Dunia?

JAKARTA (voa-islam.com)- Jika Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dengan "Teman Ahok"-nya mengumpulkan KTP untuk melenggang maju ke Pilkada Jakarta 2017 berbulan-bulan lamanya, dan banyak kisruh pula, berbeda dengan Brexit yang hanya cukup 2 bulan saja untuk mengumpulkannya. Demikian analogis, yang mungkin saja lucu dan nyentrik untuk menentukan sebuah keputusan dari orator ulung yang juga aktivis senior, Sri Bintang Pamungkas (SBP).

Berikut pandangannya mengenai Petisi Brexit: Dua Juta dalam Sehari. Tulisan ini adalah tulisan rutinnya yang dikeluarkan dalam bentuk rilis/siaran pers kepada publik dan juga awak media/wartawan.

"Perang saudara di Afganistan, Irak, lalu Libya, kemudian Syria dan terakhir Yaman, telah membunuh ratusan ribu jiwa penduduk yang mayoritas Muslim. Tidak bisa diingkari negara-negara Super Powers, yaitu AS, Inggris dan Prancis serta koalisi mereka terlibat dalam perang; bahkn meraka pula yang memulai perang!

Perang menjadi membesar dengan dalih melawan pasukan-pasukan Negara Islam Irak dan Syria/NIIS di Timur Tengah. Dengan alasan yang berbeda, Rusia dan Turki akirnya ikut juga berperang.

Sementara di negara-negara Afrika lain juga terjadi kesulitan ekonomi.

Akibat selanjutnya jutaan penduduk, mayoritas Muslim, menjadi pengungsi! Sebagian pengungsi menjadi ke negara-negara tetangga, sebagian lagi ke Eropa. Puluhn ribu tewas dalam pengungsian. Yang dari Libya ke Itali tenggelam di Laut Tengah; juga yang dar iTurki menyeberang ke Yunani.

Sesuai dengan hukum internasional mereka dengan terpaksa ditampung di beberapa negara Eropa; beberapa bahkan menolak dengan keras. Hanya Jerman yang menerima sampai lebih-kurang sejuta.

Tapi gelombang yang terus menerus datang dalam jumlah besar menimbulkan kepanikan pemimpin-pemimpin Eropa. Belum lagi penolakan dari kelompok anti imigran dan anti Islam di Eropa, adalah sebagai akibat Paris attack dan lain-lain oleh pejuang NIIS.

Pro dan kontra imigran ini memicu keinginan para oposisi Inggris untuk keluar dari Uni Eropa/UE; dikenal dengan Brexit. Brexit membawa banyak konsekwensi politik, ekonomi, keamanan dan pertahanan bagi Inggris dan UE. Sekalipun terlambat, Brexit dimaknai akan menimbulkan kesulitan bagi semua warga Inggris dan Eropa. Karena itu dalam rentang waktu 48 jam muncul petisi untuk mengulang referensum dengan dukungan 2.756.236 suara.

Petisi ini pasti ditolak dan Brexit tetap berjalan. Lain lagi di Jakarta; Ahok mencari dukungan 1 juta orang saja butuh waktu berbulan-bulan! Itu pun dengan jual-beli KTP!" Demikian tulisan SBP, tanggal 26 Juni 2016. (Robi/voa-islam.com)


latestnews

View Full Version